Tautan-tautan Akses

Investor Cemas Resesi Baru akan Landa AS


Untuk empat pekan berturut-turut, indeks-indeks utama Wall Street kembali merosot. Investor ramai-ramai melepas saham di tengah semakin meningkatnya kegelisahan bahwa Amerika akan kembali terjerumus dalam resesi. Berbagai lembaga keuangan termasuk JP Morgan Chase memprediksi pertumbuhan ekonomi Amerika akan semakin menciut.

Indeks Dow Jones, Standard & Poor's dan NASDAQ kembali menyusut masing-masing sekitar satu setengah persen pada penutupan perdagangan pekan ketiga bulan Agustus.

"Sulit untuk memprediksi kita akan kembali pada keadaan normal. Tetapi, mudah-mudahan volatilitas di pasar ini merupakan fenomena jangka pendek semata," ujar Sumit Desai, seorang analis ekuitas bagi perusahaan keuangan Morningstar.

Pekan baru lalu ini mengakhiri empat pekan berturut-turut merosotnya indeks, dan mencatat penurunan empat pekan terbesar sejak Maret 2009. Pemicunya tak lain dari kecemasan investor akan kondisi perekonomian global.

Gregg Maloney, seorang pialang di lantai Bursa Saham New York (NYSE) mengamati perkembangan harga saham, Kamis (18/8). Pekan lalu, indeks-indeks utama kembali ditutup melemah.

Gregg Maloney, seorang pialang di lantai Bursa Saham New York (NYSE) mengamati perkembangan harga saham, Kamis (18/8). Pekan lalu, indeks-indeks utama kembali ditutup melemah.

"Pasar memandang secara lebih luas: ada tidakkah resesi di Amerika, apakah ada resesi di Cina dan Asia dan apakah krisis utang Eropa akan menghampiri AS," ujar Stephen Wood, Senior Portfolio Strategist for Russell Investments.

Kekhawatiran akan adanya resesi baru di Amerika ini semakin ketara, terutama setelah keluarnya prediksi baru JP Morgan Chase dan Goldman Sachs, yang memperkirakan perekonomian Amerika akan hanya tumbuh satu persen pada kuartal terakhir tahun ini.

Sementara itu, bank terbesar di Amerika, Bank of America, yang sahamnya terus merosot beberapa bulan belakangan ini mengumumkan rencana memangkas 3.500 pekerjaan. Ini dilakukan di tengah masih rendahnya tingkat penciptaan tenaga kerja baru.

"Saya butuh pekerjaan," ujar seorang pria yang sedang menghadiri sebuah job fair di Atlanta. "Saya datang ke sini untuk mencari kesempatan." Tapi seperti yang selalu terjadi, jumlah posisi yang tersedia jauh lebih kecil dibanding jumlah pelamar. "Saya harus optimis. Ini satu-satunya sikap yang bisa saya ambil," ujar seorang pelamar lain.

Quantitave Easing

Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke akan memimpin pertemuan tahunan The Fed pekan ini. Investor berharap akan ada paket stimulus dari bank sentral untuk menstabilkan pasar modal.

Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke akan memimpin pertemuan tahunan The Fed pekan ini. Investor berharap akan ada paket stimulus dari bank sentral untuk menstabilkan pasar modal.

Di tengah terus lesunya bursa saham, investor berharap Bank Sentral Amerika pada pertemuan tahunannya pekan ini akan menyetujui stimulus pelonggaran kuantitatif (quantitave easing) berupa penjualan obligasi oleh pemerintah. Ini sudah pernah dilakukan tahun lalu, dikenal dengan julukan QE1 dan QE2.

Tetapi, para ekonom ragu Bank Sentral akan melakukan QE3, karena Q1 dan Q2 yang menambah jumlah uang yang beredar, terbukti gagal memacu pertumbuhan ekonomi dan juga tak mampu menurunkan tingkat pengangguran nasional di Amerika ini.

XS
SM
MD
LG