Tautan-tautan Akses

Harga Batubara Masih Anjlok, Indonesia Hadapi Bom Waktu Lingkungan Hidup


Para pekerja tambang mengoperasikan truk dan mesin di tambang batu bara milik PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk di kabupaten Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur. (Reuters/Zevanya Suryawan)

Para pekerja tambang mengoperasikan truk dan mesin di tambang batu bara milik PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk di kabupaten Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur. (Reuters/Zevanya Suryawan)

Sumur-sumur tambang yang terbengkalai sekarang menjadi perangkap maut bagi anak-anak yang berenang di dalamnya, dan airnya yang asam membunuh sawah-sawah di dekatnya.

Ribuan tambang tutup di Indonesia karena harga batubara masih anjlok. Namun hampir tidak ada dari perusahaan-perusahaan tersebut yang telah membayar miliaran dolar utang mereka untuk memperbaiki lahan rusak yang mereka tinggalkan.

Sumur-sumur tambang yang terbengkalai tersebar di bukit gundul di Samarinda, Kalimantan Timur. Tempat ini adalah 'ground zero' untuk ledakan batubara yang membuat Indonesia eksportir terbesar di dunia untuk mineral yang menjadi bahan bakar pembangkit listrik itu.

Sumur tambang yang terbengkalai itu sekarang menjadi perangkap maut bagi anak-anak yang berenang di dalamnya, dan airnya yang asam membunuh sawah-sawah di dekatnya.

Pemerintah telah mencoba, sebagian besar sia-sia, untuk membuat para perusahaan tambang memenuhi janji mereka untuk membersihkan lahan rusak tersebut. Namun bahkan tidak ada data dasar mengenai ribuan izin tambang yang diberikan pada masa jaya, menurut para pejabat.

"Tidak ada yang mengontrol," ujar Dian Patria dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bidang sumber daya alam.

Dian memperkirakan bahwa 90 persen dari lebih dari 10.000 pemegang izin pertambangan tidak membayar dana reklamasi yang diwajibkan undang-undang. Sepertiganya adalah untuk batubara.

Bahkan jika mereka bersedia pun, banyak perusahaan yang sekarang kekurangan uang. Bank-bank besar yang meminjamkan miliaran dolar pada masa jaya sekarang menarik diri dari batubara, khawatir akan perkiraan komersial sektor tersebut dan kontribusinya pada perubahan iklim.

Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Seiring anjloknya harga-harga mineral, bahkan para penambang besar global mencoba menghindari biaya penutupan yang semakin besar, sebagian besar dengan menjual sumur-sumur.

Dian dan timnya di KPK sedang mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menyelidiki para penambang, termasuk yang terkait dengan dana rehabilitasi yang belum dibayar, yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar.

Menambang Tanpa Izin

LSM-LSM lingkungan hidup mengatakan meskipun izin menambang telah berakhir atau dicabut, banyak penambang masih beroperasi, misalnya di Kalimantan Timur.

Di daerah-daerah tempat penambang melakukan aktivitas reklamasi, biasanya bukannya dengan menanam kembali hutan. Sebagian besar lahan tambang diubah menjadi perumahan, lahan pertanian atau peruntukan lain, menurut aktivis lingkungan dan industri.

Sementara itu, sumur-sumur yang berisi air dan lumpur, jumlahnya mencapai sekitar 150 di Samarinda saja, mencemari sawah dan sungai di sekitarnya.

Air-air di sumur itu juga menyimpan kisah suram: 24 anak yang menggunakannya sebagai kolam renang telah tenggelam di sekitar Samarinda dalam lima tahun terakhir. [hd]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG