Tautan-tautan Akses

Indonesia Berupaya Jadikan Budaya Sebagai Tambang Emas

  • Sara Schondhardt

Ibu-ibu menyiapkan beberapa jenis rendang dalam acara mencicipi rendang pada 4/8/2012. (Foto: VOA - S. Schonhardt)

Ibu-ibu menyiapkan beberapa jenis rendang dalam acara mencicipi rendang pada 4/8/2012. (Foto: VOA - S. Schonhardt)

Sebuah usaha sedang dijalankan untuk mengekspor tradisi budaya Indonesia pada audiens baru di luar negeri untuk memaksimalkan potensi ekonomi.

Dua orang perempuan terus menerus mengaduk adonan rendang terus menerus dengan sendok besar. Hari ini, mereka akan melayani hampir 100 tamu yang akan belajar mengenai masakan Sumatra Barat ini; bagaimana ia dibuat, asal muasalnya dan arti pentingnya dalam sejarah.

Perekonomian Indonesia baru-baru ini menjadi berita global karena pertumbuhan yang mematahkan semua ekspektasi sebagian besar ahli ekonomi. Nilai belanja domestik yang kuat di Indonesia telah menarik perhatian investor.

Namun di tengah perhatian terhadap bidang ekonomi, para seniman, ahli kuliner dan beberapa pejabat pemerintah saat ini mengeluhkan kurangnya perhatian untuk mempromosikan kekayaan kultural bangsa ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu mengatakan bahwa situasi tersebut harus berubah.

“Kita perlu mengembangkan industri-industri kreatif karena selain memiliki banyak potensi ekonomi, potensinya juga tinggi untuk meningkatkan citra negara,” ujar Mari.

Kementeriannya memiliki 15 subsektor yang fokus pada dukungan terhadap industri-industri kreatif, termasuk film, mode dan tradisi kuliner. Ia mengatakan bahwa makanan, khususnya, memiliki dampak yang hebat untuk memperlihatkan budaya dan dapat membantu meningkatkan sektor pariwisata.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana mengidentifikasi makanan Indonesia yang khas (ikonik) yang sudah dikenal secara internasional, lalu fokus pada promosi nilai sejarah dan asal muasal makanan tersebut untuk menarik konsumen asing.

Rendang kari merupakan salah satu makanan yang banyak disebut dalam diskusi-diskusi tersebut.

William Wongso, ahli kuliner yang berkelana ke seluruh dunia untuk mempromosikan sensasi rasa rendang, mengatakan bahwa makanan tersebut merupakan pintu gerbang dalam mempopulerkan makanan Indonesia di luar negeri.

“[Promosi ini] berhasil di Jepang, di Tiongkok, di Eropa, terutama Eropa, Karena sekarang dunia berfokus pada cita rasa Asia. Hal ini dapat menarik mereka pada makanan yang lain untuk mendapat perhatian,” ujar William.

Selain makanan, label pakaian juga dipakai untuk mempromosikan warisan Indonesia dengan mengkombinasikan pola-pola tradisional dengan gambar-gambar sesuai tren kontemporer. Salah satunya yang dikenal adalah “Damn, I Love Indonesia,” merek pakaian didirikan pada 2008 dengan menyablon kaos dengan simbol-simbol budaya atau gambar pop art dari ikon-ikon politik Indonesia seperti mantan presiden Soekarno.


Peserta saling mengoper piring berisi rendang kari dalam acara diskusi di Jakarta mengenai rendang yang diadakan untuk mempopulerkan rendang di luar negeri. (Foto: VOA - S. Schonhardt)

Peserta saling mengoper piring berisi rendang kari dalam acara diskusi di Jakarta mengenai rendang yang diadakan untuk mempopulerkan rendang di luar negeri. (Foto: VOA - S. Schonhardt)

Mari mengatakan bahwa inisiatif-inisiatif tersebut membantu meningkatkan kebanggaan orang terhadap Indonesia dan dapat memperbaiki profil negara di mata internasional. Demikian juga dengan usaha-usaha untuk mengklaim kembali warisan-warisan bangsa yang terancam hilang secara tidak jelas.

Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya (UNESCO) telah mengakui sejumlah tradisi budaya yang perlu dilindungi, termasuk Tari Saman dari Aceh, angklung dan batik.

Sekarang pemerintah perlu bekerja lebih keras untuk membuat pesan yang menarik audiens global, ujar Mari.

“Kita harus mengidentifikasi kisah-kisah yang ingin kita ceritakan dan kita harus menceritakannya berulang-ulang dan dengan cara yang mengena banyak orang,” tambahnya.

Orang Indonesia sering berbicara mengenai kekayaan sumber daya alam – ekosistem laut yang berlimpah, gunung tinggi menjulang dan lanskap yang indah yang telah menginspirasi sejumlah tradisi budaya paling kaya di Asia Tenggara.

Investasi yang ada sebagian besar ditujukan untuk industri ekstraktif, meski, seperti pertambangan misalnya, membawa banyak uang namun menguras sumber daya nasional dan merusak lingkungan.

Banyak upaya untuk mempopulerkan budaya Indonesia terhalang oleh kurangnya dukungan politik. Dan banyak pihak yang mengatakan bahwa negara ini perlu bekerja lebih keras sebelum orang-orang mulai mengasosiasikan Indonesia dengan kari pedas, pantai pasir putih dan batik aneka warna.

Ariana Alisjahbana, yang menghadiri seminar mengenai rendang, mengatakan bahwa Brazil bisa dijadikan contoh. Negara Amerika Selatan tersebut terkait dengan koktil caipirinha, tarian samba dan supermodel Gisele Bundchen, jelasnya.

“Namun jika Anda sebut Indonesia, Anda tidak bisa langsung mengaitkannya dengan sesuatu hal karena tidak banyak yang elemen budaya yang bisa diidentifikasi orang, dan saya yakin hal itu dimulai dengan ekonomi,” ujar Ariana. “Kita harus bekerja lebih keras supaya di masa depan kita punya referensi-referensi [seperti halnya Brazil] yang banyak.”

Ariana, yang saat ini tinggal di Washington, baru-baru ini menghadiri konferensi diaspora di Los Angeles untuk ribuan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Diselenggarakan oleh Kedutaan Indonesia di Amerika Serikat, topik-topik yang dihadirkan berkisar antara pengembangan usaha sampai politik sampai saran untuk membuka restoran Indonesia di luar negeri.

Saat ini, ujar Mari, Indonesia perlu mulai menceritakan kisahnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG