Tautan-tautan Akses

Inggris dan Rusia Bertekad Akhiri Konflik Suriah


PM Inggris David Cameron dan Presiden Rusia Vladimir Putinsaling berjabat tangan usai pertemuan mereka di sebuah tempat peristirahatan di kota Sochi, Russia (10/5).

PM Inggris David Cameron dan Presiden Rusia Vladimir Putinsaling berjabat tangan usai pertemuan mereka di sebuah tempat peristirahatan di kota Sochi, Russia (10/5).

PM Inggris David Cameron dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan mereka berkomitmen untuk bekerja sama guna mengakhiri pertumpahan darah di Suriah.

Kedua pemimpin itu bertemu hari Jumat di kota peristirahatan Sochi di tepi Laut Hitam, dan Perdana Menteri Cameron mengatakan kepada para wartawan bahwa Inggris, Rusia dan Amerika "secara mendesak harus berbuat lebih banyak” karena “sejarah Suriah kini ditulis dengan darah rakyatnya.”

Perdana menteri Inggris itu juga sangat mendukung kesepakatan awal pekan ini antara Amerika dan Rusia guna mendesak dilakukannya pembicaraan damai antara pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok oposisi dalam sebuah konferensi internasional.

Presiden Putin mengatakan ia dan Perdana Menteri Cameron membahas "sejumlah langkah bersama yang mungkin dilakukan" untuk mengakhiri konflik itu.

Sedikitnya 70.000 orang tewas dalam pertempuran yang sedang berlangsung antara pemerintah Suriah dan pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, sekutu lama Rusia.

Perdana Menteri Cameron mengatakan meskipun ada perbedaan-perbedaan dengan Moskow, kedua negara sepakat akan perlunya “ikut membentuk pemerintah peralihan yang dipercaya oleh semua warga Suriah dapat melindungi mereka."

Juga hari Jumat, Komisaris Tinggi PBB urusan HAM mengimbau tindakan mendesak.

Navi Pillay mengatakan gambar-gambar dari dugaan pembantaian di desa Bayda, Suriah barat sangat mengerikan dan "tampaknya mengindikasikan operasi yang menarget komunitas tertentu yang dianggap mendukung oposisi.”

Pillay juga menyatakan keprihatinan tentang apa yang tampaknya merupakan pegerahan kekuatan militer besar-besaran di kota Qusayr, Suriah barat, dan memperingatkan bisa terjadi lebih banyak kekejaman jika daerah ini dikuasai pasukan pemerintah.

Kelompok-kelompok oposisi Suriah pekan lalu menuduh pasukan Suriah yang setia kepada Assad membunuh sedikitnya 150 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, di desa Bayda. Bayda terutama dihuni oleh warga Muslim Sunni yang mendominasi gerakan pemberontakan di negara itu.

Departemen Luar Negeri Amerika mengatakan Washington "terkejut oleh laporan-laporan mengerikan" tentang banyaknya warga sipil yang tewas dalam serangan tersebut dan mengutuk "kekejaman” itu.

Sementara itu, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada televisi Amerika NBC News, "jelas" Presiden Assad telah menggunakan senjata kimia untuk melawan pasukan oposisi. Erdogan mengatakan, rezim Suriah telah "menggunakan sekitar 200 rudal dan bahkan bisa lebih tetapi tidak kurang, menurut intelijen kami.''

Bentrokan terus berlanjut di seluruh pelosok Suriah. Komite Koordinasi Lokal, yakni sebuah kelompok aktivis oposisi, mengatakan sedikitnya 22 orang tewas dalam pertempuran Jumat pagi di ibukota Damaskus dan kota Homs, Suriah tengah, serta di Aleppo, Hama, dan Daraa.

Juga hari Jumat, video amatir yang diunggah di Internet oleh para aktivis oposisi mengklaim menunjukkan puluhan orang yang mengarungi sungai untuk melarikan diri dari pertempuran di kota Halfayeh. Suara orang yang tidak tampak dalam video itu mengatakan warga melarikan diri untuk “menghindari pembantaian” oleh pasukan pemerintah.
XS
SM
MD
LG