Tautan-tautan Akses

Ilmuwan Dorong Lebih Banyak Penelitian Soal Plasenta


Seorang ibu hamil menunggu giliran pemeriksaan dokter, termasuk soal Zika, di rumah sakit Escuela di Tegucigalpa, Honduras. (Foto: Dok)

Seorang ibu hamil menunggu giliran pemeriksaan dokter, termasuk soal Zika, di rumah sakit Escuela di Tegucigalpa, Honduras. (Foto: Dok)

Cacat lahir yang mengejutkan akibat virus Zika memusatkan perhatian akan keperluan mendesak untuk mempelajari bagaimana plasenta yang sehat berfungsi dan menemukan pengobatannya ketika bermasalah.

Para ilmuwan dengan hati-hati menyelidiki plasenta kebiruan yang masih utuh yang disumbangkan setelah melahirkan. Ini adalah organ manusia yang paling misterius dan menyimpan petunjuk bagaimana plasenta memberi kehidupan dan bagaimana plasenta bisa bermasalah, menyebabkan lahir meninggal, kelahiran dini bahkan infeksi seperti virus Zika yang bisa menembus pelindungnya.

Di laboratorium di seluruh Amerika riset penting sedang dilakukan untuk memahami dan memantau jaringan lembek, penuh darah yang sering diabaikan setelah melahirkan, organ yang memberi nyawa sekitar sembilan bulan dan kemudian dibuang.

Risikonya sangat besar. Plasenta melakukan segala hal, menumbuhkan jabang bayi, berfungsi sebagai jantung, ginjal dan hati, memberi kekebalan bahkan menghasilkan hormon-hormon penting.

Dr. Nadav Schwartz dari rumah sakit Universitas Pennsylvania mengatakan, sangat sulit untuk memeriksa, mengevaluasi dan memahami plasenta ketika masih dalam kandungan dan berfungsi.

“Kita menyia-nyiakan plasenta,” kata Dr. Catherine Spong dari Lembaga Kesehatan Nasional Amerika yang mendorong digalakkannya riset melalui Program Plasenta Manusia bernilai US$50 juta dolar.

Ia menambahkan, meski demikian plasenta memiliki dampak seumur hidup bagi ibu dan bayi. Dr. Nadav Schwartz sepakat mengenai hal itu.

Schwartz mengatakan, karena begitu banyak plasenta yang berfungsi baik, kita harus sadar bahwa ada kalanya plasenta bermasalah dan sangat sulit bagi kita untuk melihat apa yang salah sampai bayi lahir.

"Tantangannya adalah kita berusaha mengevaluasi plasenta itu dengan cara agar bisa mengetahui masalahnya lebih awal dan mengatakan 'kehamilan ini sudah bermasalah'," ujarnya.

Cacat lahir yang mengejutkan akibat virus Zika memusatkan perhatian akan keperluan mendesak untuk mempelajari bagaimana plasenta yang sehat berfungsi dan menemukan pengobatannya ketika bermasalah.

Dr. Yoel Sadovsky, peneliti plasenta terkemuka dari University of Pittsburgh Medical Center, memperingatkan, “esok mungkin ada virus baru”.

“Jika sebuah virus ingin menyerang manusia mungkin saat terbaik melakukannya adalah pada masa kehamilan dimana virus menyerang generasi berikutnya," ujarnya.

Para dokter saat ini hanya memiliki peralatan terbatas untuk memeriksa plasenta sepanjang kehamilan. Seberapapun berharganya plasenta yang disumbangkan, mempelajari plasenta setelah kelahiran bagaikan menghitung lapisan pohon pada pohon tumbang untuk menggambarkan anak pohon.

Yang dibutuhkan ilmuwan dan dokter kandungan adalah cara melihat bagaimana plasenta terbentuk dan berubah dalam berbagai tahap kehamilan.

Hal ini dapat membantu melihat lebih dini masalah-masalah seperti pre-eclampsia, yakni komplikasi tekanan darah yang bisa mengancam keselamatan ibu dan bayi. Kondisi itu berdampak sampai 8 persen pada kehamilan tapi biasanya tidak terdeteksi sampai kuartal kedua meskipun diperkirakan karena plasenta yang tidak normal.

Di sebuah lab di Washington, insinyur Avinash Eranki mengamati plasenta yang disumbangkan itu, meneliti bagian yang melekat pada ibu. Lapisan terluarnya terbuat dari sel-sel yang disebut trophoblasts yang merasuk ke dinding uterus kemudian ke pembuluh darah ibu hamil memperbesarnya untuk mengalirkan darah ke jabang bayi.

Teorinya adalah jika sel-sel tersebut meleset dan pembuluh darah tidak cukup besar dampak buruknya plasenta kesulitan untuk mendukung jabang bayi dan akhirnya menekan organ-organ tubuh sang ibu sendiri.

Tim peneliti dari Children's National Health System menggunakan bioprinter tiga dimensi untuk menciptakan model unik hidup mengenai bagaimana plasenta terbentuk untuk meniru bagaimana trophoblasts membuat pasokan darah itu. Mesin pencetak itu memasok lapisan demi lapisan sel-sel manusia dan bahan-bahan lainnya yang dibutuhkan agar plasenta tumbuh.

Jika riset itu rampung, model itu bisa membantu para peneliti untuk menguji cara-cara guna mendeteksi pre-eclampsia lebih awal dan melakukan intervensi. Sekarang satu-satunya cara untuk mengatasi penyakit yang parah itu adalah dengan melahirkan bayi secara prematur. [my/al]

XS
SM
MD
LG