Tautan-tautan Akses

Iklan Google Dituding Dorong Perdagangan Gading Gajah


Gading-gading gajah yang disita dari pasar gelap di Gabon. (Foto: Dok)
Gading-gading gajah yang disita dari pasar gelap di Gabon. (Foto: Dok)

Sebuah kelompok konservasi mengklaim iklan-iklan di Google telah mendorong peningkatan perdagangan ilegal gading gajah.

Sebuah kelompok konservasi alam mengklaim bahwa Google memiliki persamaan dengan pedagang gading gajah gelap di Tiongkok dan Thailand. Raksasa Internet itu dianggap telah membantu mendorong peningkatan dramatis dalam permintaan gading di Asia yang membunuh gajah-gajah Afrika dengan tingkat yang mencapai rekor.

Environmental Investigation Agency (EIA), sebuah kelompok advokasi konservasi, mengeluarkan pernyataan Selasa (5/3) bahwa ada sekitar 10.000 iklan di situs belanja Google Jepang yang mempromosikan penjualan gading.

Sekitar 80 persen dari iklan-iklan tersebut adalah untuk “hanko,” atau stempel kayu kecil yang digunakan secara luas di Jepang untuk mengecap dokumen resmi. Sisanya adalah untuk ukiran dan benda-benda kecil lainnya.

Hanko digunakan dari mulai menyewa rumah sampai membuka rekening bank. Stempel ini legal dan biasanya dihiasi gading gajah.

EIA mengatakan penjualan hanko di Jepang merupakan “pendorong permintaan besar untuk gading gajah dan telah berkontribusi terhadap pemunculan kembali perburuan gajah skala besar di seluruh Afrika.”

Dalam tanggapannya kepada kantor berita Associated Press, Google mengatakan, “Iklan-iklan untuk produk yang dibuat dari spesies yang terancam atau langka tidak diizinkan di Google. Begitu kami mendeteksi iklan yang melanggar kebijakan iklan kami, kami akan menghapusnya.”

EIA telah meminta Google untuk menghapus iklan-iklan tersebut.

“Sementara gajah dibunuh secara massal di Afrika untuk memproduksi barang dari gading, sangat mengejutkan menemukan Google, dengan sumber daya yang begitu masif, gagal menegakkan kebijakannya sendiri untuk melindungi gajah yang terancam,” ujar Allan Thorton, presiden EIA yang berbasis di AS.

Mengekang perdagangan “gading berdarah” merupakan agenda teratas Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam (CITES) yang beranggotakan 178 negara, yang bertemu di Bangkok minggu ini untuk membahas perlindungan keanekaragaman hayati dengan mengatur perdagangan flora dan fauna yang legal untuk memberantas penyelundupan.

Sekitar 70 tahun yang lalu, sampai lima juta gajah diyakini berkeliaran di Afrika bagian sub-Sahara. Sekarang, hanya beberapa ratus ribu yang tersisa.

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi di Asia dan permintaan gading yang meningkat membuat pembunuhan gajah mencapai tingkat terparah dalam lebih dari dua dekade. Tahun lalu saja, sekitar 32.000 gajah dibunuh di Afrika, menurut yayasan Born Free Foundation, yang mengatakan bahwa gading gajah dijual di pasar gelap seharga US$1.300 per setengah kilogram. Sebagian besar menjadi cenderamata dan hiasan ukiran.

CITES melarang perdagangan gading internasional pada 1989, namun langkah itu tidak menyasar pasar domestik.

Kebijakan iklan Google menyatakan bahwa Google “tidak mengizinkan promosi produk-produk yang dibuat dari spesies-spesies yang langka atau terancam,” termasuk gading gajah, cula badak dan produk-produk dari ikan paus, hiu dan lumba-lumba.

Thorton memuji kebijakan tersebut “namun sayangnya kebijakan itu tidak ditegakkan dan itu sangat menyedihkan.”

Beberapa orang yang berbelanja di Internet juga menyatakan kekhawatirannya karena menduga gading gajah dijual di situs-situs lain, termasuk eBay. Beberapa barang yang ditawarkan lebih dari $1.000 per barang dipasarkan sebagai “tulang sapi” atau “gading tiruan.”

Kelompok konservasi alam liar International Fund for Animal Welfare (IFAW) yang berbasis di Inggris mengatakan mereka telah bekerja dengan eBay untuk membantu menegakkan kebijakan anti perdagangan gading dengan menunjukkan bagaimana peraturan diremehkan dan meningkatkan upaya untuk mengawasi barang-barang yang mencurigakan.

Pada 2007, IFAW menduga eBay merupakan “salah satu saluran utama bagi perdagangan di alam liar dan perdagangan produk-produk alam liar yang dilakukan secara daring,” namun mereka mengatakan situs belanja tersebut kemudian bekerja sama dengan IFAW menyusul informasi riset mengenai perdagangan ilegal. (AP/Todd Pitman)
XS
SM
MD
LG