Tautan-tautan Akses

Ilmuwan AS Kembangkan Alat Kejut Baru untuk Pulihkan Detak Jantung

  • Art Chimes
  • Zefanya Rampengan

Seorang dokter menunjukkan alat kejut listrik (defribillator) jantung model lama. Makin banyak studi menunjukkan arus tegangan tinggi bisa merusak sel-sel otot jantung sendiri.

Seorang dokter menunjukkan alat kejut listrik (defribillator) jantung model lama. Makin banyak studi menunjukkan arus tegangan tinggi bisa merusak sel-sel otot jantung sendiri.

Kejutan listrik model baru terbukti efektif memulihkan detak jantung binatang menjadi normal dan jika sukses pada manusia bisa menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan kejutan listrik yang lama.

Di televisi atau film-film sering ditunjukkan orang terkena serangan jantung atau detak jantungnya cepat tidak terkendali, dan bisa mengakibatkan kematian. Dokter memasang alat kejut pada dada pasien dan memberi kejutan listrik sehingga detak jantung pasien kembali normal.

Kejutan jantung atau defibrilasi pertama kali didemonstrasikan lebih dari satu abad lalu, dan teknologi yang melandasinya belum berubah dalam beberapa dekade terakhir. Kini para periset di Universitas John Hopkins di Baltimore, tengah mengupayakan cara baru untuk memberi kejutan pada jantung agar kembali berdetak normal.

Alat kejut atau defibrillator bekerja dengan memberi kejutan listrik dari baterei bertegangan tinggi ke jantung. Kejutan hanya berlangsung 1/10 detik, tapi Dr. Harikhrisna Tandri mengatakan kejutan itu biasanya cukup untuk membuat jantung berdetak kembali .

"Namun, makin banyak studi yang menunjukkan bahwa arus tegangan tinggi dari baterei itu bisa merusak sel-sel otot jantung sendiri,"kata Dr. Tandri.

Dan bila alat kejut itu dipasang dalam tubuh, kejutan singkat itu bisa sangat menyakitkan. Sebagai alternatif bagi kejutan arus listrik baterai yang ada sekarang, Tandri dan rekan-rekannya mengembangkan alat kejut yang menggunakan arus listrik biasa yang digunakan orang di rumah untuk menghidupkan lampu dan menyalakan peralatan rumah tangga.

Salah satu defibrillator model baru yang dikembangkan oleh Guidant Corp (foto: dok). Ilmuwan di Universitas John Hopkins, AS tengah mengembangkan alat kejut baru untuk dipakai di rumah-rumah.

Salah satu defibrillator model baru yang dikembangkan oleh Guidant Corp (foto: dok). Ilmuwan di Universitas John Hopkins, AS tengah mengembangkan alat kejut baru untuk dipakai di rumah-rumah.

Arus listrik itu bisa memicu aritmia atau detak yang tidak beraturan pada frekuensi yang dipakai di rumah-rumah.

Dr. Tandri menjelaskan, "Kalau menggunakan frekuensi 50-60 hertz, kemungkinan orang akan mengalami aritmia. Namun jika kita meningkatkan frekuensi menjadi sekitar 200-500 hertz, kita melihat otot-otot jantung tersentak tapi tidak kembali relaks."

Akibatnya otot-otot jantung yang biasanya berkontraksi dan relaks, terhenti oleh arus listrik frekuensi tinggi itu.

Dalam tes menggunakan kelinci percobaan, para periset memakai arus kejutan itu sekitar 1/3 detik untuk menstabilkan detak jantung kelinci.

"Kalau kita mempertahankan arus frekuensi tinggi itu sel-sel otot jantung akan berhenti dan bila arus listrik dihentikan otot-otot itu akan kembali rileks seperti sebelumnya.Jadi sel-sel otot itu kembali dalam kondisi relaks-nya dan ketika jantung mulai berdetak kembali, semua sel-sel bergerak dengan sinkron sebagaimana seharusnya untuk memompa darah ke seluruh tubuh," papar Dr. Tandri lagi.

Selanjutnya, Dr. Tandri mengatakan, langkah berikutnya adalah menguji teknik itu pada binatang yang lebih besar, kemungkinan babi yang sering digunakan periset sebagai pengganti manusia.

Jika semua berjalan baik, kata Tandri, cara baru kejut listrik itu kemungkinan akan digunakan bersama-sama alat kejut listrik baterai yang ada sekarang ini. Bahkan alat kejut itu dan alat kejut listrik biasa bisa dipasang dalam satu alat, baik dalam unit ukuran besar untuk digunakan di RS-RS dan ambulans atau dalam bentuk kecil yang dipasang di jantung pasien.

Makalah Harikhrisna Tandri mengenai cara baru mengejutkan jantung agar kembali berdetak normal di terbitkan dalam jurnal, Science Translational Medicine.

XS
SM
MD
LG