Tautan-tautan Akses

Indonesianis Ben Anderson Akan Dikremasi di Surabaya

  • Petrus Riski

Edu Manik berdoa di depan peti jenazah dan foto temannya Ben Anderson. (VOA/Petrus Riski)

Edu Manik berdoa di depan peti jenazah dan foto temannya Ben Anderson. (VOA/Petrus Riski)

Jenazah Ben Anderson, Indonesianis yang meninggal di Jawa Timur pekan lalu, akan dikremasi di Surabaya setelah keluarganya tiba dari Amerika dan Inggris. Menurut rencana, abu jenazah akan ditaburkan di Laut Jawa, sesuai pesan Ben kepada teman-temannya.

Rasa kehilangan yang dirasakan teman-teman, para aktivis dan mahasiswa dengan meninggalnya pakar Indonesia Ben Anderson secara tiba-tiba di Batu, Malang, Jawa Timur hari Minggu lalu (13/12) terobati dengan adanya kesempatan memberi penghormatan terakhir kepada Ben. Sesuai rencana, peti jenazah Ben Anderson dibuka pada hari Selasa (15/12) untuk memberi kesempatan kepada seluruh pihak untuk melihat dan memberi penghormatan terakhir.

Salah seorang kawan dekat Ben Anderson, Edu Manik, mengatakan kepada VOA, peti jenazah akan dibuka untuk umum hingga tanggal 18 Desember mendatang, sebelum nantinya dikremasi. Ditambahkannya adik-adik Ben yaitu Perry Anderson yang masih berada di Amerika dan Melanie Anderson yang berada di Inggris, akan hadir dalam upacara tutup peti dan kremasi jenazah Ben Anderson.

“Ya rencananya dari tanggal 15 sampai 18 kita kasi kesempatan untuk teman-temannya pak Ben memberikan penghormatan terakhir. Tanggal 19 akan dikremasikan di Surabaya, kemudian abu akan bisa diambil 3 hari sesudahnya, kita masih harus rapat bersama adik-adik pak Ben, sama anak angkatnya, akan ditabur di laut Jawa tapi tidak tahu, belum tahu lokasi tepatnya,” kata Edu.

Edu Manik yang ikut menemani Ben Anderson sejak tiba di Jakarta tanggal 9 Desember lalu menduga Indonesianis kelahiran Kunming, China pada 26 Agustus 1936 itu meninggal dunia karena serangan jantung. Ben, menurut Edu Manik, sudah 25 tahun terakhir menderita penyakit jantung, tetapi ia melihat Ben sehat-sehat saja ketika memberi kuliah umum di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada 10 Desember. Dengan bersemangat Ben bahkan meminta diantar berjalan-jalan ke Malang, Jawa Timur.

“Memang dia punya riwayat penyakit jantung sekitar tahun 1990-an, pernah kena serangan jantung. Tapi pada hari saat kejadian itu ya dia seperti biasa saja, ya lelah biasa cuma pada saat itu dia mengorok (mendengkur) sangat keras, beberapa kali beberapa kali gitu, kita bangunkan dia tidak sadar, ya lama-lama akhirnya tidak bernafas lagi, sampai kita bangunkan tidak sadar ya dia meninggal,” tambah Edu.

Banyak pihak merasa kehilangan dengan kepergian Ben Anderson, terutama para aktivis dan mahasiswa yang kerap menjadikan buku dan hasil penelitian Ben sebagai rujukan. Dian Nuswantari, peneliti di Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Surabaya mengatakan sosok Ben yang sangat mencintai Indonesia dapat dilihat dari tulisan-tulisannya mengenai Indonesia yang sangat mendalam, terutama kritik dan upayanya mengungkap sejarah kelam bangsa Indonesia.

