Tautan-tautan Akses

Iran Mulai Pangkas Subsidi Pangan dan BBM

  • Edward Yeranian
  • Wita Sholhead

Polisi dikerahkan di Teheran untuk menjaga kemungkinan kerusuhan akibat pemotongan subsidi pangan dan bahan bakar.

Polisi dikerahkan di Teheran untuk menjaga kemungkinan kerusuhan akibat pemotongan subsidi pangan dan bahan bakar.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan bahwa Iran memangkas subsidi pangan dan bahan bakar mulai hari Minggu.

Iran menggelar pasukan keamanan di lokasi-lokasi yang peka, termasuk pompa-pompa bensin hari Minggu, selagi pengurangan subsidi mulai diberlakukan, yang mengakibatkan kenaikan besar harga bensin.

Presiden Mahmoud Ahmadinejad memberikan alasan pengurangan subsidi dalam wawancara di televisi pemerintah Sabtu malam, menjelaskan pengurangan itu perlu dilakukan demi kesejahteraan negara. Subsidi, katanya, menghabiskan hampir 100 miliar dolar uang negara setiap tahun.

Ia berterima kasih kepada rakyat Iran atas persatuan, solidaritas dan pengertian dalam menerima pengurangan subsidi itu. Ia meminta rakyat Iran agar tabah dan melaksanakan semua tahap program pengurangan subsidi itu.

Nader Hashemi, yang mengajar politik Timur Tengah di Universitas Denver, mengatakan pengurangan subsidi itu berisiko bagi pemerintah Iran.

Menurut Hashemi, “Ini adalah permainan politik berisiko tinggi yang dapat berakibat buruk sekali, dengan konsekuensi besar bagi kestabilan rejim karena perekonomian Iran sudah terpukul akibat kesalahan pengelolaan dan sanksi-sanksi ekonomi.”

Seorang warga Iran mengisi bensin di sebuah pom bensin di Teheran, Minggu 19 Desember 2010. Harga BBM diperkirakan naik 3-4 kali lipat setelah pemotongan subsidi.

Seorang warga Iran mengisi bensin di sebuah pom bensin di Teheran, Minggu 19 Desember 2010. Harga BBM diperkirakan naik 3-4 kali lipat setelah pemotongan subsidi.

Hashemi mengatakan pemerintah Iran juga berusaha mengurangi subsidi bensin tahun 2007, tetapi harus menariknya kembali setelah terjadi demonstrasi besar-besaran.

Pengurangan subsidi dijadwalkan untuk diberlakukan bukan hanya pada bensin, tetapi juga air bersih, listrik dan gas. Pemerintah mengumumkan akan mendepositkan sekitar 80 dolar ke dalam rekening bank setiap warga Iran yang membantu mengatasi pengurangan subsidi itu lebih dari dua bulan.

Houchang Hassan-yari, yang mengajar pada Akademi Militer Kanada, memperingatkan kemungkinan terjadinya inflasi akibat pengurangan subsidi.

Hassan-Yari mengatakan: “Jika pemerintah Iran tidak bisa mengendalikan situasi, inflasi akan melonjak tajam. Banyak pakar ekonomi, termasuk mantan Menteri Ekonomi Danesh-Jaffari, mengatakan kemungkinan inflasi naik 25 persen, jadi jika kita tambahkan itu pada tingkat inflasi normal yang antara 10 sampai 15 persen, yang menurut saya sangat optimistik, tingkat inflasi meungkin mencapai 40 persen atau lebih.”

Berdasarkan kebijakan-kebijakan baru, bensin naik sekitar 40 sen per liter untuk 60 liter yang dijatahkan bagi setiap mobil sebulannya, naik dari 10 sen per liter.

Presiden Ahmadinejad mengatakan semua subsidi terhadap barang-barang seperti bahan bakar, gas, listrik dan roti, akan berakhir sebelum masa jabatannya selesai pada tahun 2013.

Langkah pemotongan subsidi itu berlangsung sementara ekonomi Iran terus berjuang mengatasi beban sanksi-sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat dan PBB akibat penolakan Teheran untuk menghentikan program pengayaan nuklirnya.

Amerika dan beberapa sekutunya menuduh Iran menggunakan program nuklir sipilnya untuk menyamarkan program pembuatan senjata nuklir. Iran membantah tuduhan tersebut.

XS
SM
MD
LG