Tautan-tautan Akses

Partai Sayap Kanan Jerman: Islam Tak Selaras dengan Konstitusi


Para pendukung partai sayap kanan Jerman Alternative for Germany (AfD) berdemonstrasi di Berlin melawan kebijakan baru pemerintah mengenai migran, November 2015. (Reuters/Hannibal Hanschke)

Para pendukung partai sayap kanan Jerman Alternative for Germany (AfD) berdemonstrasi di Berlin melawan kebijakan baru pemerintah mengenai migran, November 2015. (Reuters/Hannibal Hanschke)

AfD memanfaatkan keresahan publik mengenai bagaimana Jerman mengatasi gelombang migran, di mana lebih dari satu juta orang tiba tahun lalu.

Partai anti-imigrasi Alternative for Germany (AfD) mengatakan hari Minggu (17/4) bahwa Islam tidak selaras dengan konstitusi Jerman dan mereka bersumpah akan menekankan larangan terhadap kubah masjid dan burka dalam kongres partai dua minggu lagi.

AfD mengalahkan Partai Kristen Demokrat Kanselir Angela Merkel di tiga pemilihan daerah bulan lalu, memanfaatkan keresahan publik mengenai bagaimana Jerman mengatasi gelombang migran, di mana lebih dari satu juta orang tiba tahun lalu.

"Islam sebagai ideologi politik tidak selaras dengan konstitusi. Kami mendukung larangan atas kubah masjid, azan dengan pengeras suara dan jilbab," ujar wakil pemimpin AfD, Beatrix von Storch, kepada surat kabar Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung.

Pihak konservatif di kubu Merkel juga telah menyerukan larangan efektif atas burka, dengan mengatakan bahwa penutupan seluruh tubuh oleh sejumlah perempuan Muslim seharusnya tidak dilakukan di depan publik. Namun mereka tidak mengatakan bahwa Islam tidak selaras dengan konstitusi Jerman.

Kebangkitan AfD, yang bersamaan dengan meningkatnya dukungan untuk partai-partai anti-imigran lainnya di Eropa, termasuk Front Nasional di Perancis, telah menggembosi konsensus sentris yang dibentuk oleh partai-partai arus utama di Jerman.

Bulan lalu, partai itu meraih 24 persen suara di negara bagian Saxony-Anhalt, melibas bahkan Sosial Demokrat (SPD), mitra koalisi Merkel di Berlin. AfD, didirikan tahun 2013, juga berkinerja bagus di dua negara bagian lain.

Kemunculan partai itu sendiri kontroversial. Wakil Kanselir Sigmar Gabriel, dari Sosial Demokrat, telah mengatakan sayap kanan Jerman, dipimpin oleh partai AfD, menggunakan bahasa yang mirip dengan Nazi Hitler.

Tuduhan semacam itu tidak membuat partai tersebut mengubah sikap anti-imigrasinya.

"Islam bukan agama seperti Katolik atau Kristen Protestan, tapi secara intelektual selalu diasosiasikan sebagai pengambilalihan negara," ujar Alexander Gauland, yang memimpin AfD di Brandenburg.

“Itu sebabnya mengapa Islamisasi Jerman berbahaya," ujarnya kepada Frankfurter Allgemeine Sonntagszeitung. [hd/dw]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG