Tautan-tautan Akses

Incar Ekspor, China Tingkatkan Riset atas Pesawat Militer Tak Berawak


Pesawat-pesawat tak berawak buatan China. (Foto: Dok)

Pesawat-pesawat tak berawak buatan China. (Foto: Dok)

Peneliti pasar Forecast International memperkirakan Aviation Industry Corp of China (Avic), akan menjadi pembuat drone militer terbesar pada 2023.

China meningkatkan penelitian atas pesawat militer tak berawak atau drone di saat industri persenjataannya tampak akan menaikkan volume ekspor, berharap mendapat daya tarik dengan teknologi lebih murah dan kemauan untuk menjual produk ke negara-negara yang kurang diminati Barat.

Meski teknologinya ketinggalan dari Amerika Serikat dan Israel, pedagang-pedagang terbesar kendaraan udara tak berawak (UAV), China menarik semakin banyak pembeli asing termasuk Nigeria, Pakistan dan Mesir.

China sebelumnya telah cukup berhasil mengekspor pesawat militer tanpa awak, namun negara itu berharap penjualan UAV lebih baik mengingat produk itu lebih murah dan lebih mudah untuk diproduksi.

"Penelitian dan pengembangan pesawat tanpa awak di negara kami sekarang memasuki fase kemajuan kecepatan tinggi," ujar Xu Guangyu, pensiunan mayor jenderal dari Tentara Pembebasan Rakyat.

"Kami harus mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju tentunya, tapi pasar ekspor tumbuh."

Peneliti pasar Forecast International memperkirakan nilai produksi pesawat militer tak berawak di seluruh dunia mencapai US$942 juta tahun lalu dan akan tumbuh menjadi $2,3 miliar pada 2023.

Produsen drone terbesar di China, Aviation Industry Corp of China (Avic), diperkirakan oleh Forecast akan menjadi pembuat drone militer terbesar pada 2023.

Pesawat tak berawak Wing Loong produksinya dijual hanya $1 juta, menurut laporan-laporan media China. MQ-9 Reaper buatan AS yang terkadang menjadi pembanding dihargai sekitar $30 juta.

‚Äč

XS
SM
MD
LG