Tautan-tautan Akses

Investor Asing Tahan Investasi Sampai Pilpres


Calon-calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, bersama calon wakil presiden Prabowo, Hatta Rajasa usai debat di Jakarta (9/6). (AP/Dita Alangkara)

Calon-calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto, bersama calon wakil presiden Prabowo, Hatta Rajasa usai debat di Jakarta (9/6). (AP/Dita Alangkara)

Agenda nasionalistik dari kedua calon presiden membuat para investor asing menahan diri dalam menanamkan uangnya di Indonesia.

Miliaran dolar investasi asing bergantung pada hasil pemilihan presiden bulan depan, dengan setidaknya satu perusahaan besar menahan diri setelah mantan jenderal Kopassus, Prabowo Subianto, maju menjadi calon presiden.

Baik Gubernur Jakarta Joko "Jokowi" Widodo maupun Prabowo mendorong agenda nasionalis, didasari pada persepsi-persepsi populer bahwa ekonomi telah terlalu lama bergantung pada penjualan sumber daya alam yang berlimpah secara murah pada pembeli asing dan pemerintah-pemerintah sebelumnya tidak berbuat banyak untuk memelihara dan melindungi perusahaan-perusahaan lokal.

Namun Prabowo terlihat paling keras dalam agenda nasionalistiknya, sementara Jokowi dianggap sebagai pengelola yang lebih handal dan selalu turun tangan. Dan meski Indonesia memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar, biaya relatif rendah dan kelas menengah yang terus tumbuh, banyak investor potensial mengatakan mereka akan menunggu sampai pemilihan presiden selesai.

Nama teratas dalam daftar investor asing dengan dana besar untuk digunakan adalah Foxconn Technology Group dari Taiwan, kontraktor manufaktur elektronik terbesar dunia dan salah satu pemasok terbesar untuk Apple Inc.

Kepala perusahaan, Terry Gou, tidak menyembunyikan fakta saat berkunjung ke Jakarta Februari lalu bahwa ia suka berurusan dengan Jokowi dalam diskusi-diskusi mengenai apakah akan membawa investasi raksasa berikutnya dari perusahaan itu ke Jakarta.

Saat itu, Jokowi merupakan unggulan dalam pemilihan umum. Ia masih unggul, namun margin dengan Prabowo menipis dalam jajak pendapat dan persentase pemilih yang belum menentukan suaranya besar, menurut berbagai survei.

Nilai investasi langsung asing di Indonesia mencapai Rp 270,4 triliun pada 2013, naik sekitar 22 persen dari tahun sebelumnya. Namun pertumbuhan melambat secara tajam menjadi 9,8 persen dalam kuartal pertama tahun ini, menurut pemerintah.

Foxconn, terdaftar sebagai Hon Hai Precision Industry Co Ltd di Taiwan, sedang menunggu pemerintahan baru mengambil alih pada Oktober sebelum memutuskan apakah akan meneruskan proyek manufaktur senilai $1 miliar di Indonesia, menurut sumber dari perusahaan tersebut.

Poin-poin utama yang menjadi permintaan Foxconn adalah terkait pembebasan lahan di Jakarta dan birokrasi yang rumit di Indonesia.

"Terkait insentif-insentif yang telah diminta oleh Foxconn, tidak ada seorang pun yang dapat diajak bicara yang keputusannya berarti," menurut sumber yang paham dengan situasi Foxconn.

"Indonesia merupakan pasar sangat besar bagi Foxconn. Foxconn sangat berharap ada arahan jelas dalam kebijakan-kebijakan mereka setelah pemilihan umum."

Jokowi Lebih Ramah Pasar

Komunitas investor cenderung lebih menyukai Jokowi, mantan pengusaha meubel, dibandingkan Prabowo, menurut wawancara-wawancara dengan sejumlah eksekutif
senior dan pemain pasar modal.

Saham dan mata uang Indonesia terpukul menyusul pengumuman tak terduga dari Golkar pada 19 Mei bahwa partai itu mendukung Prabowo.

Rupiah terus melemah, mencapai sekitar 11.800 melawan dolar saat ini, dibandingkan dengan 11.400 sebelum pengumuman tersebut. Indeks saham utama Jakarta tetap lebih tinggi dari 1 persen di bawah tingkat sebelum pengumuman.

