Tautan-tautan Akses

AS

Hari Thanksgiving Bawa Ketenangan bagi Ferguson


Pendeta Tommie Pierson dalam kebaktian Hari Thanksgiving yang membahas tentang reaksi warga terhadap kasus Michael Brown di Ferguson, Missouri, 27 November 2014.

Pendeta Tommie Pierson dalam kebaktian Hari Thanksgiving yang membahas tentang reaksi warga terhadap kasus Michael Brown di Ferguson, Missouri, 27 November 2014.

Setelah terjadi kekerasan dan ketegangan beberapa hari, Thanksgiving atau “Hari Bersyukur” telah membawa ketenangan bagi Ferguson.

Ferguson, kota kecil di pinggiran kota St. Louis, Missouri, menjadi pusat perhatian dunia ketika penembakan terhadap seorang remaja kulit hitam tak bersenjata oleh polisi kulit putih bulan Agustus lalu mengakibatkan protes yang berubah menjadi kekerasan. Insiden itu memunculkan isu-isu rasial terpendam mengenai kecurigaan berdasarkan ras oleh polisi. Hari Senin, dewan juri mengumumkan bahwa polisi Darren Wilson tidak akan dikenai dakwaan karena menembak mati Michael Brown, sehingga mengakibatkan kekerasan yang lebih besar.

Gereja Santo Markus di Ferguson berada tidak jauh dari salon kecantikan yang dibakar habis hari Senin. Gereja itu telah digunakan sebagai tempat berlindung sejak Agustus lalu, ketika kekerasan pertama meletus di Ferguson. Para pengunjuk rasa berkumpul di tempat itu untuk mengikuti pelatihan dalam aksi non-kekerasan. Polisi datang ke gereja itu untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat. Umat yang menghadiri kebaktian “Hari Bersyukur” Kamis ini tidak banyak. Pendeta Tommie Pierson mengacu pada peristiwa yang telah mengubah komunitasnya.

“Jalannya tidak selalu mulus bagi kita, dan ada beberapa hal yang harus kita mengerti, dan yang juga haru dimengerti oleh orang lain. Saya berharap bahwa komisi yang dibentuk oleh gubernur ini akan memahami bahwa kita tidak bisa mengharapkan orang lain bertindak seperti cara kita bertindak ketika orang lain itu belum pernah sampai pada tingkat pendidikan yang telah kita terima.”

Anggota jemaat gereja itu patuh pada setiap kata yang disampaikannya. Pendeta Pierson mengatakan membakar rumah seseorang karena kemarahan adalah tindakan yang bodoh. Pesan ini dimengerti dengan baik oleh seorang penduduk setempat bernama Marie McGee.

“Toko pertama yang dibakar itu adalah tempat yang saya kunjungi hampir setiap pagi untuk membeli kopi.”

Marie McGee tidak bisa pergi ke tempat itu lagi; tetapi ia berharap tragedi kehancuran lingkungan itu akan menjadi pelajaran sehingga keanggotaan kepolisian mencerminkan susunan rasial masyarakat, dan baik polisi, maupun masyarakat bisa belajar bagaimana memperlakukan satu sama lain.

Harapan yang sama juga disampaikan oleh warga lainnya, seperti Loretha Cain, seorang mahasiswi yang beribadah di gereja itu setiap hari Minggu.

Gubernur negara bagian Missouri telah membentuk komisi beranggotakan 16 orang untuk mempelajari masalah mendasar terkait kecurigaan berdasarkan ras. Langkah gubernur ini memberikan harapan bagi Pendeta Pierson.

“Saya tahu sejumlah orang dalam komisi itu. Mereka adalah orang-orang baik. Mereka adalah orang-orang beriman, dan saya kita iman akan membantu mengatasi kesulitan ini dan memungkinkan mereka untuk melakukan yang terbaik demi kepentingan warga,” ujar Pierson.

Sementara itu, protes-protes yang dimulai dari kota kecil Ferguson telah menyebar ke seluruh pelosok Amerika. Banyak orang berharap hal itu akan menjurus pada perubahan sikap dalam skala yang lebih besar.

XS
SM
MD
LG