Tautan-tautan Akses

Isteri Dubes RI untuk AS Gagas 'Proyek Kartini bagi Kepemimpinan Ekonomi'


Isteri Duta Besar RI untuk AS, Rossa Rai Djalal (kanan), didampingi suaminya Dubes Dino Patti Djalal, memotong tumpeng dalam rangka peresmian Dewan Perempuan Indonesia-AS (The Indonesia-US Women's Council) di KBRI Washington DC 24/10 (foto: VOA/Vina Mubtadi).

Isteri Duta Besar RI untuk AS, Rossa Rai Djalal (kanan), didampingi suaminya Dubes Dino Patti Djalal, memotong tumpeng dalam rangka peresmian Dewan Perempuan Indonesia-AS (The Indonesia-US Women's Council) di KBRI Washington DC 24/10 (foto: VOA/Vina Mubtadi).

Mulai tahun depan, lebih banyak perempuan di Indonesia akan mendapat kesempatan untuk menerima pelatihan bisnis dari CEO dan akademisi perempuan Indonesia dan Amerika.

Program yang digagas Dewan Perempuan Indonesia-Amerika (The Indonesia-U.S. Women's Council) yang baru dibentuk itu merupakan salah satu upaya untuk memaksimalkan potensi perempuan, khususnya dalam bidang ekonomi.

Inisiatif yang diberi nama “Proyek Kartini bagi Kepemimpinan Ekonomi” itu akan dimulai bulan Januari 2014.

Pendiri dan Presiden Dewan Perempuan Indonesia-Amerika, Rossa Rai Djalal, akhir Oktober (24/10) di Washington DC mengatakan proyek kemitraan publik-swasta antara Indonesia dan Amerika itu akan menarget 5,000 perempuan di delapan provinsi dalam kurun lima tahun. Namun, Rossa mengatakan kepada VOA ia berharap dampaknya akan jauh lebih besar.

“Setiap orang dari 5.000 orang harus mementor dua wanita di bawahnya, di kampungnya, di daerahnya, sehingga sebelum 2019 akan ada 20.000 orang bahkan lebih.”

Isteri Duta Besar Indonesia untuk Amerika itu mengatakan ribuan perempuan yang akan dipilih melalui seleksi itu akan menerima pelatihan dan mentoring dari kalangan akademisi serta pebisnis perempuan sukses dari Indonesia dan Amerika. Topik bisnis yang akan diajarkan mencakup akuntansi, pemasaran, manajemen dan lain-lain.

“Kita ingin membantu orang yang tadinya tidak bank-able menjadi bank-able, yang tadinya tidak punya pekerja, jadi punya pekerja, yang tadinya usaha mikro kita tingkatkan menjadi small enterprise.”

Proyek ini diungkapkannya dalam peluncuran organisasi Dewan Perempuan Indonesia-Amerika di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC.

Selain bidang ekonomi, organisasi tersebut juga meluncurkan program pemberdayaan perempuan dalam bidang teknologi, politik, pendidikan dan kesehatan maternal.

Inisiatif ini mendapat sambutan baik dari Direktur Pelaksana Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati. Ia mengatakan, “Program yang dipilih juga sangat kritikal untuk memperbaiki kapasitas perempuan dalam ekonomi seperti entrepreneurship tapi juga di bidang kesehatan sangat kritikal untuk memelihara dan mendapatkan apa yang disebut situasi keluarga pada tahap yang awal untuk bisa menjadi baik.”

Dalam menjalankan program-programnya, Dewan Perempuan Indonesia-Amerika bekerja sama dengan pemerintah, sektor swasta, filantrofi, akademisi, dan LSM dari Indonesia dan Amerika.

Sekjen Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Danti Anwar, mengatakan kepada VOA pihaknya turut memberikan bantuan sumber daya.

“Kalau dengan kementrian kami tentu dari sisi networking. Pemerintah banyak bekerja sama dengan pihak lain, bagaimana memberikan kemudahan kepada council ini untuk melakukan jejaring kerja sama baik dengan pemerintah terkait, maupun dengan organisasi perempuan,” ujar Sri Danti.

Sementara, mantan Duta PBB untuk Tujuan Pembangunan Milenium di Asia Pasifik, Erna Witoelar mengatakan, perempuan Indonesia bisa mendapat banyak manfaat dari program pemberdayaan perempuan yang diusung Dewan Perempuan Indonesia-Amerika ini.

“Dalam politik misalnya, perempuan di Indonesia bisa mengambil manfaat dari cara-cara perempuan Amerika untuk memperoleh suara dan melalui sistem volunteer dan sosial media, juga dengan canvassing dan sebagainya. Ini sesuatu yang di Indonesia kurang dilakukan ibu-ibu, penggunaan media sosial,” kata Erna Witoelar.

Media sosial dan internet merupakan salah satu alat yang paling efektif bagi pemberdayaan perempuan, kata Wakil Presiden Facebook urusan Kebijakan Global, Marne Levine. Dia mengatakan lewat Internet, perempuan bisa memiliki akses ke informasi, pendidikan online, bisnis online, dan lain-lain.

“Ini merupakan platform yang sangat penting untuk menghubungkan orang dan berbagi, juga belajar dari satu sama lain dan platform ini bisa memberikan segala macam cara untuk menemukan hal-hal baru untuk berhubungan dengan orang lain untuk mengorganisir kesempatan sosial, politik dan ekonomi,” papar Levine.

Levine meyakini bahwa media sosial mempunyai potensi bisa mengubah kehidupan manusia, khususnya perempuan, menjadi lebih baik.
XS
SM
MD
LG