Tautan-tautan Akses

Indonesia-AS Sepakati Perjanjian Bisnis Senilai US$20 Miliar


Penandatanganan kerjasama bisnis antara perusahaan Indonesia dan AS di Washington, DC (26/10). (VOA/Vina Mubtadi)

Penandatanganan kerjasama bisnis antara perusahaan Indonesia dan AS di Washington, DC (26/10). (VOA/Vina Mubtadi)

Presiden mengatakan Indonesia berkomitmen untuk menciptakan iklim bisnis yang lebih bersahabat bagi para investor, namun ia meminta mereka untuk bersabar.

Presiden Joko Widodo pada Senin malam (26/10) di Washington DC menyaksikan penandatanganan kerja sama bisnis antara perusahaan Indonesia-AS yang bernilai lebih dari US$20 miliar.

Dalam pidatonya di hadapan ratusan pebisnis AS dan Indonesia, Presiden mengatakan bahwa Indonesia berkomitmen untuk melakukan reformasi ekonomi, sebagai upaya untuk menciptakan iklim bisnis yang lebih bersahabat bagi para investor. Namun, ia meminta para pengusaha, yang disapanya sebagai “kawan lama,” untuk bersabar.

“Reformasi ekonomi memakan waktu. Reformasi ekonomi adalah sebuah proses. Kita tidak akan bisa melakukannya secara instan, tetapi kita akan terus berupaya mereformasi dan melakukan lebih baik, hingga tercapai,” ujarnya.

Dalam acara jamuan makan malam di gedung Kamar Dagang AS tersebut, Presiden juga mengumumkan kembali keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Kemitraan Trans-Pasifik (TPP), rencana perjanjian dagang yang digagas oleh AS, Jepang dan negara-negara Asia Pasifik.

Sebelumnya, Presiden menyaksikan penandatanganan belasan kerjasama bisnis antara puluhan perusahaan Indonesia dengan AS yang bernilai lebih dari US$20 miliar dolar. Sebelas perjanjian diantaranya berasal dari sektor energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, mengatakan hal itu menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik yang besar.

“Di antara 14 perjanjian bisnis itu ada $3,5 miliar yang merupakan investasi langsung dari perusahaan AS ke Indonesia terutama di bidang kelistrikan. Kita mensyukuri itu. Itu artinya daya tarik Indonesia sebagai negara yang sedang tumbuh tetap tinggi, dan terutama di mata investor AS," ujarnya kepada VOA.

Senada dengan Sudirman, Presiden dan CEO Dewan Bisnis AS-ASEAN Alexander Feldman dalam pidatonya memuji berbagai langkah konkret yang telah dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi untuk menarik investor asing.

Salah satunya adalah diterapkannya Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 35/2015 yang memudahkan izin tenaga kerja asing. Peraturan tersebut baru disahkan Jumat lalu.

“Kami berterima kasih atas langkah yang cepat. Ini merupakan satu lagi contoh bahwa pemerintah Indonesia mendengarkan masukan para pengusaha, dan Presiden Jokowi tegas melakukannya," ujarnya.

Bertepatan dengan kunjungan Jokowi ke AS, Kamar Dagang AS dan Kamar Dagang AS di Indonesia hari Senin merilis sebuah studi yang menyoroti berbagai tantangan perdagangan dan investasi asing di Indonesia.

Studi yang berjudul “Taking Stock: US-Indonesia Investment” itu memberikan sejumlah rekomendasi, diantaranya agar Indonesia menerima lebih banyak investasi asing, menghapuskan kontrol atas mata uangnya, dan tidak membatasi tenaga kerja asing.

XS
SM
MD
LG