Tautan-tautan Akses

Lembaga HAM: Krisis Migran akibat Islamofobia


Para pengungsi tiba di pulau Lesbos, Yunani, dari Turki (9/9).

Para pengungsi tiba di pulau Lesbos, Yunani, dari Turki (9/9).

Negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara kaya Teluk Persia mendapat kecaman dari organisasi-organisasi hak asasi manusia karena tidak berbuat cukup utuk membantu krisis migran Timur Tengah.

Negara-negara Eropa Timur enggan memberi status pengungsi dalam jumlah besar bagi orang-orang yang melarikan diri dari penindasan dan konflik, dan mengizinkan mereka bermukim di negara-negara tersebut. Negara-negara Teluk Persia hanya menerima pekerja migran, tetapi membiarkan terbuka opsi mendeportasi mereka setiap saat.

Dalam wawancara dengan VOA, Kenneth Roth, direktur eksekutif Human Rights Watch yang berbasis di Amerika, mengatakan negara-negara anggota baru Uni Eropa telah menunjukkan sikap fobia bersejarah dalam menangani isu pengungsi Muslim dari Timur Tengah yang dilanda konflik.

Roth mengatakan negara-negara Eropa Timur hendaknya berbagi - tidak hanya manfaat, tetapi juga tanggung-jawab sebagai anggota Uni Eropa - artinya berbagi kewajiban hukum menerima orang yang mencari suaka.

Roth mengatakan krisis pengungsi sekarang bukan krisis dalam bentuk jumlah - jumlah pengungsi ini hanya 1 persen dari penduduk Uni Eropa dan negara-negara anggota dapat dengan mudah menyerap mereka - tetapi ini adalah krisis politik yang disebabkan oleh Islamofobia dan pertimbangan politik.

Tidak ada pengungsi Suriah telah dengan resmi dimukimkan kembali di negara-negara Teluk Persia seperti Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab, walaupun para pejabat Teluk Persia mengatakan ada orang Suriah yang telah masuk dengan visa pengunjung dan tidak pulang. Organisasi-organisasi HAM mengatakan orang-orang yang telah diizinkan tinggal datang dari keluarga kaya dan kuat. Roth mengecam Arab Saudi dan negara-negara Teluk Persia lain karena tidak menerima pengungsi.

XS
SM
MD
LG