Tautan-tautan Akses

IOM Prihatin dengan Nasib Ribuan Pekerja Migran di Libya

  • Lisa Schlein

Pekerja migran asal Afrika berupaya naik ke truk setibanya di pelabuhan Misrata dalam operasi evakuasi yang diorganisir IOM.

Pekerja migran asal Afrika berupaya naik ke truk setibanya di pelabuhan Misrata dalam operasi evakuasi yang diorganisir IOM.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai nasib ribuan pekerja migran yang terperangkap di Libya.

IOM mengatakan para migran di Libya mengalami kesulitan hidup bahkan sebelum konflik pecah. Organisasi itu mengatakan mereka menghadapi diskriminasi dan cenderung dieksploitasi oleh majikan-majikan mereka.

Sejak krisis terjadi, IOM mengatakan puluhan ribu migran yang terperangkap di Libya lebih rentan terhadap pelecahan daripada sebelumnya. Organisasi itu mengatakan banyak pekerja migran Afrika diserang karena mereka dicurigai menjadi mata-mata yang dibayar oleh Moammar Khadafi. Organisasi itu mengatakan banyak migran dibunuh dan ratusan bersembunyi.

Juru bicara IOM, Jemini Pandya, mengatakan organisasinya prihatin, khususnya dengan nasib komunitas besar pekerja migran yang kebanyakan warga Afrika dan Filipina yang ditampung di dua tempat di ibukota Tripoli.

“Sebagian migran tidak bekerja sejak awal krisis karena majikan mereka meninggalkan negeri itu. Karena tidak punya apa-apa untuk pulang, mereka tetap tinggal di Libya dengan harapan bisa mendapat bayaran dari majikan mereka atau mendapat pekerjaan lain. Lainnya ditinggal untuk menjaga tanah dan rumah-rumah majikan mereka. Namun, mereka tidak dibayar sejak Februari. Karena sistem perbankan tidak berfungsi, ini berarti pekerja-pekerja itu tidak bisa mendapat kiriman uang,” ujar Pandya.

Pandya mengatakan sebagian besar pekerja migran di Libya berasal dari negara-negara sub-Sahara Afrika, termasuk Ghana, Togo, Sudan, Nigeria, dan Kamerun. Ia mengatakan kebanyakan pekerja tidak terampil dan tidak punya izin kerja. Ia mengatakan status gelap itu membuat mereka mudah tertangkap dan dilecehkan.

“Dengan kondisi itu, karena mereka tidak punya tempat tinggal memadai dan cukup makanan, mereka sangat tergantung pada makanan dan tempat tinggal yang diperoleh dari kebaikan orang-orang di komunitas itu, baik warga Libya maupun bukan. Hal ini terjadi meskipun sebagian harga pangan naik antara tiga sampai empat kali lebih tinggi sejak awal krisis,” papar Pandya.

Sejak akhir Februari, organisasi yang berkantor pusat di Jenewa itu telah membantu memulangkan hampir 144.000 migran ke Aljazair, Mesir, Tunisia, Chad, dan Niger.

XS
SM
MD
LG