Tautan-tautan Akses

Indonesia Sangat Kekurangan Alat Deteksi Bencana

  • Fathiyah Wardah

Penyintas (survivors) tsunami di Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai. (Photo: AP)

Penyintas (survivors) tsunami di Pulau Pagai, Kepulauan Mentawai. (Photo: AP)

Meski 50 persen dari garis pantai Nusantara rawan bencana, namun peralatan deteksi bencana di Indonesia sangat tidak memadai.

Wandono, kepala bidang informasi dini gempa bumi dan tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Indonesia, mengatakan pada VOA Jumat (13/7) bahwa meski rawan bencana alam, Indonesia masih sangat kekurangan peralatan deteksi bencana di semua kawasan.

Salah satu yang dirasakan paling mendesak, menurut Wandono, adalah alat penunjang sistem peringatan dini tsunami yaitu sirene peringatan. Dari 1.000 sirene peringatan tsunami yang dibutuhkan, saat ini baru tersedia 31 buah sirene.

Wandono mengatakan kebutuhan sirene tersebut itu dihitung berdasarkan panjang garis pantai di Indonesia. Sekitar 50 persen dari total 80.000 kilometer garis pantai Nusantara dianggap rawan bencana. Separuh dari daerah rawan bencana itu dikategorikan sangat rawan bencana .

Indonesia menurut Wandono saat ini juga hanya memiliki 160 sensor seismic padahal yang dibutuhkan sekitar 300 sensor seismik.

Namun meski alat penunjang sistem peringatan dini gempa dan tsunami masih kurang, tetapi kata Wandono hingga saat ini pihaknya masih bisa menyampaikan informasi terkait gempa dan tsunami kepada masyarakat.

“Kita sudah mampu menginformasikan adanya gempa bumi dan tsunami. Namun peralatan yang terbatas ini tentunya akan berdampak kepada akurasi,” ujarnya pada VOA.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya lima juta warga Indonesia berisiko tinggi terkena tsunami.

Kepala pusat data dan informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan daerah yang rawan tsunami adalah sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Sunda, bagian selatan Jawa, selatan Bali, Nusa Tenggara sampai Halmahera, dan Sulawesi Utara sampai sebelah utara Papua.

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan pihaknya akan segera melakukan langkah antisipasi lewat empat program di daerah-daerah yang rawan tsunami tersebut. Program-program tersebut adalah penguatan rantai peringatan dini, peningkatan kapasitas lembaga, peningkatan sosialisasi kepada masyarakat terkait penanggulangan bencana dan pengembangan industri kebencanaan dalam negeri.

“Sirene tsunami baik yang besar maupun yang berbasis komunitas akan ditempatkan di masjid-masjid dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Mengenai pengembangan industri kebencanaan dalam negeri, karena kita memahami bahwa banyak instrumen-instrumenyang terkait dalam penanggulangan bencana sampai saat ini masih impor. Jadi dalam hal ini instrumen terkait penanggulangan kebencanaan bukan hanya sensor-sensor dalam sistem peringatan dini, tetapi juga yang menyangkut logistic peralatan, tenda, makanan siap saji yang berbasis UKM,” ujarnya.

Program tersebut, menurut Sutopo, akan dilakukan mulai 2013 hingga 2014.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG