Tautan-tautan Akses

Ikhwanul Muslimin Tampaknya Unggul dalam Pemilu Mesir

  • Elizabeth Arott

Mohamed Morsi, kandidat Presiden dari Partai Ikhwanul Muslimin sementara memimpin perolehan suara pilpres Mesir.

Mohamed Morsi, kandidat Presiden dari Partai Ikhwanul Muslimin sementara memimpin perolehan suara pilpres Mesir.

Sementara petugas pemilu Mesir menghitung suara hasil pemilu presiden yang bersejarah, partai Ikhwanul Muslimin mengklaim bahwa kandidatnya kini unggul.

Mohamed Morsi, kandidat dari Partai Ikhwanul Muslimin, tampaknya hanya salah satu di antara beberapa kandidat yang memperoleh suara dalam jumlah besar dalam pemilu yang akan berlanjut ke putaran kedua itu.

Hasil awal menunjukkan calon dari Ikhwanul Muslimin, Mohamed Morsi, sejauh ini memimpin dengan sekitar 30 persen surat suara yang sudah dihitung.

Tapi tidak jelas siapa yang mungkin berada di tempat kedua dan berpotensi menghadapi Morsi dalam pemilu putaran berikutnya bulan depan. Mantan Komandan Angkatan Udara Ahmed Shafiq dan seorang sosialis Hamdeen Sabahi, favorit para aktivis muda yang popularitasnya melonjak pada hari-hari terakhir kampanye, tampaknya saling kejar mengejar dalam perolehan suara.

Kandidat Islami Independen, Abdel Moneim Aboul Fotouh, juga masih kuat kedudukannya, meskipun mantan menteri luar negeri dan mantan Ketua Liga Arab Amr Moussa tampaknya tertinggal.

Hasil penghitungan suara dari kota-kota besar, termasuk Kairo dan Alexandria, belum dirilis. Hasil perhitungan suara terakhir yang resmi diharapkan akan diumumkan pekan depan.

Keberhasilan Ikhwanul Muslimin tampaknya tidak mungkin diragukan, karena organisasi tersebut, sejak 80 tahun yang lalu, mendapat dukungan luas di kalangan akar rumput.

Tapi jika seperti dinyatakan Ikhwanul Muslimin, calon teratas berikutnya adalah Shafiq, berita ini bisa menjadi menghebohkan. Shafiq, perdana menteri untuk sebentar saja dan yang terakhir dibawah mantan Presiden Hosni Mubarak, melambangkan apa yang disebut lawannya sebagai "felool" atau sisa yang dibenci semasa pemerintah lama.Bahkan para pendukungnya bersikap bertahan.

Sameh Anwar Ahmed seorang karyawan kafe mengatakan ia kagum kepada Ahmed Shafiq sejak ia masih menjadi seorang anggota wamil. Dia dengan menantang menambahkan bahwa dia salah seorang yang mencintai Presiden Mubarak. Sekelompok orang di sekitarnya mencemoohkannya atas kesetiaannya itu.

Shafiq dikejar massa yang marah ketika dia ke TPS untuk memilih di Kairo pekan ini. Banyak posternya dirusak dengan disiram cat merah, sedangkan di pedesaan, kampanyenya kewalahan oleh dukungan bagi calon lain.

Para aktivis muda yang berada di belakang revolusi itu mengutuk kembalinya orang-orang lama, termasuk Moussa, tetapi kata mereka adalah kemenangan Shafiq yang akan membawa mereka kembali turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Periset di Human Rights Watch Heba Morayef yakin dewan militer yang berkuasa, biarpun jika tergoda, tidak akan mencoba untuk mempengaruhi pemilu itu demi Jendral Shafiq.

"Menurut saya tidak mungkin Shafiq bisa menang dalam sebuah pemiliu yang bebas dan adil. Maksud saya, Amr Moussa paling tidak namanya dikenal, jadi jika saya ingin ikut merekayasa hasil pemilu ini, - jika saya adalah militer, saya akan mencoba untuk membuat Moussa menang dalam Pemilu ini,” ungkap Morayef.

Karena penghitungan suara dilakukan langsung di masing-masing TPS dengan kehadiran sejumlah pemantau di lapangan, umumnya orang berharap pemilu ini akan berlangsung adil.
XS
SM
MD
LG