Tautan-tautan Akses

Ilmuwan: Pertanian Harus Jadi Isu Utama Perubahan Iklim

  • Joe de Capua

Ilmuwan mendesak agar pertanian menjadi isu utama dalam perundingan perubahan iklim (foto:dok).

Ilmuwan mendesak agar pertanian menjadi isu utama dalam perundingan perubahan iklim (foto:dok).

Ilmuwan mendesak supaya pertanian dijadikan prioritas utama dalam perundingan perubahan iklim, karena penting bagi ketahanan pangan dan mengurangi emisi karbon.

Kelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Sir John Beddington, kepala penasihat Sains pemerintah Inggris, mendesak supaya pertanian dijadikan prioritas utama dalam perundingan perubahan iklim.

Para ilmuwan menyatakan hal itu dalam sebuah artikel berjudul, “Apa Selanjutnya bagi Pertanian Pasca Durban?”, menyusul KTT iklim PBB di Durban yang berakhir bulan Desember lalu. Artikel itu menyebut ada “kemajuan besar” dalam perundingan di sana untuk membantu petani beradaptasi dengan perubahan iklim sambil mengurangi dampak pertanian terhadap pemanasan global.

Professor Molly Jahn dari Universitas Wisconsin-Madison adalah salah seorang penulis artikel di majalah Science tersebut. Ia mengatakan, “Pertanian sangat penting, dan wajib bagi ketahanan pangan. Dan di sini kita lemah sehingga memerlukan perhatian terutama mengingat kenaikan harga pangan belakangan ini.”

Harga pangan di pasar internasional tetap tinggi sejak krisis pangan 2007/2008.

Jahn mengatakan pertanian adalah penyebab utama gas rumah kaca, tetapi pertanian juga membuka kesempatan untuk memperkecil efeknya dengan kebiasaan pertanian yang sudah diketahui dan terbukti manfaatnya.

Artikel majalah Science itu menyebutkan dengan “masuknya pertanian ke dalam proses perundingan perubahan iklim berjalan lambat.” Namun, menurut artikel itu, pada saat yang sama tekanan perubahan iklim, mempengaruhi ketahanan pangan sementara pertumbuhan penduduk “jauh lebih cepat.”

Jahn mengatakan para ilmuwan berharap bisa mempengaruhi para pembuat kebijakan.

Diantara berbagai rekomendasi termasuk menempatkan pertanian di depan dan menjadi pusat perhatian dalam mempertimbangkan kebijakan. "Sambil beralih ke pertanian yang ramah iklim, kita perlu menjamin bahwa komunitas yang paling rawan akan dipertimbangkan dalam strategi kebijakan apapun," ujar Jahn.

Jahn mengatakan rekomendasi lainnya adalah untuk mengurangi sejumlah besar pangan yang terbuang atau rusak, dalam rantai makanan dan memilih tanaman yang tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Dengan pengetahuan saat ini, banyak yang bisa kita lakukan dengan anggaran yang ada sekarang dan dalam struktur ekonomi saat ini akan membawa kita ke kondisi yang lebih baik terutama dalam praktek pertanian di negara berkembang dan negara maju.”

Artikel di majalah itu menyerukan agar para ilmuwan “mengambil peran yang lebih penting” dengan memastikan tersedianya data-data yang jelas bagi perundingan perubahan iklim. Artikel itu menyebut data tersebut bisa membantu memacu investasi di bidang pertanian.

Guru besar Jahn mengingatkan bahwa “jendela kesempatan untuk mencegah krisis kemanusiaan, lingkungan dan iklim akan tertutup dengan cepat.” Dia menambahkan tindakan mendesak sangat diperlukan.

Peran pertanian dalam perubahan iklim diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan Rio+20 bulan Juni mendatang. Pertemuan di Brasil itu akan menandai 20 tahun peringatan Konferensi PBB urusan Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, yang juga dikenal sebagai KTT Bumi.

XS
SM
MD
LG