“Secara pribadi aku kehilangan sekali, merasakan banget bahwa kita kehilangan satu teman yang luar biasa, yang mau merekam Indonesia dari sejarahnya yang paling kelam, karena tidak banyak orang yang mau membuka sejarah Indonesia yang paling kelam itu, dan itu salah satunya adalah pak Ben. Dan pak Ben ini orangnya meski pun dia orang Amerika tapi sangat Indonesia banget, masakannya pun itu masakan Indonesia, caranya bertutur itu juga Indonesia sekali, budayanya itu budaya Indonesia banget,” kata Dian.

Karangan bunga ucapan bela sungkawa untuk mendiang Ben Anderson di persemayaman jenazah Adi Jasa di Surabaya.

Karangan bunga ucapan bela sungkawa untuk mendiang Ben Anderson di persemayaman jenazah Adi Jasa di Surabaya.

Tulisan Ben yang paling terkenal adalah yang ditulisnya bersama Ruth McVey, yang juga peneliti di Universitas Cornell Amerika, tentang peristiwa G30S. Tulisan yang dikenal sebagai “The Cornell Paper” itu sedianya merupakan kajian rahasia, tetapi kemudian bocor dan diterbitkan oleh Washington Post pada 5 Maret 1966. Dalam tulisan itu Ben menyimpulkan bahwa peristiwa G30S adalah persoalan internal angkatan darat dan bahwa Partai Komunis Indonesia tidak terlibat langsung. Pemerintah Soeharto ketika itu pun marah besar dan melarang Ben masuk ke Indonesia. Permohonanan Ben untuk mendapatkan informasi dan dokumen tambahan untuk melengkapi tulisan itu tidak dipenuhi dan akhirnya tulisan itu dipublikasikan secara resmi pada tahun 1971 tanpa tambahan data apapun.

Tujuh tahun kemudian seorang peneliti lain, Harold Crouch, mempertanyakan keobyektifan “The Cornell Paper,” karena berdasarkan kesaksian beberapa pemimpin PKI dalam sidang Mahkamah Militer Luar Biasa dan juga pernyataan beberapa kelompok PKI di Eropa, diketahui bahwa PKI memang terlibat dalam peristiwa tahun 1965 di Indonesia, meskipun situasi yang menyebabkan keterlibatan itu dan cakupannya masih belum jelas.

Kedua pendapat ini menjadi kajian luas hingga kini. Dian Nuswantara menilai bahan-bahan ini menjadi bahan refleksi untuk menata masa depan bangsa Indonesia di masa depan.

“Bagaimana pun itu sejarah yang harus diungkap dengan gamblang ke permukaan. Sejarah tidak perlu ditutupi, tapi buatku itu menjadi salah satu cara kita untuk merefleksikan perjalanan kita selama ini. Ya memang ada kejadian, tetapi ketika itu sudah terjadi lalu kita mau bagaimana untuk menuju kedepan Indonesia yang lebih baik,” kata Dian.

Hal senada disampaikan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Surabaya, Fatkhul Khoir yang mengatakan Indonesia membutuhkan banyak orang seperti Ben Anderson, yang berani menampilkan kejujuran dan fakta sejarah.

Fatkhul mengatakan, “Dia orang bukan asli orang Indonesia ya, tetapi kecintaannya terhadap Indonesia begitu luar biasa, patut diakui karena kita melihat karya-karya Ben itu lebih banyak mengulas soal bagaimana peta politik Indonesia, bahkan dia orang yang pertama kali ya, bisa dikatakan orang yang punya cukup keberanian yang luar biasa karena membongkar bagaimana peristiwa 1965 di awal-awal pasca peristiwa, dan disitu masih kuat-kuatnya kepemimpinan rezim Orde Baru, Soeharto. Karya-karya Ben juga menginspirasi banyak orang untuk kemudian menjadikan Ben sebagai guru intelektual bagi kader-kader intelektual Indonesia.”

Menurut rencana jenazah Ben Anderson akan dikremasi setelah adik-adiknya tiba dari Amerika dan Inggris. Sesuai pesan Ben, abu jenazahnya akan ditaburkan di Laut Jawa, meski hingga kini belum diputuskan di mana tepatnya. [pr/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG