Tautan-tautan Akses

Ekonomi Indonesia Butuh Inovasi untuk Maju di Masa Depan


Seorang pekerja konstruksi di sebuah lokasi pembangunan gedung baru di Jakarta. Pakar futurologi mengimbau agar proses perkembangan di Indonesia disertai dengan rencana yang matang.
Seorang pekerja konstruksi di sebuah lokasi pembangunan gedung baru di Jakarta. Pakar futurologi mengimbau agar proses perkembangan di Indonesia disertai dengan rencana yang matang.

Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan perekonomian di masa mendatang namun menurut pakar futurologi Amerika Serikat, James Canton, seperti dialami negara-negara di dunia setiap upaya pasti punya berbagai tingkat resiko yang harus dilewati.

Menteri kabinet, pejabat negara, pengusaha, pengamat ekonomi dan pengamat politik serta beberapa pakar futurologi Amerika Serikat meramaikan Konferensi Internasional Futurologi di Jakarta, Kamis (28/7).

Dalam paparannya, James Canton, Dirut Institute for Global Futures menilai proses perkembangan setiap negara harus disertai dengan rencana awal yang matang. Ia berpendapat perlunya inovasi untuk mengubah iklim usaha abad ke-21. Ia mengatakan berbagai rencana harus matang untuk mengembangkan usaha dan perekonomian seperti untuk energi, pangan, air dan keamanan dengan berbagai resiko yang akan dihadapi di masa mendatang.

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tanjung, salah seorang nara sumber dalam konferensi itu berpendapat meski Indonesia harus berupaya maksimal untuk maju namun harus tetap terdapat keseimbangan antara keinginan dan kemampuan. “Modernisasi itu bukan westernisasi. Jadi, cobalah selalu kita membangun ekonomi kita berbasis pada kekuatan kita sendiri," ujar Chairul Tanjung.

Ia menyebut kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia sebagai aset Indonesia, selain pendapatan per kapita dan tingkat konsumsi yang mulai meningkat. "Itu yang harus kita manfaatkan agar ada proses added value-nya," tambahnya.

Chairul Tanjung menilai saat ini yang paling dibutuhkan Indonesia adalah pengembangan teknologi bidang pertanian karena sektor pertanian merupakan andalan bagi kebutuhan pangan nasional.

"Jadi, jangan pergi ke robot dulu. Hati-hati dalam melihat masa depan. Pakai yang sesuai dengan GDP kita dulu, jangan langsung lompat. Jadinya, bertahap," papar Chairul Tanjung.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika, Dino Patti Djalal, menilai tingkat kemiskinan di Indonesia masih mengkhawatirkan. Walaupun demikian, menurutnya, Indonesia harus tetap bersemangat untuk mencapai perbaikan-perbaikan.

Dubes Dino Djalal mengatakan, “Cina lebih besar dari Indonesia, lebih kompleks, lima kali lebih besar dari Indonesia. India juga lima kali lebih besa,r tapi Cina dan India sekarang di garis terdepan dari emerging economies dan bahkan akan melampau Amerika sebagai ekonomi terbesar dalam 30 tahun ke depan. Jadi, bahwasanya ada kemiskinan, itu tidak menghalangi suatu negara untuk menjadi maju. Di Amerika juga masih ada kemiskinan, di India juga, di Cina juga, tapi tentu yang penting kita harua ada pembangunan yang memajukan pemerataan jangan pembangunan yang semakin mendorong kesenjangan.”

XS
SM
MD
LG