"Secara umum, kalangan bisnis merasa Jokowi lebih ramah terhadap kalangan bisnis," ujar Kenichi Tomiyoshi, Presiden Direktur Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang di Jakarta.

Jokowi memiliki reputasi sebagai pemimpin yang turun tangan dan seorang pemecah masalah, menurut para analis.

"Banyak masalah yang dihadapi sektor bisnis di Indonesia merupakan isu-isu operasional seperti akuisisi tanah. Berdasarkan rekam jejaknya, ia sepertinya akan lebih dekat atau langsung terlibat dalam mencoba menyelesaikan masalah-masalah ini," ujar Anton Alifandi, seorang analis di IHS.

"Jika Jokowi menang, kalangan bisnis akan melihat apa yang ia lakukan dalam enam bulan atau setahun pertama. Jika mereka melihat hasil-hasil dan bahwa ia dapat memenuhi janji-janjinya, Anda akan melihat investasi asing datang."

Daya tarik Indonesia bagi investor dari negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat ada di populasi sejumlah 240 juta dan kelas menengah yang terus berkembang.

Banyak perusahaan juga ingin melakukan diversifikasi operasi dari Thailand, yang telah diguncang kekacauan politik. Di Vietnam, sebuah pusat manufaktur regional lainnya, kerusuhan anti-China pecah bulan lalu akibat sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Perusahaan-perusahaan Jepang giat mengincar sektor-sektor otomotif, produk makanan dan jasa keuangan di Indonesia, menurut Tomiyoshi.

"Perusahaan-perusahaan Jepang menghadapi pertumbuhan terbatas di pasar domestik, jadi mereka harus melihat ke luar negeri, terutama Indonesia."

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Chairul Tanjung telah mengundang Samsung Electronics untuk berinvestasi dalam pabrik ponsel di Indonesia dan perusahaan Korea Selatan itu sedang mempertimbangkannya, ujar Lee Kang Hyun, wakil presiden PT Samsung Electronics Indonesia.

Larangan Ekspor Mineral

Pada Januari, pemerintah memberlakukan pajak ekspor kontroversial dan larangan pengiriman bijih mineral untuk memaksa para perusahaan tambang membangun smelter (pabrik peleburan) dan pabrik pengolahan, mendorong kekhawatiran investor bahwa hal itu mengindikasikan Indonesia menjadi lebih proteksionis.

Baik Jokowi maupun Prabowo sepertinya tidak akan menghapus larangan ekspor tersebut, menurut para petinggi partai.

Kedua calon presiden juga sepertinya akan mengambil pendekatan yang lebih proteksionis terhadap sektor perbankan. Jokowi telah mengusulkan pembatasan penjualan bank nasional kepada investor asing, sementara Prabowo akan bersikeras atas "timbal balik ketat" untuk sektor-sektor perbankan dan asuransi.

Saat ini, kepemilikan bank-bank asing ditentukan sebesar 40 persen. Pada Juli tahun lalu, DBS Group Holdings Ltd dari Singapura mengatakan tidak akan melanjutkan pengambilalihan PT Bank Danamon senilai $7,2 miliar setelah pembahasan buntu selama berbulan-bulan.

Perusahaan-perusahaan AS berencana melakukan investasi baru sebesar $61 miliar di Indonesia dalam tiga sampai lima tahun mendatang "asal lingkungan investasi kondusif dan menyambut baik," menurut sebuah studi tahun lalu yang dipimpin Ernst & Young.

Namun beberapa investor yakin ada di Indonesia selama periode jangka panjang adalah menguntungkan.

Meski produktivitas tenaga kerja di Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga dan adanya distribusi pendapatan yang tidak merata, hal-hal ini merupakan "kesulitan jangka pendek yang dapat menjadi peluang jika diambil tindakan," menurut Bharat Joshi, seorang manajer investasi di Aberdeen Asset Management di Asia.

"Kami masih menyukai daya tarik negara ini dari sisi peningkatan kekayaan dan demografi yang kondusif, didasari dari rendahnya utang dan meningkatnya konsumerisme," ujar Joshi. (Reuters)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG