Tautan-tautan Akses

Penelitian di Afrika: Cincin 'Dapivirine' Kurangi Risiko Penularan HIV


Peneliti HIV Zimbabwe, Felix Mhlanga mengatakan bahwa percobaan dengan cincin "dapivirine" memberikan harapan untuk mencegah penularan HIV (foto: dok).

Peneliti HIV Zimbabwe, Felix Mhlanga mengatakan bahwa percobaan dengan cincin "dapivirine" memberikan harapan untuk mencegah penularan HIV (foto: dok).

Para ilmuwan di Afrika mengatakan mereka maju selangkah lagi untuk sepenuhnya mencegah penularan HIV.

Para peneliti Afrika telah mempelajari cincin vagina yang mengandung obat antiretroviral yang disebut dapivirine.

Hasil penelitian mengungkapkan cincin dapivirine, yang dipasang dalam saluran reproduksi perempuan dan digunakan selama satu bulan, mengurangi risiko infeksi HIV sampai 27 persen secara keseluruhan.

Penelitian, yang disingkat ASPIRE ini - A Study to Prevent Infection with a Ring for Extended use - dilakukan di Malawi, Uganda, Afrika Selatan dan Zimbabwe. Lebih dari 2.600 perempuan mengambil bagian dalam studi ini antara tahun 2012 dan 2014.

Peneliti Zimbabwe, Felix Mhlanga memperkenalkan ungkapan "Ada harapan dalam ASPIRE".

"Ada harapan dalam arti kita punya alat pencegahan yang mampu menangkal satu dari tiga infeksi. Kita juga memiliki harapan dalam arti, jika ada dana, cincin ini dapat diproduksi sepenuhnya untuk digunakan. Banyak penularan terjadi pada perempuan muda, 60 persen di antaranya. Untuk pertama kalinya, mereka memiliki produk yang dapat mereka gunakan dan kita benar-benar tidak perlu menjelaskannya kepada orang lain. Ini tidak seperti kondom yang harus dirundingkan dengan pasangan," ujar Mhlanga.

Mhlanga adalah salah seorang periset dari program penelitian bersama Universitas Zimbabwe dan Universitas California di San Francisco dalam kesehatan perempuan.

Lembaga-lembaga Kesehatan Nasional AS mendanai penelitian itu.

Dalam uji coba kedua, yang disebut The Ring Study, risiko tertular HIV berkurang 31 persen secara keseluruhan, dan 37 persen di antara peserta berusia 21 tahun ke atas.

Aktivis HIV, Tariro Kutadza mengatakan hasil tersebut membuatnya khawatir bahwa mereka yang berusia di bawah 21 tidak menggunakan cincin itu secara efektif.

"Saya pikir itu terkait sikap mereka, mereka melihatnya seperti mode. Mungkin kita harus menemukan cincin mereka dan mengembangkan pilihan lain. Sehingga ketika mereka bosan menggunakan cincin itu, mereka dapat menggunakan yang lain. Saya pikir begitu lah orang-orang muda. Di situ saya khawatir, yang berarti masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan," kata Kutadza.

Kemajuan dalam menghambat penularan HIV akan disambut dengan gembira di Zimbabwe dan negara-negara tetangganya. Perkiraan menunjukkan dari 34 juta pengidap HIV di seluruh dunia, 69 persen tinggal di sub-Sahara Afrika. [as]

XS
SM
MD
LG