Tautan-tautan Akses

Hujan Efektif Bantu Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan

  • Fathiyah Wardah

Asap akibat kebakaran hutan di Propinsi Riau (Foto: dok).

Asap akibat kebakaran hutan di Propinsi Riau (Foto: dok).

Melihat sangat efektifnya hujan intensitas tinggi dalam membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan, pemerintah akan memanfaatkan pertumbuhan awan hujan untuk disemai menjadi hujan buatan guna mempercepat proses pemadaman.

Hujan sudah mulai turun di sejumlah daerah yang terkena kabut asap, antara lain di Jambi, Riau, dan hampir di semua daerah di Kalimantan. Hujan selama 1,5 jam itu terjadi pada hari Senin (26/10).

Pelaksana Tugas Sementara (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman dalam telekonferensi dengan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Pandjaitan dan sejumlah menteri – antara lain Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo – di kantor BNPB Jakarta mengatakan pasca turunnya hujan, kabut asap di Palangkaraya dan Riau berkurang dan jarak pandang membaik hingga mencapai dua ribu meter.

Pesawat komersil yang selama beberapa waktu sempat berhenti beroperasi di Riau, mulai hari Rabu (28/10) sudah kembali dioperasikan.

Menko Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan mengatakan hujan yang terjadi di sejumlah daerah tersebut sangat signifikan mengurangi titik api. Untuk itu dia meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memanfaatkan potensi pertumbuhan awan untuk disemai menjadi hujan buatan guna mempercepat pemadaman asap kebakaran hutan dan lahan.

Luhut yakin titik api akan berkurang secara signifikan jika dalam empat hari ini terdapat banyak awan yang mungkin digunakan untuk memancing hujan. Selama ini tidak ada awan untuk disemai sehingga sulit dibuat menjadi hujan buatan.

Dalam jumpa pers di kantor BNPB Rabu (28/10), Luhut mengakui bahwa pemerintah salah memperkirakan dampak El Nino yang menyebabkan hujan datang terlambat. Pemerintah pun tambahnya tidak menduga jika dampak El Nino tahun 2015 ini sangat parah dibanding tahun 1997. Menurut Luhut, pemerintah terus berupaya keras untuk memadamkan api dan mengevakuasi warga berdasarkan skala prioritas.

"Turun hujan minggu ini. Jadi kalau minggu ini kita bisa 4 hari berturut-turut dengan intensitas yang tinggi maka kita water bombing jalan terus. Saya berharap minggu depan bisa kembali kepada normal. Itu pikiran kita tapi sekali lagi itu tergantung pada hujan,” kata Menko Polhukam Luhut Panjaitan.

Lebih lanjut Luhut menjelaskan seusai kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo akan langsung meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan serta masalah asap di Palembang dan sejumlah daerah lainnya.

Presiden Jokowi lanjutnya tidak langsung kembali ke Jakarta tetapi mendarat di Palembang pada Jumat (30/10).

Dalam kesempatan yang sama Luhut Panjaitan mengatakan pemerintah akan menindak tegas perusahaan-perusahaan di daerah dimana ditemukan titik-titik api.

Selain itu perusahaan-perusahaan besar yang tidak memiliki sistem pemadaman yang sesuai dengan ketentuan yang ada juga akan ditindak. Dengan alasan ekonomi, Luhut belum mau memberitahu perusahaan mana saja yang telah ditindak tegas saat ini. Meski demikian dia berjanji akan mengumumkannya secepat mungkin.

“Kami terus terang, jujur ada pertimbangan-pertimbangan ekonomi karena kita tidak ingin menimbulkan distorsi yang akibatnya ada begini-begini, tapi anda percaya kami akan melakukan itu (mengumumkan),” lanjutnya.

Sebelumnya Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Skala Besar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi mendesak pemerintah agar dalam penanggulangan dan pemulihan kebakaran hutan dan lahan, pemerintah juga membebankan biaya operasi tersebut kepada seluruh perusahaan pemegang izin konsesi.

Kementerian Sosial menyatakan hingga saat ini 19 orang meninggal karena terpapar asap. Lima orang di Kalimantan Tengah, lima di Sumatera Selatan, lima di Riau, tiga di Kalimantan Selatan dan satu orang lainnya di Jambi.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan korban meninggal – baik akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun akibat terdampak kabut asap – akan diberi santunan kematian 15 juta rupiah.

Khofifah meminta pemerintah daerah harus lebih informatif membantu masyarakat terdampak asap.

Lebih jauh Khofifah meminta pemerintah daerah memperbarui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) setiap tiga puluh menit melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Ia juga meminta pemerintah daerah mengkomunikasikan kepada Bappeda dan para bupati, camat, ketua RW dan RT jika kabut asap sudah mulai tebal dan berwarna kuning. Warga diminta setia mendengarkan informasi mengenai hal ini melalui RRI.

“Kalau asapnya tebal agak kuning apakah bisa ibu-ibu di evakuasi di tempat yang ber AC, mereka tidak paham evakuasi itu apa. Maka harus disampaikan dengan bahasa yang mereka paham. Kalau sudah mulai pusing, mual cepat cari tempat yang aman atau proaktif pemdanya dan instansi yang lain pake pengeras suara misalnya ISPU sekian, cepat cari tempat yang aman,” lanjutnya.

Khofifah menyatakan telah mengevakuasi 3.600 orang – terutama perempuan dan anak-anak – suku pedalaman yang ada di Jambi, Pekanbaru dan Palembang.

Kementerian Sosial tambahnya juga akan mengirimkan makanan ke suku pedalaman karena berdasarkan informasi yang diterimanya mereka kekurangan pasokan makanan. [fw/eis]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG