Tautan-tautan Akses

Inggris Kewalahan dengan Radikalisasi Kalangan Pemuda

  • Henry Ridgwell

Ulama asal Pakistan, Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri, mengusulkan kurikulum pendidikan baru di Inggris yang mengecam ideologi radikal dan kelompok militan dalam presentasi di London (23/6).

Ulama asal Pakistan, Dr Muhammad Tahir-ul-Qadri, mengusulkan kurikulum pendidikan baru di Inggris yang mengecam ideologi radikal dan kelompok militan dalam presentasi di London (23/6).

Perdebatan mengenai radikalisasi anak-anak muda Muslim menghangat di Inggris, setelah beberapa kasus yang disorot luas tentang warga Inggris yang pergi berperang untuk ISIS di Irak dan Suriah.

Perdebatan itu marak menyusul pengungkapan awal tahun ini bahwa pejuang ISIS yang dikenal dengan sebutan Jihadi bernama John yang mengenakan penutup dalam video-video propaganda, adalah seorang warga Inggris.

Di depan sederetan kamera televisi minggu lalu, tiga pria Inggris memohon kepada istri dan anak-anak mereka agar pulang.

Awal bulan ini, ketiga istri yang bersaudara itu menghilang bersama sembilan anak mereka dalam perjalanan ziarah ke Arab Saudi. Diperkirakan mereka kemudian menyeberang dari Turki ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teror ISIS.

Salah seorang suami itu, Mohammed Shoaib menyampaikan imbauannya dengan penuh emosi.

"Mereka anak-anak kecil, berusia tujuh dan lima tahun, dan kamu tahu saya sangat mencintaimu," kata Shoaib mengiba pada istrinya agar mau pulang.

Sebelumnya, tiga siswi dari London telah bergabung dengan ISIS pada bulan Februari. Awal bulan ini, seorang pemuda usia 17 tahun dari Inggris utara meledakkan diri dalam serangan bunuh diri di Irak atas nama ISIS. Beberapa hari berikutnya, warga Inggris yang menjadi Muslim, Thomas Evan tewas berperang untuk al-Shabab di Somalia.

Berbicara dalam konferensi keamanan di Slovakia minggu lalu, Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan masyarakat Muslim di Inggris harus bertindak lebih banyak untuk melawan pandangan-pandangan radikal.

"Ada orang-orang yang memiliki pandangan-pandangan ini, yang tidak sampai menganjurkan kekerasan tapi meyakini pandangan-pandangan ekstremis Islam ini dan mengatakan kepada sesama Muslim “kalian adalah bagian dari perjuangan ini”. Ini mendorong bagi anak-anak muda untuk mengubah pandangan ekstrem mereka menjadi niat untuk membunuh," kata Cameron.

Namun Joana Cook, pakar radikalisasi dari Kings College London berpendapat bahwa pendekatan perdana menteri Inggris itu salah.

"Dengan memandang masyarakat Muslim sebagai satu unit kesatuan seperti ini, kita tidak memahami keberagaman komunitas. Dan dengan analisa garis besar seperti ini, kita berisiko menjauhkan warga yang patuh kepada hukum, cinta damai, dan yang akan menjadi sekutu terbesar kita," kecam Joana Cook.

Menurut Cook, seharusnya pihak berwenang yang harus terlibat lebih jauh dengan masyarakat Muslim.

Badan penegak hukum Uni Eropa, Europol telah membentuk sebuah unit untuk memutus akun-akunmedia sosial yang mendukung kelompok itu. Meskipun terlambat namun langkah itu penting, kata Abdel Bari Atwan seorang pakar dan pengarang buku, ISIS : Kekhalifahan Digital

Atwan mengatakan ISIS menggunakan akun-akun pada media sosial sebagai alat perekrutan. Propaganda mengerikan ISIS yang paling baru dirilis hari Selasa (23/6) yang secara rinci menunjukkan eksekusi terhadap 12 orang yang diduga bekerja sebagai mata-mata.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG