Tautan-tautan Akses

Nama Ima Matul muncul di permukaan setelah ia diumumkan sebagai salah satu pembicara pada konvensi nasional Partai Demokrat yang berlangsung di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Ima yang bernama lengkap Imamatul Maisaroh ini berbagi panggung dengan Presiden AS ke-42, Bill Clinton yang tampil tak lama setelah ia menyampaikan pidatonya. Sebagai penyintas perdagangan manusia, perempuan asal Gondanglegi, Malang, Jawa Timur ini diundang berbicara tentang pengalaman traumatisnya disiksa sang majikan selama 3 tahun sejak 1997, sebelum melarikan diri berkat pertolongan tetangga.

Ima mengaku baru menerima undangan berbicara satu minggu sebelumnya dan baru hari Sabtu lalu mendapatkan konfirmasi. Ia pun langsung memposting di Facebook pribadinya tentang kesempatan berharga itu dan tak lama kemudian media sosial pun ramai membicarakannya.

“Saya deg-degan sekali tapi juga senang dan excited banget bicara di democratic convention ini di depan ribuan orang,” kata Ima saat diwawancara VOA langsung melalui Facebook live.

Meskipun tidak tahu kenapa ia yang dipilih untuk berbicara di konvensi nasional Partai Demokrat itu meskipun ada aktivis perdagangan Indonesia lainnya di Amerika, Ima berharap semakin banyak orang sadar tentang dampak buruk perdagangan manusia dan semakin banyak komunitas, bisnis serta institusi agama yang mau merangkul penyintas perdagangan manusia.

Dampak buruk perdagangan manusia ini lama dirasakan oleh Ima. Ia mengaku membutuhkan waktu lama untuk bisa sembuh dari trauma yang dialaminya sebagai korban. Pada tahun-tahun pertama, ia selalu menangis ketika menceritakan pengalamannya dan baru memasuki tahun ke-12 ia bisa tidak menangis.

Ima prihatin dengan masih banyaknya kasus-kasus serupa yang terjadi di Amerika. Ia pun mengajak para korban untuk berani melaporkan apa yang mereka alami. Ima memuji Hillary Clinton selaku capres Partai Demokrat atas upayanya memberantas perdagangan manusia, bahkan jauh sebelum isu itu menjadi perhatian banyak orang.

“Personally saya suka Hillary, saya pengen lihat presiden perempuan. Amerika belum pernah punya presiden perempuan. and also dia itu orangnya... gimana ya... sejak muda, sejak kecil kerjaannya tuh into human rights, humanity, dia itu perduli dengan rakyat-rakyat kecil,” ujarnya.

Meski sudah menjadi warga Amerika, Ima yang kini duduk sebagai anggota dewan penasehat Presiden Obama dalam bidang perdagangan manusia berencana akan ikut membantu memberantas kasus perdagangan manusia di tanah air.

Ketika ditanya oleh salah seorang follower Facebook VOA Indonesia rencananya untuk pulang ke tanah air, ia mengatakan, “Saya sudah sebagai penduduk Amerika ya, kalau saya ke Indonesia rencana saya dengan Mentari, nanti Insya Allah, kalo pulang Oktober ke Indonesia untuk bekerja dengan yayasan di Indonesia, di 3 atau 4 kota." Mentari adalah organisasi yang dibentuknya bersama Shandra Woworuntu yang juga penyintas perdagangan manusia.

Kini, Ima mengisi kesehariannya dengan bekerja untuk koalisi pemberantasan perbudakan dan perdagangan manusia atau CAST yang bermarkas di Los Angeles, California.

Tonton Facebook live VOA bersama Ima Matul

XS
SM
MD
LG