Tautan-tautan Akses

ISIS Dikhawatirkan Picu Gerakan Radikal di Indonesia

  • Brian Padden

Pemerintah dapat mengekang ancaman teroris di Indonesia dengan menangkap, pemimpin radikal seperti ulama Abu Bakar Bashir (foto: dok).

Pemerintah dapat mengekang ancaman teroris di Indonesia dengan menangkap, pemimpin radikal seperti ulama Abu Bakar Bashir (foto: dok).

Dalam satu dekade terakhir, strategi pemerintah Indonesia untuk memerangi terorisme lewat tindakan polisi dan pengadilan pidana, bukan cara militer, dinilai berhasil mengekang ancaman teroris setempat.

Di samping berbagai kemajuan dalam menekan ancaman serangan teror di Indonesia, kebangkitan ISIS di Suriah dan Irak dikhawatirkan dapat memicu gerakan radikal di Indonesia yang berpenduduk Muslim terbanyak di dunia.

Di pesantren al-Hikam di luar Jakarta, para pemuda belajar melawan ideologi Islam radikal dengan ajaran yang lebih moderat.

Direktur program yang dibiayai pemerintah ini, Arif Zamhari, mengatakan para guru agama yang baru terlatih ini akan dikirim untuk berdakwah di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

“Kami menyebarkan ajaran Islam yang damai kepada masyarakat setempat. Masalahnya, kita tahu, suara paling lantang datang dari kaum radikal, sedang suara kelompok moderat belum pernah didengar,” ujar Zamhari.

Serangan teroris yang terakhir kali di Indonesia, pemboman dua hotel di Jakarta, terjadi tahun 2009. Itu menandai akhir dari aki kekerasan mematikan selama hampir satu dasawarsa oleh Jemaah Islamiyah dan militan Asia Tenggara terkait al-Qaida lainnya.

Pemerintah dapat mengekang ancaman teroris di Indonesia dengan menangkap, bukan membunuh, pemimpin teroris seperti ulama Abu Bakar Bashir. Pengadilan membantu membentuk opini publik untuk menentang militan yang menggunakan kekerasan.

Tetapi ancaman teroris kembali muncul tahun ini lewat sebuah video online yang sepertinya memperlihatkan para pejuang ISIS asal Indonesia di Suriah yang mengajak Muslim Indonesia untuk bangkit melawan pemerintah.

Sidney Jones dari Institut bagi Analisa Kebijakan Konflik di Jakarta mengatakan video ini menjadi pengingat.

“Rakyat Indonesia untuk pertama kalinya melihat ISIS sebagai ancaman kedaulatan Indonesia. Itulah yang memicu reaksinya, bukannya tiba-tiba menjadi lebih berbahaya,” kata Sydney Jones.

Polisi sejak itu telah menangkap sejumlah pendukung ISIS setempat dan mungkin mengadili mereka karena membantu pemberontakan di negara asing yang bersahabat. Pihak berwenang juga dapat mencabut paspor sekitar 150 WNI yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah.

Terlepas dari kekhawatiran sejumlah kelompok HAM mengenai taktik polisi yang opresif dengan sedikit pengawasan sipil, Indonesia tetap mempertahankan strategi kontra-terorismenya.

Sidney Jones mengatakan semakin banyak Muslim Indonesia menggunakan media sosial untuk menyuarakan tentangan terhadap kekerasan esktrem yang dilakukan ISIS.

Ancaman baru itu telah mengingatkan banyak warga Indonesia bahwa meskipun sudah hampir lima tahun tanpa serangan besar, perang melawan terorisme masih belum selesai.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG