Tautan-tautan Akses

Indonesia Berencana Kembangkan Wisata Kesehatan

  • Kate Lamb

Pura Ulun Danu Bratan, di dekat kawasan Bedugul, Bali. Bali akan dilibatkan sebagai daerah tujuan wisata kesehatan (foto: dok).

Pura Ulun Danu Bratan, di dekat kawasan Bedugul, Bali. Bali akan dilibatkan sebagai daerah tujuan wisata kesehatan (foto: dok).

Beberapa negara Asia mengembangkan bisnis wisata medis yang menguntungkan dengan menawarkan pengobatan yang murah dan lebih terjamin dibanding pengobatan di negara asal pasien mereka. Sekarang ini pejabat-pejabat kesehatan di Indonesia berharap untuk menarik pasien asing.

Bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya pengobatan di negara sendiri, Asia telah menjadi tempat tujuan berobat yang murah. Untuk operasi plastik, banyak yang memilih Korea Selatan. Tiongkok menjadi tujuan bagi pencangkokan organ, sementara Thailand populer sebagai tempat memperbaiki geligi dan mengencangkan kulit wajah.

Minggu lalu, Kementerian Kesehatan Indonesia mengumumkan rencana untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat tujuan wisata kesehatan tahun 2015. Meskipun saat ini hanya ada lima rumah sakit yang diakui secara internasional di Indonesia, Kementerian Kesehatan berharap jumlahnya akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam tiga tahun ke depan.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Supriyantoro mengatakan Indonesia akan segera mempromosikan pelayanan semacam itu kepada wisatawan-wisatawan dari kawasan Asia.Ia menjelaskan, “Target utama kami yang pertama adalah Asia, lalu Asia Pasifik, terutama dari Australia, Malaysia dan Thailand. Meskipun kami tahu bahwa Malaysia dan Thailand sekarang ini memiliki program wisata medis yang lebih baik dari kami.”

Pulau wisata Bali, yang sudah populer sebagai daerah tujuan wisata kesehatan, akan menjadi fokus utama rencana itu.

Dokter asal Singapura, Wei Siang Yu mengatakan pulau yang dijuluki sebagai Pulau Dewata itu mungkin akan segera memiliki julukan baru. Ia mengatakan, “Saya pikir Singapura, Thailand dan bahkan Malaysia memimpin sebagai tempat tujuan wisata kesehatan tersier, tetapi dalam bidang wisata kesehatan menyangkut kesuburan, belum ada yang benar-benar memimpin sekarang ini dan disitu teknologi bisa berperan…Bali sudah memiliki reputasi interasional yang sangat baik dan merupakan tempat yang indah dan industri kesehatan sudah berjalan baik di Bali.

Dengan semakin banyak perempuan yang memutuskan untuk menikah dan punya anak pada usia yang lebih tua, Dr Wei mengatakan ada pasar yang berkembang bagi pengobatan fertilisasi in vitro atau IVF yang tersedia dengan biaya murah dan lingkungan Bali kondusif bagi upaya itu.

“Pelayanan kesehatan menyangkut nilai-nilai bio-psikososial…Penting sekali bagi orang yang akan menjalani pengobatan IVF secara keseluruhan untuk mengatakan bahwa kondisi mereka secara sosial dan psikologis cukup baik yang akan membuat tubuh rileks dan mengalami detoksifikasi. Keseluruhan faktor penyebab stress, polusi lingkungan bisa mempengaruhi kualitas sel sperma dan sel telur," uhar Dr Wei.

Kementerian Kesehatan juga ingin bekerjasama dengan beberapa rumah sakit di Australia dan Eropa sehingga bisa menyediakan layanan berkelas dan spesialis diberbagai bidang seperti ortopedi dan terapi trauma.

Tetapi dengan besarnya jumlah orang kaya Indonesia yang bepergian ke Singapura dan Malaysia untuk berobat, para pengkritik sedikit skeptis karena menganggap sistim kesehatan Indonesia tidak akan mampu bersaing.

Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Prijo Sidipratramo, pemerintah Indonesia belum menjalankan prioritas yang seimbang. Ia mengatakan, “Sebelum Kemenkes mengeluarkan pernyataan semacam itu, mereka harus paham bahwa masih banyak orang yang tidak mampu mendapatkan pengobatan. Saya pikir komitmen atau tanggung jawab pemerintah Indonesia adalah memberi pelayanan kesehatan bagi semua warga Indonesia. Itu adalah tugas utama, yang paling penting. Dan menyangkut wisata kesehatan di Indonesia, hal ini bisa diberikan kepada sektor swasta, bukan pemerintah.”

31 juta lebih penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan, tidak semua orang bisa mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.

Dalam program pemerintah, setiap warga negara secara teknis berhak mendapat layanan kesehatan gratis, tetapi banyak warga miskin yang tidak bisa berobat. Terutama di wilayah pedalaman karena kurangnya jumlah klinik atau dokter untuk memenuhi kebutuhan warga setempat.

XS
SM
MD
LG