Tautan-tautan Akses

Gagal Jantung, Harimau Sumatera Mati di KBS Surabaya

  • Petrus Riski

Seekor harimau Sumetera koleksi KBS Surabaya beristirahat di kandangnya (VOA/Petrus).

Seekor harimau Sumetera koleksi KBS Surabaya beristirahat di kandangnya (VOA/Petrus).

Koleksi satwa Kebun Binatang Surabaya berkurang, setelah seekor harimau Sumatera jantan mati, Minggu (10/4) malam akibat gagal jantung.

Harimau Sumatera jantan berumur 16 tahun yang bernama Rama ditemukan mati di kandangnya, diduga akibat gagal jantung. Harimau kelahiran Kebun Binatang Surabaya ini mati setelah dua minggu sebelumnya menunjukkan tanda-tanda penurunan nafsu makan.

Dokter satwa di Kebun Binatang Surabaya drh Irmanu Ommy mengungkapkan gagal jantung yang dialami Rama tidak terdekteksi sebelumnya karena perilaku sehari-hari masih normal dan tidak menunjukkan sakit secara fisik.

“Dia diketahui dua minggu sebelumnya mempunyai perilaku yang berbeda dengan teman-teman yang lain, jadi dia tidak mau makan, kemudian makannya itu harus dikasi penanganan khusus lebih lanjut,” tutur Irmanu.

Pasca diambil alih Pemerintah Kota Surabaya melalui Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya, pembenahan dan pendataan terhadap satwa terus dilakukan. Termasuk vaksinasi rutin terhadap semua satwa, termasuk pada harimau dan singa.

Dirut PDTS KBS Aschta Tajudin menunjukkan gambar kondisi terakhir Rama, harimau Sumatera koleksi KBS yang mati akibat gagal jantung (VOA/Petrus).

Dirut PDTS KBS Aschta Tajudin menunjukkan gambar kondisi terakhir Rama, harimau Sumatera koleksi KBS yang mati akibat gagal jantung (VOA/Petrus).

Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) Aschta Boestani Tajudin mengatakan pendataan dan pemeriksaan kesehatan satwa secara menyeluruh menjadi program utama pembenahan KBS, meski diakui hasil pencatatan menyebutkan masih banyak satwa yang mengalami gangguan kesehatan.

Aschta menjelaskan, “Itu rutin, terutama kucing (besar) itu ya paling rentan itu penyakit kaya' flu, makanya dia harus vaksinasinya regular, kalau gak salah sebulan sekali harus vaksin.”

Kasus kematian harimau sumatera KBS akibat gagal jantung merupakan salah satu dari dampak lemahnya manajemen populasi satwa di masa lalu. Over populasi satwa yang saat ini dihadapi harus segera diatasi, agar kesejahteraan satwa dapat lebih ditingkatkan. Dari 15 hektar luas lahan KBS, idealnya dihuni sekitar 700 satwa, namun jumlah satwa saat ini mencapai 2.400.

Pengurangan populasi satwa harus segera dilakukan, sehingga perkawinan antar keturunan tidak terus terjadi, dan berdampak pada kematian satwa. Aschta Tajudin menegaskan, satwa baru harus didatangkan menggantikan satwa lama, agar keanekaragaman spesies dapat diwujudkan demi kesejahteraan satwa.

"Dari beberapa catatan kita tahu bahwa harimau sumatera dan singanya KBS ini hampir lho finished, kalau tidak dilakukan fresh blood. Jadi harus ada pengeluaran, dari sekarang perlu dikeluarkan,” imbuh Aschta.

Kematian harimau Sumatera koleksi KBS menimbulkan keprihatinan warga Surabaya karena keberadaan satwa di KBS merupakan daya tarik pengunjung dari berbagai daerah.

Clarinsa, pengunjung KBS asal Surabaya mengatakan manajemen KBS harus lebih memperhatikan kesejahteraan satwa supaya kematian satwa secara tidak wajar dapat dihindari.

“Harapannya supaya para pengurus disini, para petugas disini lebih perhatian lagi, lebih merawat lagi dengan hewan-hewan yang lain, jadi gak cuma harimau saja yang dirawat, ini juga sebagai pelajaran buat (satwa) yang lainnya,” ujar Clarinsa. [pr/em]

XS
SM
MD
LG