Tautan-tautan Akses

Hujan Masih Akan Turun, Masyarakat Diminta Waspada


Banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah (Foto: dok).

Banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah (Foto: dok).

Cuaca yang mendukung sepanjang hari Senin (20/6) membantu petugas dalam melalukan evakuasi korban meninggal di berbagai daerah di Jawa Tengah, yang menjadi lokasi bencana banjir dan tanah longsor.

Meski dibayangi mendung, setidaknya pada Senin (20/6), hujan tidak mengguyur beberapa wilayah yang terkena bencana di Jawa Tengah. Ratusan petugas gabungan baik dari TNI, kepolisian, Badan SAR, Tagana, hingga relawan organisasi masyarakat terlibat dalam proses evakuasi. Kegiatan dalam skala cukup besar terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu Kabupaten Banjarnegara, Kebumen dan Purworejo. Dari ketiganya, Purworejo adalah wilayah yang terdampak paling parah dengan korban terbanyak.

Kepala Badan SAR Nasional Kantor Semarang, Agus Haryono kepada VOA menjelaskan, operasi evakuasi korban hari Senin diakhiri pukul 17.00 WIB. Sejak pagi hingga sore, khusus di Purworejo ditemukan tujuh korban lagi.

Dengan demikian sudah ditemukan 28 korban meninggal dan 12 korban masih dalam proses pencarian. Sementara di Banjarnegara, enam korban telah berhasil ditemukan. Sedangkan di Kebumen, proses evakuasi berhasil menemukan dua mayat, dan emapt belum ditemukan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di seluruh Jawa Tengah dinyatakan korban meninggal dunia dari banjir dan tanah longsor dari 16 kabupaten total mencapai 47 orang dan 15 orang masih dinyatakan hilang.

Agus Haryono menambahkan, setelah dua hari aparat dan masyarakat hanya bisa melakukan pembersihan kawasan dengan cangkul dan sekop, hari Senin siang alat berat sudah bisa masuk di lokasi longsor Purworejo. Mulai Selasa, diharapkan proses pembersihan dapat dilakukan lebih cepat, dan 12 korban yang tertimbun tanah segera dapat diperlukan.

Sesuai peraturan, tim SAR memiliki waktu hingga tujuh hari untuk mencari korban. Agus berharap cuaca mendukung upaya ini, meski perkiraan dari BMKG, hujan masih akan turun setidaknya dalam beberapa hari ke depan.

“Menurut perkiraan dari BMKG memang untuk curah hujan tiga hari ke depan di Jawa Tengah ini memang masih tinggi. Masyarakat kita minta untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di tempat-tempat yang rawan bencana banjir dan tanah longsor. Ini karena memang karena BMKG sudah memberikan rekomendasi, tentunya kita minta masyarakat untuk waspada. Sedang yang tinggal di kawasan rawan bencana harus siaga. Sewaktu-waktu harus mengungsi, ya kita harapkan bersedia mengungsi. Tapi, tentunya ini semua kita lihat situasi yang berkembang,” kata Agus Haryono.

Kabupaten Purworejo sendiri adalah salah satu wilayah di Jawa Tengah dengan tingkat kerawanan longsor cukup tinggi. Bulan Februari 2016 lalu, longsor juga terjadi di kecamatan yang berbeda dengan tujuh orang menjadi korban. Bencana kali ini juga diikuti dengan banjir cukup besar terutama di wilayah selatan Purworejo, karena meluapnya sungai-sungai.

Dwi Hartanto dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo kepada VOA menuturkan, karena cukup sering terjadi bencana, petugas kesehatan di wilayah tersebut sudah cukup terlatih menghadapinya.

Secara otomatis, setiap bencana muncul, posko kesehatan langsung berdiri. Termasuk dalam bencana banjir dan tanah longsor kali ini. Dinas Kesehatan setempat juga memiliki stok obat-obatan dalam jumlah cukup. Ada satu Puskesmas yang terdampak longsor, karena lokasinya yang terisolir, serta satu Puskesmas terendam banjir dua meter, tetapi perannya dapat digantikan oleh pusat layanan lain.

“Kita saat ini sedang persiapan untuk program penjernihan air bagi korban bencana. Penanganan korban yang luka sudah kita tangani di rumah sakit umum daerah. Kita sudah siap dengan bencana, biasanya begitu terjadi bencana, otomatis kita langsung buka posko-posko kesehatan,” kata Dwi Hartanto.

Purworejo, Kebumen, Wonosobo dan Banjarnegara adalah empat kabupaten di sisi selatan wilayah Jawa Tengah, yang sebagian wilayahnya berada di perbukitan. Bukit-bukit ini membentang, mulai dari wilayah DI Yogyakarta di timur hingga Banyumas di sisi barat Jawa Tengah.

Dataran tinggi ini adalah hulu bagi sejumlah sungai besar yang mengalir ke Samudera Indonesia, yang umumnya mengalami banjir akhir pekan lalu.

Tanah longsor adalah bencana yang kerap terjadi mengiringi banjir semacam ini. Salah satu bencana tanah longsor yang cukup besar, terjadi di Banjarnegara pada 13 Desember 2014, dengan 93 korban meninggal dan 23 korban tidak ditemukan. [ns/ab]

XS
SM
MD
LG