Tautan-tautan Akses

Hollywood Jajaki Distribusi Digital setelah Suksesnya 'The Interview'


Penonton mengantri di depan Silent Movie Theater sebelum pemutaran "The Interview" pada tengah malam selepas Rabu (24/12) di Los Angeles.

Penonton mengantri di depan Silent Movie Theater sebelum pemutaran "The Interview" pada tengah malam selepas Rabu (24/12) di Los Angeles.

Suksesnya pemutaran perdana 'The Interview' via jasa on-demand online bisa jadi mendorong perubahan pola distribusi film-film produksi studio besar Hollywood.

Konsumen mengucurkan $15 juta dalam waktu empat hari untuk menonton "The Interview" di televisi mereka di rumah, mengawali apa yang boleh jadi sebuah trend baru distribusi film-film dari studio Hollywood.

Tapi tampaknya Hollywood belum sepenuhnya siap menyajikan pilihan tersebut kepada para konsumen, menurut pakar. Walaupun begitu, sukses yang dicatat Sony Pictures dari streaming film komedi kontroversialnya tersebut akan menjadi momentum baru dari adopsi industri film terhadap trend on-demand yang sudah lazim bagi berbagai program hiburan televisi di Amerika.

Eksperimen tersebut, merupakan upaya Sony Corp untuk tetap merilis "The Interview" setelah serangan online terhadap studio tersebut dan ancaman bagi bioskop-bioskop, telah menunjukkan kepada publik bagaimana teknologi ini dapat melayani mereka dan responnya sejauh ini positif.

Hasil dari "The Interview" bisa mendorong studio-studio untuk memperpendek jarak waktu antara peluncuran film di bioskop dengan saat di mana film tersedia on-demand (atau dalam bentuk DVD). Situs-situs baru dapat bermunculan setelah suksesnya "The Interview" di situs seperti YouTube Movies yang dimiliki Google.

Kendala yang dihadapi untuk dapat mengulang sukses "The Interview" antara lain hubungan erat yang telah terjalin selama bertahun-tahun antara bioskop-bioskop dengan studio-studio Hollywood, dan kenyataan bahwa pemutaran film di bioskop masih mendatangkan banyak pemasukan.

"Tiga, lima tahun dari sekarang, sebagian besar pemasukan masih datang dari pemutaran di bioskop," ujar Hal Vogel, eksekutif di Vogel Capital Management.

Analis masih berhati-hati dalam menafsirkan kesuksesan "The Interview" dengan debutnya online, yang bisa jadi diakibatkan oleh kontroversi seputar film tersebut sebelum dirilis.

Tapi studio-studio telah bereksperimen dengan memperpendek "theatrical window," jarak antara pemutaran di bioskop dengan keluarnya DVD ataupun video on-demand, yang sekarang berkisar antara tiga bulan dan 14 hari.

"Dalam lima, 10 tahun mendatang, Anda akan melihat banyak perubahan," ujar Daniel Ernst, analis di Hudson Square Research. "Anda sudah melihat jarak waktunya berubah, dan jarak waktu yang ada ini seringkali tidak masuk akal, terutama bagi generasi digital saat ini."

Keuntungan lebih besar dari streaming

Studio-studio biasanya mengambil pemasukan lebih banyak dari pembelian online, sekitar 70 persen dari keuntungan, dibandingkan dengan 50 persen dari pemutaran di bioskop. Sony sendiri belum mengungkap skema pemasukan mereka dari "The Interview."

Namun sulit untuk mengetahui seberapa menguntungkan bisnis video on-demand karena biasanya studio-studio tidak mengungkap berapa banyak penghasilan mereka dari situs-situs online atau layanan TV kabel.

"Tidak ada transparansi, tidak seperti halnya box office," ujar Phil Contrino, analis di Boxoffice.com. "Tapi ini akan berubah, mudah-mudahan dalam waktu dekat."

Sebelum "The Interview," studio-studio telah meluncurkan film-film berbiaya rendah on-demand pada hari yang sama dengan rilis di bioskop, seperti "Snowpiercer" dari Radius-TWC milik The Weinsten Company, dan "Margin Call" dan "Arbitrage" dari Roadside Attractions Lions Gate Entertainment Corp.

"Arbitrage" meraup $8 juta dari pemutaran bioskop dan $14 juta lewat on-demand.

Jaringan-jaringan bioskop di Amerika memrotes rencana Universal Pictures untuk menyediakan komedi "Tower Heist" dalam layanan on-demand Comcast Corp hanya tiga minggu setelah mulai diputar di bioskop. Universal membatalkan rencana tersebut.

Namun upaya ke arah itu belum berhenti, terutama dengan semakin jarangnya remaja dan anak muda ke bioskop, menurut temuan Nielsen dan Motion Picture Association of America baru-baru ini.

Untungnya bagi industri film, 2015 akan menjadi tahun di mana film-film seperti "Star Wars" dan film ketujuh "Fast & Furious" akan mendorong orang untuk menonton di bioskop.

Tapi proyeksi ini mungkin berubah setelah pengalaman penggemar film dengan "The Interview."

"Ini semua kembali pada harapan dari konsumen, dan bagaimana jadinya bila Anda mengatakan kepada penonton 'Anda tidak bisa menontonnya di rumah sendiri lebih cepat,'" ujar Contrino.

XS
SM
MD
LG