Tautan-tautan Akses

Laporan HRW Ungkap Penangkapan dan Penyiksaan di Burundi


Sebuah mayat seorang pria yang tewas tergeletak di jalanan di ibukota Bujumbura, menjelang dimulainya pemilu Presiden di sana 21 Juli lalu (foto: dok).

Sebuah mayat seorang pria yang tewas tergeletak di jalanan di ibukota Bujumbura, menjelang dimulainya pemilu Presiden di sana 21 Juli lalu (foto: dok).

Sebuah laporan baru Human Rights Watch mengungkapkan terjadinya "serangkaian penangkapan sewenang-wenang dan penyiksaan" terhadap para aktivis anti pemerintah sejak bulan April.

Pembunuhan baru-baru ini terhadap mantan kepala keamanan Burundi dan percobaan pembunuhan atas seorang pemimpin hak asasi manusia terkemuka menggarisbawahi ketegangan di negara yang bergejolak ini.

Namun, sebuah laporan baru oleh organisasi HAM Human Rights Watch (HRW) juga mengungkapkan terjadinya "serangkaian penangkapan sewenang-wenang dan sejumlah penyiksaan" sejak bulan April. Dimulainya penangkapan dan penyiksaan ini bertepatan dengan meletusnya kekerasan untuk pertama kali, setelah Presiden Pierre Nkurunziza mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.

HRW mengatakan, "para pejabat intelijen, polisi, dan aktivis pemuda dari partai yang berkuasa di Burundi telah melakukan penangkapan sewenang-wenang dan penganiayaan terhadap puluhan yang diduga sebagai lawan (politiknya). Para pejabat menuduh sebagian besar para pemuda yang ditangkap mencoba untuk meninggalkan negara itu dan berencana untuk bergabung dengan pemberontakan bersenjata."

HRW menambahkan bahwa mereka "mendokumentasikan lebih dari 148 kasus antara bulan April dan Juli 2015 di empat provinsi dan di ibukota, Bujumbura, yang melibatkan pejabat intelijen, polisi, dan anggota liga pemuda Dewan Nasional yang berkuasa, yang dikenal sebagai "Imbonerakure". Sebagian besar kasus ini terjadi pada bulan Juni dan Juli. Banyak dari mereka yang ditangkap telah dipukuli, disiksa, atau diperlakukan dengan buruk."

Demikian menurut keterangan Carina Tertsakian, seorang peneliti senior Human Rights Watch di Burundi, melalui telepon dari London kepada VOA.

XS
SM
MD
LG