Tautan-tautan Akses

'Ini Dia Lagi,' Charlie Hebdo Kembali Sapa Pembaca

  • Lisa Bryant

The front page of the new issue of satirical French weekly Charlie Hebdo entitled "C'est Reparti" ("Here we go again"), is displayed at a kiosk in Nice, Feb. 25, 2015.

The front page of the new issue of satirical French weekly Charlie Hebdo entitled "C'est Reparti" ("Here we go again"), is displayed at a kiosk in Nice, Feb. 25, 2015.

Charlie Hebdo terbit dengan edisi terbarunya, tersedia di kedai surat kabar di seluruh Perancis hari Rabu.

Di sampul terlihat gambar anjing, Paus yang tampak marah dan karikatur binatang dari pemimpin konservatif sayap kanan Perancis Marine Le Pen dan mantan presiden Nicolas Sarkozy.

Sebelumnya, Charlie Hebdo terbit dengan edisi pertamanya enam pekan lalu pasca serangan ke kantor redaksi tanggal 7 Januari.

"Ini dia lagi!" bunyi judul di sampul tabloid satir tersebut.​

Isu terbaru ini disebut oleh para kolaborator sebagai lebih "damai" daripada isu sebelumnya, yang menggambarkan Nabi Muhammad berurai air mata. Tertulis juga pesan dalam majalah itu yang berterima kasih kepada para pendukungnya setelah serangan 7 Januari.

Desain sampul

Kartunis yang menggambar sampul Charlie Hebdo kali ini, Renald Luzier selaat dari serangan yang menewaskan belasan orang di kantor Charlie Hebdo. Ia lolos karena terlambat datang ke kantor. Serangan Charlie Hebdo disusul dengan dua penembakan lainnya di Paris yang menewaskan lima orang lainnya. ​

Delphine Halgand, Direktur Reporters Without Borders (Reporter Tanpa Batas) di AS, mengatakan Charlie Hebdo harus terus menjadi Charlie Hebdo.

"Saya rasa tim Charlie Hebdo, seperti halnya kita semua, punya tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan provokatif ini, perjuangan humoris bagi kebebasan informasi. Teroris dapat membunuh jurnalis, tapi mereka tidak dapat membunuh kebebasan kami," kata Halgand.

Gerard Biard, kepala editor baru Charlie Hebdo, mengatakan bulan ini, bahwa mulai 25 Februari, Charlie Hebdo akan kembali mulai terbit seminggu sekali.

Setelah penembakan bulan lalu, Charlie Hebdo merilis edisi baru hanya seminggu setelahnya. Edisi tersebut terjual 8 juta eksemplar. Charlie Hebdo juga kembali memicu protes dari warga Muslim dunia karena sampulnya lagi-lagi menggambarkan Nabi Muhammad.

Sekitar 2.5 juta eksemplar akan diterbitkan untuk edisi terbaru, lebih sedikit dibanding sebelumnya, tapi masih jauh lebih banyak dibanding sirkulasi sebelum serangan, 60.000 eksemplar per edisi.

Penjualan edisi terbaru

Pada hari Rabu, terlihat penjualan edisi terbaru Charlie Hebdo tidak terlalu mengundang perhatian.

Di sebuah kios surat kabar di stasiun kereta Paris yang sibuk, orang-orang berdatangan untuk membeli Charlie Hebdo. Pemilik kios mengatakan orang-orang sempat mengantri, tapi tidak seramai seperti edisi sebelumnya.

Di sebuah kios lain di Paris, pemiliknya mengatakan tabloid itu terjual perlahan tapi pasti. "Lebih baik seperti itu," ujarnya. Kalau tidak, seharian ia akan sibuk memberitahu calon pembeli bahwa Charlie Hebdo terjual habis.

Di Place de la Republique, di pusat kota Paris, warga masih berhent untuk membaca tulisan di memorial bagi para korban serangan pada Charlie Hebdo.

Di antara para pengunjung adalah Mahfoudh Thahri asal Tunisia, dan teman-temannya.

Thahri mengatakan warga Muslim seperti dirinya prihatin dengan apa yang terjadi. Tapi ia tidak akan membeli Charlie Hebdo karena tabloid tersebut mengolok-olok agamanya.

Warga lain, Laure Perucho, mengatakan ia membeli Charlie Hebdo edisi sebelumnya, tapi ia belum tahu apakah ia akan membeli edisi kali ini.

'Saya akan terus membeli'

Sylvia Renard, warga Paris lainnya mengatakan, "Saya membeli edisi Charlie Hebdo pasca serangan dan saya sangat suka sehingga saya akan terus membeli."

Perucho mengatakan lebih dari sebulan setelah serangan-serangan di Paris, ia merasa seperti peristiwa-peristiwa tersebut tidak pernah terjadi. Tidak ada yang membahasnya lagi. Hanya beberapa orang di Facebook, termasuk dirinya, masih mengusung slogan "Saya Charlie."

Bisa jadi inilah tantangan terbesar bagi Charlie Hebdo. Bukan kemarahan atas komedi satirnya, tapi ketidakpedulian dan perasaan bahwa serangan 7 Januari itu sudah terlupakan.

Sebagian materi laporan ini berasal dari Reuters dan AFP.

XS
SM
MD
LG