Tautan-tautan Akses

ISIS Jadikan Filipina Selatan Basis di Asia Tenggara

  • Fathiyah Wardah

Para pembicara acara Diskusi KNPI di Jakarta, Senin (29/2), dari kanan: Maman Imanul Haq (anggota DPR), Sidney Jones (Direktur IPAC), Muhammad Nurkhoiron (Komisioner Komnas HAM) (VOA/Fathiyah).

Para pembicara acara Diskusi KNPI di Jakarta, Senin (29/2), dari kanan: Maman Imanul Haq (anggota DPR), Sidney Jones (Direktur IPAC), Muhammad Nurkhoiron (Komisioner Komnas HAM) (VOA/Fathiyah).

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakan kelompok bersenjata yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu telah menjadikan Filipina Selatan sebagai basis mereka di Asia Tenggara.

Meski tengah terdesak di Suriah dan Irak, milisi ISIS terus memperluas jaringan dan pengaruhnya ke beragam wilayah di dunia.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengatakankelompok bersenjata yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu telah menjadikan Filipina Selatan sebagai basis mereka di Asia Tenggara. Dia menambahkan pimpinan ISIS di Suriah itu telah mengangkat IsnilonTotoni Hapilon alias Abu Abdullah al-Filipini sebagai pemimpin ISIS untuk Asia Tenggara.

Hapilon tadinya pemimpin Abu Sayyaf sebelum berbaiat kepada Baghdadi. Pengangkatan lelaki setengah abad ini sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara dilansir surat kabar mingguan terbitan ISIS, An-Naba, April lalu.

Sydney menjelaskan beberapa orang Indonesia dan Malaysia juga sudah berbaiat kepada Hapilon. Karena itu, Sydney memperkirakan di tahun-tahun mendatang bakal ada kerja-sama lebih luas antara kelompok-kelompok pro-ISIS di Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Sydney membantah pengangkatan Hapilon sebagai amir ISIS bakal membikin iri pentolan dan para pendukung ISIS di Indonesia.

"Kalau kita lihat propaganda dari ISIS dan tulisan yang muncul di majalah ISIS dan video ISIS, justeru yang dikasih posisi lebih tinggi adalah Filipina dan Bangladesh di ISIS, bukan Indonesia. Karena tidak ada satu tempat di Indonesia di mana orang-orang pro-ISIS menguasai tanah," kata Sidney.

Sydney menambahkan jaringan ISIS di Indonesia akan lebih membentuk sel-sel kecil untuk mempersiapkan serta melaksanakan serangan teror. Sel-sel ini dikendalikan oleh Bahrun Naim dan Bahrumsyah yang ada di Suriah, atau wakil dari Bahrumsyah di Indonesia.

"Karena saya kira dianggap lebih aman, lebih sulit untuk dideteksi oleh Densus 88 atau organisasi lain. Kalau dulu kita melihat ada organisasi JAK (Jamaah Ansarul Khalifah) bagian Jawa Barat sebetulnya memakai struktur JAT (Jamaah Ansarut Tauhid). Kalau sekali diketahui JAK didirikan atas dasar JAT, gampang untuk membongkar. Tapi kalau dengan sel-sel kecil jauh lebih sulit karena tidak tahu persis kapan akan muncul atau siapa pimpinannya," lanjutnya.

Jamaah Ansarul Khalifah dibentuk pada November 2015 di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. ketika itu dipimpin oleh Aman Abdurrahman, namun setelah dia ditahan sudah ditunjuk pemimpin sementara dan tidak diketahui identitasnya.

Sydney meminta pemerintah dan aparat keamanan tidak hanya memantau perkembangan ISIS tapi juga mengawasi Jamaah Islamiyah yangmerupakan pendukung Al-Qaidah. Dia menyatakan puluhan bahkan lebih anggota Jamaah Islamiyah asal Indonesia telah kembali dari Suriah pada 2014, setelah berlatih tiga bulan bareng Jabhat an-Nusrah.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, berdasarkan informasi dari Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Brigadir Jenderal Edi Hartono, lebih dari 600 warga Indonesia ikut bertempur di Suriah. Dari jumlah tersebut, ada yang sudah meninggal dan ada yang sudah kembali.

Tito mengakui serangan teror yang dilakukan kelompok ISIS mulai meningkat di sejumlah negara karena ruang gerak mereka sudah dipersempit di Suriah.

"Namun tahun 2016 ini semua negara besar, Rusia dan Barat, menekan ISIS sehingga mereka nggak bisa bergerak. Daerah mereka makin mengecil, dibombardir. Akibatnya yang mereka lakukan untuk mengalihkan perhatian, jaringan di luar negerinya disuruh aktif bergerak. Makanya terjadi serangan di Eropa, Prancis, Istanbul, Afrika, Pakistan, termasuk Indonesia. Tidak heran Indonesia pun meningkat karena instruksi dari ISIS pusat, semua dimainkan agar perhatian ke seluruh dunia. Tidak hanya di situ," kata Tito.

Tito menekankan aparat akan terus memantau dan menindak tegas para teroris. Polisi lanjutnya juga tidak segan-segan mengambil tindakan mematikan bila terduga teroris mengancam nyawa aparat atau masyarakat. [fw/gp]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG