Tautan-tautan Akses

Ilmuwan: Melindungi Hutan Saja Tidak Cukup


Foto yang diambil pada 15 September 2009 ini menunjukan wilayah hutan yang gundul dekat Novo Progresso di negara bagian utara Brazil, Para. Pemerintah Brazil mengatakan perusakan hutan hujan tropis Amazon meningkat 28 persen. Peningkatan tajam penggundulan hutan terjadi pada periode sepanjang Agustus 2012 sampai Juli 2013, ketika Brazil mengukur kerusakan hutan tahunan. (AP Photo/Andre Penner, File)

Foto yang diambil pada 15 September 2009 ini menunjukan wilayah hutan yang gundul dekat Novo Progresso di negara bagian utara Brazil, Para. Pemerintah Brazil mengatakan perusakan hutan hujan tropis Amazon meningkat 28 persen. Peningkatan tajam penggundulan hutan terjadi pada periode sepanjang Agustus 2012 sampai Juli 2013, ketika Brazil mengukur kerusakan hutan tahunan. (AP Photo/Andre Penner, File)

Melindungi hutan dunia dianggap sebagai cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Hutan menyimpan banyak karbon baik di pohon-pohon dan tanah yang ada di dalamnya, yang membantu mengurangi perubahan iklim. Tapi beberapa ilmuwan mengatakan melindungi hutan saja tidak akan bisa secara signifikan mengurangi emisi.

Diperkirakan perlindungan hutan bisa menghambat 77 milyar ton karbon dioksida masuk ke atmosfir sampai pada tahun 2100.

Ilmuwan Alexander Popp mengatakan “melindungi hutan untuk menghambat perubahan iklim tentu saja sangat berguna.”

“Menghindari penggundulan hutan, umumnya, adalah aspek yang sangat penting, dalam hal menghindari emisi karbon, tapi juga dari perspektif lainnya seperti perlindungan keanekaragaman hayati, mata pencaharian lokal atau aspek iklim lokal,” ujarnya.

Popp, pemimpin kelompok manajemen penggunaan lahan di Potsdam Institute for Climate Impact Research, mengatakan walaupun mencegah penggundulan hutan memang memberikan efek yang menguntungkan, mungkin ada konsekuensi kalau hanya itu yang dilakukan.

“Emisi memang berkurang, tapi yang bisa kita observasi adalah sekarang ada emisi baru yang timbul akibat sejenis efek kebocoran, efek perpindahan,” ujarnya.

Dalam kata lain, melindungi hutan artinya jenis lahan lain akan digunakan untuk menanam tanaman. Popp mengatakan hal tersebut akan berdampak pada kerugian lingkungan.

“Kerugian ekosistem non-hutan yang juga memiliki kadar karbon yang tinggi dalam tanah, di tumbuh-tumbuhan, seperti savana lahan basah, contohnya, di Afrika atau padang rumput, dan juga mempunyai kadar keragaman hayati yang tinggi,” ujarnya.

Tingginya kadar keragaman hayati artinya banyak spesies tanaman dan hewan.

Perundingan perubahan iklim termasuk REDD atau Reduced Emissions from Deforestation and Degradation atau Pengurangan Emisi dari Penggundulan Hutan dan Degradasi. Tapi Popp mengatakan perjanjian tersebut hanya fokus pada perlindungan hutan.

“Keuntungan terbesar dari mitigasi perubahan iklim bisa dicapai dengan … skema perlindungan hutan dan melibatkan jenis lahan lainnya yang mengandung kadar karbon yang tinggi,” ujarnya. “Kami melakukan stimulasi komputer dan melihat tiga peraturan penggunaan lahan yang bisa diterapkan di masa depan: satu skenario tanpa pelestarian karbon apapun; satu skenario yang hanya mencegah penggundulan hutan; dan satu lagi yang melindungi semua jenis penggunaan lahan yang mempunyai kadar karbon yang tinggi.”

Model yang terpadu tersebut menghasilkan keuntungan karbon terbesar dan melindungi keragaman hayati. Tapi apabila sebagian besar jenis lahan dilindungi, bagaimana produksi agrikultur bisa ditingkatkan untuk memberi makan populasi global yang tumbuh dengan sangat cepat?

Popp mengatakan salah satu caranya adalah dengan meningkatkan hasil pertanian dari ladang-ladang yang sudah ada.

“Di Afrika sub-Sahara, ada banyak potensi untuk hasil agrikultur yang sedang kami amati dan oleh karena itu lebih potensial untuk produksi agrikultur," ujarnya. "Bila hasil panen ini bisa ditingkatkan dibandingkan dengan hasil yang kita amati sekarang, dan memperbaiki manajemen pertanian kecil, akan menjadi nilai tambah yang artinya bisa mengurangi penggunaan lahan dengan kadar karbon tinggi dan oleh karena itu mengurangi ekspansi pertanian.”

Cara lainnya untuk memenuhi kebutuhan makanan di masa depan, ujarnya, adalah dengan mengurangi limbah produksi pertanian. Banyak makanan yang hilang melalui metode panen yang tidak baik dan kurangnya tempat penyimpanan yang memadai dan transportasi yang memadai. Dan juga, penelitian menunjukkan makanan yang senilai milyaran dollar terbuang setiap tahun di negara-negara berkembang.

Contohnya, Natural Resources Defense Council memperkirakan “40 persen makanan di Amerika Serikat tidak termakan…setara dengan $165 milyar setahun.” Badan tersebut juga mengatakan makanan tersebut kemudian membusuk di tempat pembuangan sampah dan menambahkan jenis gas rumah kaca lainnya pada atmosfer, methane. Produksi ternak di negara berkembang, ujarnya, juga menggunakan banyak sumber daya yang juga memproduksi banyak methane.

Popp mengatakan bila permintaan komoditas pertanian dikurangi dengan mengurangi limbah dan membuat pertanian semakin efisien, permintaan penggunaan lahan akan menurun.

“Dengan mengurangi tingkat produksi yang dibutuhkan dari lahan secara otomatis akan terjadi pengurangan tekanan terhadap tanah, dan oleh karena itu ekpansi lahan untuk produksi pertanian ke lahan-lahan kosong, seperti hutan atau lahan alami lainnya akan berkurang,” ujarnya.

Karena lambatnya kemajuan yang dicapai dalam perundingan perubahan, Popp dan rekannya meragukan akan ada pendekatan yang komprehensif yang akan dicapai sekarang. Mereka mengatakan “pendekatan yang lebih bisa dicapai” adalah melindungi wilayah non-hutan yang bisa menyimpan banyak karbon dan mempunyai keragaman hayati yang bagus. Rencana REDD, menurut mereka, harus direvisi agar dana bisa dialihkan ke program-program yang tidak terkait dengan hutan.

Konferensi perubahan iklim berikutnya akan berlangsung di Lima, Peru. Dikenal sebagai COP 20 – atau konferensi – pertemuan tersebut berlangsung pada 1-12 Desember.

XS
SM
MD
LG