Tautan-tautan Akses

Indonesia Hadapi Pertumbuhan PDB Terlambat dalam 5 Tahun


Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta.

Hal ini merupakan tantangan berat bagi Presiden Joko Widodo, yang telah memasang target diri meningkatkan pertumbuhan tahunan menjadi 7 persen.

Produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,01 persen dalam kuartal ketiga dibandingkan setahun sebelumnya, atau yang paling lambat dalam lima tahun terakhir.

Hal ini merupakan tantangan berat bagi Presiden Joko Widodo, yang telah memasang target diri meningkatkan pertumbuhan tahunan menjadi 7 persen -- angka minimum yang menurut para ekonom penting bagi negara ini untuk mencapai standar kehidupan yang layak sebelum populasi mulai menua dalam 15 tahun.

"Sulit untuk melihat bagaimana ia dapat mencapainya. Ekspor tidak dapat ditingkatkan banyak dan jika ia ingin mencapainya maka sebagian besar harus melalui investasi," ujar Dan Martin dari Capital Economics.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan baru-baru ini bahwa pertumbuhan tidak dapat mencapai 7 persen sampai setidaknya 2016. Anggaran tahun depan didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan akan mencapai 5,8 persen.

Kenaikan suku bunga yang tinggi tahun lalu bertujuan menutup defisit rekening berjalan besar yang telah menekan tuntutan domestik. Investasi tetap tumbuh hanya 4,02 persen dalam kuartal ketiga, paling lambat sejak 2009.

Menurunnya harga-harga global untuk minyak kelapa sawit, karet dan komoditas-komoditas lainnya yang diproduksi Indonesia menekan konsumsi swasta -- pendorong utama pertumbuhan dalam tahun-tahun terakhir -- yang berkembang 5,44 persen dalam kuartal ketiga, turun dari 5,59 persen pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, sektor ekspor kesulitan karena perlambatan di China dan aktivitas stagnan di pasar-pasar besar lainnya seperti Jepang dan Eropa. Pada kuartal ketiga ekspor-ekspor jatuh 0,7 persen, menyusul penurunan-penurunan 0,44 persen pada kuartal pertama dan 1,04 persen pada kuartal kedua.

Nilai rupiah turun 0,1 persen menjadi Rp 12.115 per dolar.

Dorong Investor

Para analis mengatakan Presiden Jokowi tidak memiliki banyak pilihan untuk merangsang ekonomi.

Penurunan harga-harga minyak sebanyak 25 persen sejak Juni telah mengurangi tekanan subsidi energi pada anggaran negara, namun cakupan untuk merangsang aktivitas ekonomi lewat investasi masih sangat terbatas, menurut ekonom Wai Ho Leong dari Barclays bank.

Pemotongan subsidi dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah langkah penting menuju tren baru tingkat pertumbuhan, menurut Leong. Namun dalam jangka pendek hal itu akan menghantam sisa pendapatan konsumen, meski bantuan akan mengurangi tekanan untuk masyarakat miskin.

Bank Indonesia kemungkinan akan meningkatkan tingkat suku bunga lagi ketika AS mulai menaikannya, sepertinya pada pertengahan 2015.

Presiden Jokowi bertujuan meningkatkan investasi swasta dengan membuat melakukan bisnis lebih sederhana.

Meski dihadang oposisi parlemen, pemerintahan Jokowi masih dapat mencapai banyak dengan memberlakukan undang-undang yang ada, seperti salah satunya untuk menghapus kendala-kendala dalam membebaskan tanah dan menghapus birokrasi yang rumit, menurut analis politik Kevin O'Rourke.

Untuk mencapai target pertumbuhannya, Presiden Jokowi "perlu menunjukkan ia akan membuat proyek-proyek investasi berjalan dan memperlihatkan mengapa para investor harus tertarik kembali dengan Indonesia," ujar Martin dari Capital Economics. (Reuters)

XS
SM
MD
LG