Tautan-tautan Akses

Indonesia-AS Bentuk Kerjasama dalam Teknologi Prediksi Iklim

  • R.Teja Wulan

Lokakarya Kemitraan Indonesia-AS mengenai Laut dan Iklim di Bandung, 12-14 Agustus 2015. (VOA/R. Teja Wulan)

Lokakarya Kemitraan Indonesia-AS mengenai Laut dan Iklim di Bandung, 12-14 Agustus 2015. (VOA/R. Teja Wulan)

Selama ini metode prediksi iklim yang dilakukan di Indonesia sedikit menurun, sehingga informasi mengenai kondisi iklim dan cuaca tidak begitu akurat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia bekerjasama dengan Badan Nasional Kelautan dan Atmosferik AS (NOAA) dalam mengembangkan teknologi untuk memprediksi iklim melalui kelautan.

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan di Bandung baru-baru ini dalam acara tahunan Lokakarya Tahunan Kemitraan Indonesia-AS yang ke-10. Selain untuk memprediksi iklim secara akurat, kerjasama BMKG dan NOAA bertujuan untuk mempersiapkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Selama ini metode prediksi iklim yang dilakukan di Indonesia sedikit menurun, sehingga informasi mengenai kondisi iklim dan cuaca tidak begitu akurat, menurut BMKG.

Kepala BMKG Pusat, Andi Eka Sakya mengatakan, dengan adanya kerjasama ini diharapkan prediksi iklim ekstrem di Indonesia bisa lebih akurat, misalnya dalam memprediksi El Nino dan La Nina. Pengembangan teknologi yang dilakukan antara BMKG dan NOAA tersebut berpatokan pada observasi dan riset iklim kelautan atau ocean climate.

Program kerjasama ini juga dilakukan untuk memelihara dan merawat Buoy Atlas yang terdapat di kawasan Samudera Hindia yang dekat dengan Indonesia. Buoy Atlas adalah alat pelampung atau sistem yang banyak memberikan manfaat, diantaranya mengukur tinggi gelombang laut, tinggi arus laut, tinggi suhu laut, arah dan kecepatan angin.

Alat ini juga berfungsi memetakan potensi energi, menentukan daerah penangkapan ikan, dan keamanan. Selain itu, sistem tersebut juga membantu mitigasi bencana gempa tektonik yang terjadi di dasar laut atau bencana Tsunami.

“Kerjasama ini saya kira sangat bagus sekali, karena sebelumnya mungkin aktivitasnya agak turun, terus kemudian BMKG mulai ikut serta dan aktif di situ menjadi koordinator dan jadi leading sector. Untuk melakukan atau mendiskusikan hal tersebut ada data-data yang perlu kita kumpulkan. Data-data itu diperoleh dari pelampung-pelampung atau buoy yang sudah dipasang oleh pihak Amerika, pihak Jepang, pihak Korea di Pasifik maupun di lautan Hindia. Tapi di dalam proses kerjasama ini kita lakukan maintenance di Buoy yang di lautan Hindia, karena ini dekat dengan Indonesia," ujar Andi.

Andi menambahkan, bentuk kerjasama yang akan dikembangkan antara BMKG dan NOAA tersebut yaitu melalui lokakarya berkelanjutan dan mengirimkan staf BMKG setiap tahunnya untuk mengenyam pendidikan master dan doktoral bidang iklim di Amerika Serikat.

Sementara itu, koordinator internasional NOAA, Sidney Thurston mengatakan, kerjasama ini dapat memberikan dampak positif bagi kondisi sosial dan ekonomi Indonesia.

“Elemen pertama adalah pengamatan kelautan dan iklim. NOAA menyediakan alat-alat untuk mengamati parameter-parameter laut. Sementara Indonesia menyediakan ship time atau jam layar. NOAA, terutama di Pusat Prakiraan Cuaca dan Iklim sudah telah bekerjasama dengan Afrika selama 25 tahun, dan sekarang kami senang mengundang Indonesia untuk pelatihan semaca itu," ujarnya.

Selain untuk memudahkan prediksi iklim, kerjasama BMKG dengan NOAA ini juga dikatakan merupakan upaya dalam mempersiapkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Seperti diketahui, saat ini pemerintah Indonesia telah meletakkan dasar untuk membangun negara sebagai sumbu maritim dunia. Dalam hal ini laut memiliki peran utama sebagai penentu cuaca dan iklim, sehingga kerjasama antara badan-badan nasional dan internasional yang berkaitan dengan pengumpulan data laut harus lebih ditingkatkan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG