Tautan-tautan Akses

Indonesia Terbuka Bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik


Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil. (Foto: Dok)

Menko bidang Perekonomian, Sofyan Djalil. (Foto: Dok)

Indonesia awalnya menolak bergabung dengan TPP namun berubah pikiran setelah aturan yang penting untuk mengamankan perjanjian tersebut disahkan Senat AS bulan Juni.

Indonesia sekarang terbuka untuk bergabung dengan perjanjian perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) menyusul kemenangan Presiden AS Barack Obama dalam perlawanan Kongres atas pakta tersebut, menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil, Jumat (7/8).

TPP akan memotong hambatan perdagangan dan menyelaraskan standar-standar di 12 negara Pasifik, termasuk Australia dan Jepang, yang memiliki produk domestik bruto total sebesar US$28 triliun.

Pemerintah Indonesia awalnya menolak bergabung dengan TPP namun berubah pikiran setelah aturan yang penting untuk mengamankan perjanjian tersebut disahkan Senat AS bulan Juni, menurut Sofyan.

"Banyak pembuat kebijakan di Asia tidak yakin Presiden Obama akan mendapat mandat itu," ujar Sofyan dalam wawancara dengan kantor berita Reuters Jumat malam.

"TPP sekarang semakin dekat dengan kenyataan, dan sekarang pilihannya adalah untuk bergabung atau tertinggal."

"Tentu saja kita harus melihatnya, harus mempelajarinya secara komprehensif... Namun secara prinsip, kita tidak ada masalah."

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengemukakan keyakinannya Jumat bahwa pakta itu dapat dituntaskan tahun ini meski negara-negara yang terlibat gagal mengatasi perselisihan mengenai perdagangan otomotif, produk susu dan obat generasi berikutnya dalam negosiasi-negosiasi terakhir.

Indonesia, dengan penurunan ekspor setiap bulan sejak Oktober lalu akibat kejatuhan komoditas, sekarang sedang mempelajari potensi dampak TPP dalam perdagangan luar negeri, ujar Sofyan.

Pemerintah juga akan memulai lagi putaran pembicaraan mengenai perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa bulan depan, tambahnya.

Ekspor Indonesia anjlok 12,8 persen bulan Juni, sementara impor turun 17,42 persen. Ekonomi tumbuh 4,67 persen dalam kuartal kedua, paling lambat sejak 2009.

XS
SM
MD
LG