Tautan-tautan Akses

India Perketat Pemeriksaan Makanan setelah 'Recall' Mie Instan

  • Anjana Parischa

Makanan instan Maggi di sebuah pasar swalayan di Bangalore, India (5/6).

Makanan instan Maggi di sebuah pasar swalayan di Bangalore, India (5/6).

Setelah India memerintahkan mie instan produksi perusahaan Swiss, Nestle, diturunkan dari rak-rak makanan akibat kekhawatiran akan keamanannya, pihak berwenang memperluas pemeriksaan dengan mengikutkan merek-merek lain produk mie, pasta dan makaroni.

Laporan bahwa mie instan Maggi mengandung timbal dan penyedap rasa monosodium glutamat (MSG) dalam tingkatan tinggi pertama berasal dari sebuah kota terpencil di salah satu provinsi termiskin di India, Uttar Pradesh.

Dalam beberapa hari terakhir, badan pengawas makanan menyatakan mie Maggi "tidak aman dan berbahaya bagi konsumsi manusia" dan memerintahkan salah satu recall makanan terbesar di India. Setidaknya enam negara bagian dan angkatan darat India melarang peredaran mie instan populer ini, yang merupakan salah satu produk Nestle yang terjual paling cepat di India.

Nestle telah membantah hasil tes tersebut dan menyatakan produknya aman, sementara badan pengawas makanan India juga menguji coba tujuh merek lain mie, pasta dan makaroni.

Mie Maggi termasuk salah satu panganan populer yang dijual oleh penjaja makanan ini di Dalhousie, India (9/6).

Mie Maggi termasuk salah satu panganan populer yang dijual oleh penjaja makanan ini di Dalhousie, India (9/6).

Pimpinan Equinox Labs di Mumbai, Ashwin Bhadri, yang membantu perusahaan-perusahaan dalam mematuhi peraturan keamanan pangan, menyebut langkah ini seharusnya dilakuan sejak dulu.

"Ini sesuatu yang seharusnya dilakukan lebih berkala, terutama untuk produk-produk dengan sirkulasi jutaan. Seharusnya ada mekanisme untuk mengecek (keamanan) dan segalanya tidak bisa diserahkan pada perusahaan bersangkutan. Saya yakin merek-merek ini berupaya sebaik mungkin, tapi pemerintah perlu turun tangan dan melakukan lebih banyak pemeriksaan," ujar Bhadri.

Beberapa negara seperti Kanada dan Inggris juga telah memerintahkan pengujian mie Maggi yang diimpor dari India.

Di India, kontroversi ini mengundang reaksi beragam. Selama 30 tahun terakhir, mie Maggi seharga 20 sen menjadi sebuah snack ikonik, dijual di "kedai-kedai Maggi" tersebar di berbagai pelosok India, menjadi favorit anak-anak dan mahasiswa yang tinggal di hostel-hostel.

Shweta Andrews (kanan) dan teman-temannya menunjukkan sepiring mie Maggi yang telah dimasak. Ia dan teman-temannya masih menyantap mie Maggi di tengah kontroversi kandungan timbalnya.

Shweta Andrews (kanan) dan teman-temannya menunjukkan sepiring mie Maggi yang telah dimasak. Ia dan teman-temannya masih menyantap mie Maggi di tengah kontroversi kandungan timbalnya.

Sejumlah penggemar Maggi masih menyantap mie instan ini. Saat mengunjungi sebuah resor di Lansdowne di pegunungan Himalaya timur akhir pekan lalu, Shweta Andres dan sekelompok teman-temannya menikmati mie Maggi di tengah berita penarikan kembali jenis panganan ini.

"Saya rasa tidak ada masalah makan (mie) Maggi. Saya makan Maggi sejak kecil, sama sekali tidak masalah. Malah saya jadi ingin hari ini," kata Andrews.

Para pakar mengatakan di negara di mana pemalsuan makanan marak, dan kebersihan makanan meragukan, konsumen kelas menengah mengandalkan makanan dalam kemasan dari perusahaan-perusahaan besar seperti Nestle.

Tapi Amit Khurana yang mengepalai tim keamanan pangan di Pusat Sains dan Lingkungan Hidup di New Delhi, berharap insiden ini akan menggulirkan kesadaran akan pentingnya pengawasan terhadap makanan kemasan, baik oleh konsumen maupun regulator. Ia menekankan bahwa standar makanan

"Mungkin perlu ada standar pemantauan yang lebih ketat. Jadi kalau ada hikmahnya, ya, mungkin makanan kemasan tidak seaman seperti yang dikiran. Kita masih tidak mewajibkan [pelabelan] sesuatu seperti garam, yang perlu ditunjukkan kadarnya di paket. Kita masih jauh dari sesuatu seperti pelabelan kadar nutrisi. Jadi masih banyak yang harus dilakukan dari sisi regulasi," ujar Khurana.

Badan pengawas makanan India baru didirikan tujuh tahun lalu dan kebanyakan berfokus pada kontaminasi produk makanan. Pakar mengatakan pelaksanaan dan penegakannya, seperti halnya dengan hukum-hukum lain di India, masih lemah.

Walaupun begitu, kontroversi ini dapat membantu perusahaan-perusahaan makanan, baik besar maupun kecil, untuk menjadi lebih siap menghadapi konsumen yang lebih awas dan regulator yang lebih agresif. Ashwin Bhadri dari Equinox mengatakan pasaran makanan di India tumbuh dengan pesat.

"[India] adalah salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat bagi makanan kemasan karena dengan meningkatkan variasi, daya beli juga tumbuh, semakin sedikit orang yang memasak makanan segar, jadi makanan kemasan menjadi kategori yang terus tumbuh, dan saya tidak melihat ini akan berubah dalam beberapa tahun ke depan," kata Bhadri.

Ini bukan pertama kalinya, sebuah merek global menyulut perdebatan di India. Tahun 2006, penjualan Coca Cola dan Pepsi merosot di negara ini setelah sebuah kelompok advokasi menyebut bahwa minuman ringan tersebut mengandung jejak pestisida.

Tapi mereka kembali dengan sebuah kampanye agresif menentang laporan tersebut. Tahun 2003, perusahaan coklat Cadbury meluncurkan sebuah kampanye besar-besaran untuk kembali memenangkan hati masyarakat setelah kabar cacing ditemukan di coklat batangan mereka.

Nestle mengatakan pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang India untuk "mengatasi kebingungan," dan CEO Nestle, Paul Bulcke, mengunjungi New Delhi, Jumat, berjanji untuk meraih kembali kepercayaan dari konsumen. Tapi masih harus dinanti apa yang harus dilakukan oleh raksasa panganan dari Swiss ini untuk kembali menjadikan mie instan Maggi sebagai santapan sehari-hari warga India.

XS
SM
MD
LG