Tautan-tautan Akses

Industri Penghancuran Kapal Tua di India Abaikan Keselamatan Pekerja

  • Kurt Achin

Industri penghancuran kapal-kapal rongsok di Pantai Alang, Gujarat, India (foto: 2009).

Industri penghancuran kapal-kapal rongsok di Pantai Alang, Gujarat, India (foto: 2009).

Industri penghancuran kapal-kapal rongsok yang berada di Provinsi Gujarat di India dinilai mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan para pekerja.

Pantai Alang, di Provinsi Gujarat India, adalah salah satu tempat pembuangan kapal rongsokan terbesar di dunia, di mana kapal-kapal kontainer raksasa dikandaskan ke pantai untuk dihancurkan. Tetapi, untuk mendapat izin melihat proses yang dikenal sebagai "penghancuran kapal" itu sangat sulit. Ekonom Italia Federico DeMaria mengalaminya sendiri.

"Orang asing, termasuk wartawan, tidak diperbolehkan mencari tahu apa yang sedang terjadi di lokasi itu. Kita tidak mendapat izin. Sampai sekarang saya telah menunggu selama tiga tahun dan belum juga mendapat izin. Jadi, saya mendatangi pantai itu setiap hari secara sembunyi-sembunyi. Saya tidak berbohong, tetapi memberikan alasan yang berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa saya seorang peneliti, tetapi pengusaha dan pedagang besi tua,” paparnya.

Demaria, yang kini berafiliasi dengan Universitas Jawaharlal Nehru di New Delhi, pernah menyaksikan sekilas apa yang terjadi di pantai Alang tahun 2009. Ia mengatakan bahwa kapal-kapal besar yang terlihat seperti gedung bertingkat tinggi secara rutin terdampar ke pantai.

"Yang terjadi berikutnya adalah para pekerja memasuki kapal dan dengan menggunakan alat-alat pengelas, mereka mulai memotong-motong kapal itu secara manual. Saya melihat sepotong baja seberat dua atau tiga ton jatuh di pantai, bahkan ada yang menimpa para pekerja. Lalu mereka memotong-motongnya lagi menjadi lebih kecil dan mengangkat potongan itu ke atas truk. Terlihat sekitar 10 atau 20 orang memindahkan sepotong baja seberat satu ton. Itu adalah pemandangan yang cukup mengesankan," paparnya lagi.

Para pendukung peran India dalam penghancuran kapal mengatakan bahwa mendaur ulang baja, murah, membantu perekonomian, mendorong pembangunan, dan menciptakan lapangan kerja. Tetapi, pengecam seperti Demaria mengatakan bahwa para pekerja tidak mendapat layanan kesehatan, perumahan, atau kompensasi yang layak karena banyaknya kecelakaan yang terjadi.

"Berapa nilai hidup seorang pekerja? Saya tidak diizinkan untuk mengunjungi atau masuk ke salah satu kapal di pantai Alang karena perusahaan penghancur kapal mengatakan kepada saya, ’Jika ada kecelakaan terjadi, kami harus membayar ganti rugi sangat mahal. Saya tidak bisa membayar Anda, karena kompensasi untuk Anda sangat mahal.’ Tetapi, ganti rugi bagi buruh-buruh India, murah. Jika mereka memberikan kompensasi, jumlahnya hanya 1.000 sampai 2.000 dolar, jumlah yang tidak berarti," kata Demaria lebih lanjut.

Penghancuran kapal sebelumnya dilakukan sebagian besardi Eropa dalam kondisi yang lebih terkontrol. Globalisasi telah membuka pasar untuk operasi yang tidak diatur seperti di Alang. Perusahaan pelayaran dapat menjual kapal-kapal tua mereka kepada perusahaan perantara yang fiktif, yang kemudian menjual baja itu kepada penghancur kapal di India.
XS
SM
MD
LG