Tautan-tautan Akses

Indonesia Keluarkan 'Travel Advice' ke Belgia

  • Fathiyah Wardah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir dalam jumpa pers di kantor Kemenlu, Jakarta, hari Kamis 24/3 (VOA/Fathiyah).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir dalam jumpa pers di kantor Kemenlu, Jakarta, hari Kamis 24/3 (VOA/Fathiyah).

Pemerintah Indonesia hari Kamis (24/3) mengeluarkan 'Travel Advice' kepada seluruh warga negara Indonesia di Belgia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir mengatakan pemerintah Indonesia hari Kamis (24/3) telah mengeluarkan imbauan: bagi warga Indonesia di Brussels dan Belgia untuk selalu waspada, menghindari tempat-tempat yang dapat menjadi sasaran teror, dan selalu menuruti arahan aparat setempat.

Pemerintah Indonesia, tambahnya, juga menyarankan agar WNI di Indonesia menghindari perjalanan ke Belgia.

"Intinya peningkatan status travel advice (ke Belgia) kami keluarkan karena keadaan kemaren dan adanya peningkatan status keamanan yang dilakukan oleh pemerintah Belgia. Jadi mereka itu menerapkan suatu keamanan (kemarin) sempat paling tinggi, level 4," ujar Arrmanatha.

Dalam jumpa pers di kantor Kementerian Luar Negeri Jakarta, Arrmanatha menyatakan tiga warga negara Indonesia telah menjadi korban ledakan bom di bandara Zaventem, Brussels, Belgia, Selasa (22/3).

Ketiga korban luka itu adalah Meilissa Aster Ilona bersama dua anaknya, Lucie Vansilliette (4 tahun) dan Philippe Vansilliette (6 tahun). Ketiganya dirawat di rumah sakit Universitas Hospital Leuven, sekitar 20 menit di luar Brussels.

Arrmanatha mengatakan Meilissa dan Lucie masih dirawat di ruang perawatan intensif dan dalam keadaan kritis. Sedangkan keadaan Philippe sudah stabil.

Menurut Arrmanatha, ketiga warga negara Indonesia tersebut terkena ledakan di bandara saat akan terbang ke Indonesia. Duta Besar Indonesia di Belgia lanjutnya sudah menemui suami korban, yang merupakan warga negara Belgia.

Menurutnya, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Brussels terus berkoordinasi dengan otoritas keamanan dan juga pihak-pihak rumah sakit. KBRI tambahnya juga melakukan koordinasi dengan warga negara Indonesia yang berada di Brussels (sekitar 400 WNI) dan di seluruh Belgia (sekitar 1.200 WNI).

Kedutaan Besar RI di Brussels lanjutnya terus menelusuri apakah ada warga negara Indonesia yang menjadi korban ledakan bom di Brussels, Belgia, dengan mendatangkan rumah sakit-sakit di negara itu.

"Keadaannya saat ini, yang ibu dan satu anak yang perempuan itu dalam keadaan kritis di ICU. Yang satu lagi juga di ICU tetapi lebih stabil," tambah Arrmanatha.

Kelompo ekstremis ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) telah mengklaim bertanggung jawab atas teror di Brussels. [fw/em]

XS
SM
MD
LG