Tautan-tautan Akses

Indonesia, Contoh Islam dan Demokrasi Saling Melengkapi


Kampanye Partai Keadilan Sejahtera, sebagai salah satu partai Islam dalam pemilu 2009. Pemilu yang tertib dan damai di Indonesia menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan seiring.

Kampanye Partai Keadilan Sejahtera, sebagai salah satu partai Islam dalam pemilu 2009. Pemilu yang tertib dan damai di Indonesia menunjukkan bahwa Islam dan demokrasi bisa berjalan seiring.

Inilah salah satu kesimpulan dari diskusi panel yang dihadiri sejumlah duta besar, anggota Kongres dan pemerhati Indonesia di Washington DC.

Islam dan demokrasi saling melengkapi, dan Indonesia merupakan salah satu negara di mana kedua hal ini bisa terlaksana. Inilah salah satu kesimpulan dari diskusi panel yang dihadiri sejumlah duta besar, anggota Kongres dan pemerhati Indonesia di Washington DC.

Indonesia – sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia – terbukti berhasil melaksanakan demokrasi. Duta Besar Indonesia untuk Amerika Dino Patti Djalal menyatakan hal ini dalam diskusi panel di Washington Kamis pagi.

Beberapa hal yang merupakan pencapaian Indonesia antara lain terlaksananya pemilu yang demokratis tanpa kekerasan, ikut sertanya lebih dari 171 juta warga Muslim dan non-Muslim dalam pemilu terakhir tahun 2009 lalu, adanya partai-partai Islam yang terbukti menjadi pendukung kuat demokrasi meskipun warga Muslim tidak serta merta memilih partai Islam dalam pemilu, juga adanya warga Muslim yang semakin toleran terhadap warga dari agama lain.

Dutabesar Dino Pati Djalal mengatakan, “Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Islam dan demokrasi saling mendukung. Islam tidak dapat dan tidak lagi dapat digunakan untuk menolak demokrasi. Indonesia merupakan satu contoh yang kaya dan studi kasus yang sangat menarik atas pertanyaan besar tentang bagaimana Islam dan demokrasi bisa saling mendukung pada abad ke-21”

Pembicara lainnya dalam diskusi panel itu adalah Dr. Laith Kubba – Direktur National Endowment for Democracy. Ia juga dikenal sebagai penasehat senior pemerintah Irak. Dalam wawancara dengan VOA, Dr. Laith Kubba menyatakan kekagumannya soal bagaimana warga Indonesia dapat memahami arti Islam sesuai konteks dan bukan sekedar teks dalam kitab suci semata.

Dr. Laith Kubba mengatakan,Dalam sejarah Muslim tidak ada perincian tentang mekanisme dan proses kelembagaan demokrasi karena perbedaan perkembangan sosial di setiap era. Tetapi esensinya – konsep kebebasan, kedaulatan, kontrak sosial, akuntabilitas dan pemisahan kekuasaan yudikatif dari eksekutif, dapat dengan mudah anda temukan pada teks Al Qur’an. Saya benar-benar kagum bagaimana anda dapat memiliki negara modern dan madani di mana warganya benar-benar nyaman mempraktekkan dan memeluk agamanya. Saya pernah ke Indonesia dan saya kagum baik oleh keanekaragaman dan toleransi di antara warganya, dan saya sangat tertarik akan hal itu”.

Diskusi panel “Islam and Democracy – Evolving Compatibility in the 21st Century” diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Amerika bekerjasama dengan Kedutaan Besar Mali, Bosnia Herzegovina dan Irak, serta Congressional Indonesia Caucus.

Sejumlah pengamat dari berbagai negara ikut menghadiri diskusi di Rayburn House Office Building Washington ini. Duta Besar Indonesia Untuk Amerika Dino Patti Djalal berharap acara semacam ini akan memberi kesempatan pada Indonesia untuk menunjukkan betapa Islam dan demokrasi selama ini berjalan seiring tanpa hambatan berarti. Kalau pun ada radikalisasi atau sekularisme, hal ini dapat diatasi tanpa mengorbankan demokrasi.

XS
SM
MD
LG