Tautan-tautan Akses

Hidup Nyaman Berdampingan dengan Gunung Berapi

  • Nurhadi Sucahyo

Merapi (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Merapi (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Indonesia perlu belajar lebih banyak untuk dapat hidup nyaman berdampingan dengan gunung berapi. Meski menyimpan bahaya jika sedang aktif, gunung berapi adalah salah satu sumber kekayaan alam yang tak ternilai harganya.

Apa yang ada di atas kertas ketika anak-anak di Indonesia diminta oleh gurunya menggambar? Barangkali, mayoritas adalah gambar dua gunung berapi, persawahan dan jalan desa yang membelah pemandangan itu. Kepala Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, yang juga seorang ahli kegunungapian, Dr Surono, menilai fakta itu adalah bukti bahwa gunung api begitu dekat dengan masyarakat Indonesia, bahkan sejak berusia belia.

Sayangnya, hingga kini masyarakat masih memendam ketakutan terhadap gunung berapi, sehingga ketika mendengar status sebuah gunung dinaikkan potensi bahayanya, masyarakat cenderung was-was. Padahal, sebagai negara dengan lebih dari 120 gunung berapi di dalamnya, Indonesia adalah wilayah yang masyarakatnya akan selalu terkait dengan aktivitas vulkanik.

“Indonesia memiliki Gunung Berapi terbanyak di dunia. Mari kita syukuri, mari kita nikmati itu sebagai suatu karunia dari Tuhan Yang Maha Hebat. Kita harus mempelajari gunung api agar kita bisa bersikap arif terhadap gunung api. Mari, kita gunakan gunung api sebagai suatu media untuk mawas diri,” kata Surono.

Surono mencontohkan, sektor pariwisata Indonesia selalu merasa dirugikan dengan kenaikan status sebuah gunung. Padahal, banyak negara di dunia yang justru memanfaatkan aktivitas gunung api sebagai obyek wisata unggulan.

“Saya punya teman-teman di Perancis. Mereka hidup dan bersekolah sampai S3 itu dengan promosi mengantar orang Perancis berwisata gunung api di Indonesia. Nah, kita ini punya gunung api terbanyak di dunia, kok justru ketakutan tidak karuan. Padahal daerah yang subur itu daerah gunung api semua. Belasan ribu pulau di Indonesia jika tanpa gunung berapi itu hanya karang semua,” tambahnya.

Surono yang ditemui disela persiapan konferensi Cities on Volcanoes ke-8 di Yogyakarta menegaskan, bahaya gunung berapi dapat dipelajari, dan karena itu masyarakat sebenarnya tidak perlu khawatir.

Yogyakarta memang menjadi tuan rumah konferensi kota-kota di bawah gunung berapi sedunia ke-8 yang digelas selama 5 hari, yaitu sejak tanggal 9-13 September 2014. Cities on Volcanoes adalah konferensi yang khususnya dihadiri oleh pemerintah daerah di seluruh dunia yang memiliki gunung api aktif di wilayahnya.

Selain itu tentu saja hadir pula para pakar kegunungapian dan pihak-pihak yang terkait dengan penanganan bencana sebagai dampak aktivitas gunung berapi. Para peserta juga akan mengunjungi sejumlah gunung berapi di Indonesia, khususnya Merapi yang ada di Yogyakarta.

Menurut Noer Cholik, salah satu panitia konferensi ini, para peserta akan melihat langsung bagaimana masyarakat Indonesia hidup di bawah ancaman gunung api, termasuk menyaksikan dampak letusan Merapi terakhir yang terjadi tahun 2010 lalu.

“Merapi ini daya tariknya selain dari ilmu pengetahuan, di bidang pariwisata juga. Nah, kita ingin mengajak para ilmuwan yang datang ke konferensi ini untuk ikut naik ke Merapi, karena belum tentu mereka pernah naik. Kita ajak merena naik ke Merapi, kita tunjukkan alat monitoring yang kita pasang di Merapi. Kemudian kita tunjukkan bagaimana kegiatan sehari-hari yang kita lakukan untuk pemantauan Merapi,” kata Noer.

Pertemuan-pertemuan dalam konferensi kota ini akan disatukan dalam tema besar yaitu hidup harmonis bersama gunung berapi, menjembatani kehendak alam kepada masyarakat. Sebanyak 540 peserta dari 42 negara dipastikan hadir.

XS
SM
MD
LG