Tautan-tautan Akses

Indonesia Bangun Suaka Badak di Ujung Kulon


Badak Jawa, yang jumlahnya tinggal 51 di Ujung Kulon pada 2012. (Foto: Dok)

Badak Jawa, yang jumlahnya tinggal 51 di Ujung Kulon pada 2012. (Foto: Dok)

Tempat tersebut akan mencakup 5.100 hektar lahan hutan hujan, aliran air segar dan kubangan lumpur di taman yang merupakan situs warisan dunia UNESCO.

Badak Jawa, yang oleh penduduk lokal disebut Abah Gede, diperkirakan hanya tinggal sekitar 50 ekor yang tersisa, semuanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, provinsi Banten.

Tapi sekarang para ahli konservasi berharap suaka badak Jawa, yang akan dibuka di taman tersebut beberapa bulan mendatang, dapat melindungi satwa tersebut dari risiko kepunahan.

Tempat tersebut akan mencakup 5.100 hektar lahan hutan hujan, aliran air segar dan kubangan lumpur di taman yang merupakan situs warisan dunia UNESCO tersebut.

Meski baru dibuka Maret, namun pihak taman mengatakan bahwa jejak kaki dan bekas gigitan menunjukkan ada sembilan badak yang telah berkeliaran di daerah-daerah baru yang dikhususkan untuk mereka.

“Hal itu berarti skema kami untuk mengubah tempat perlindungan ini menjadi rumah yang nyaman bagi mereka berhasil,” ujar manajer habitat taman Rusdianto.

Badak-badak tersebut saat ini tinggal di salah satu sudut taman. Suaka baru itu akan memperluas wilayah yang sesuai untuk mereka dan merelokasi petani yang tinggal di dalamnya untuk mengurangi peluang konflik satwa dan manusia.

Tempat itu juga dikelilingi pagar listrik sebagai batas untuk mencegah badak keluar jauh dan manusia datang.

“Mudah-mudahan tempat ini dapat mempercepat perkembangbiakan mereka dan mendorong lebih banyak kelahiran binatang langka yang berharga ini,” ujar kelapa taman Moh. Haryono.

“Di tempat yang lebih tertutup, badak betina dan jantan akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk bergerak dan kawin secara bebas.”

Tempat perlindungan tersebut seharusnya dibuka pada 2011, namun pembangunannya tidak mudah karena adanya birokrasi. Pekerjaan juga terhambat karena warga meminta kompensasi atas pembebasan lahan, dan para aktivis merasa peralatan berat untuk membangun pagar mengancam lingkungan.

Namun hal ini hanya langkah kecil untuk menyelamatkan badak Jawa. Pihak berwenang di Ujung Kulon mengatakan ada 51 badak pada 2012, termasuk delapan anak badak, berdasarkan perkiraan dari gambar-gambar yang tertangkap kamera tersembunyi. Mereka berharap jumlah yang sebenarnya ada di angka 70an.

Badak di seluruh dunia terancam terutama karena perburuan, sebab culanya sering digunakan dalam obat tradisional di Asia.

Jumlah badak Sumatra di Indonesia yang juga terancam mencapai kurang dari 100 ekor.

Masyarakat lokal di Ujung Kulon sendiri percaya bahwa badak Jawa harus dilindungi dan dilestarikan.

“Kita harus melakukan semua yang kita bisa untuk mencegah badak Jawa punah. Kami di sini yakin Abah Gede tidak boleh hilang dari permukaan Bumi, atau akan terjadi bencana untuk manusia,” ujar seorang petani bernama Suhaya, 67. (AFP)
XS
SM
MD
LG