Tautan-tautan Akses

Hari Pusaka Dunia, Puluhan Anak SD di Solo Belajar Aksara Jawa Kuno

  • Yudha Satriawan

Peringatan Hari Pusaka Dunia 'World Heritage Day' di salah satu bangunan cagar Budaya, kompleks Museum Radya Pustaka, Solo, 18 April 2014 (Foto:VOA/Yudha Satriawan)

Peringatan Hari Pusaka Dunia 'World Heritage Day' di salah satu bangunan cagar Budaya, kompleks Museum Radya Pustaka, Solo, 18 April 2014 (Foto:VOA/Yudha Satriawan)

Dalam rangka memperingati Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) yang dirayakan hari ini, Jumat (18/4), puluhan anak siswa Sekolah Dasar di Solo menggelar aksi belajar aksara Jawa kuno di sebuah museum cagar budaya.

Seorang guru berbusana adat Jawa, memakai beskap dan blangkon kain penutup kepala khas Solo, mengajar sekitar 50 anak siswa Sekolah Dasar berbagai wilayah di Solo, Jumat siang (18/4). Mereka belajar mengenal aksara Jawa Kuno di salah satu bangunan cagar Budaya, kompleks Museum Radya Pustaka Solo.

Puluhan anak tersebut belajar menulis, mengeja, dan membaca aksara jawa kuno. Salah seorang anak SD di Solo, Uliya, mengaku susah menulis aksara Jawa. Namun bagi Uliya, sangat penting mengenal budaya tradisional.

“Ya gampang-gampang susah belajar Aksara Jawa. Di sekolah juga sudah diajarkan setiap minggu. Perlu ditambah lagi jam belajarnya supaya lebih paham, karena bisa untuk menambah pengetahuan, tentang aksara Jawa Kuno, menulisnya. Kita kan hidup di Jawa,” kata Uliya.

Juru bicara aksi tersebut, Heru Prasetya mengatakan aksi ini untuk merayakan Hari Pusaka Dunia atau World Heritage Day. Menurut Heru, Aksara Jawa Kuno sebagai salah satu budaya tradisional terancam punah.

"Jadi hari ini kan tepat perayaan hari pusaka dunia, 18 April. Kita mengajak anak-anak dari berbagai SD di kota Solo untuk sinau atau belajar bersama tentang Aksara Jawa kuno. Kita gelar di teras Museum radyapustaka Solo, salah satu cagar budaya. Jadi ini salah satu langkah kita bahwa aksara jawa kuno itu akan semakin dilupakan, padahal ini budaya tradisional yang harus terus dilestarikan. Jangan sampai hilang ataupun punah, " kata Heru Prasetya.

Menurut Hari Prasetya, dengan mengajak anak-anak untuk kembali mengenal dan mencintai aksara Jawa kuno, akan menimbulkan rasa memiliki bahwa aksara Jawa kuno ini menjadi kekayaan bangsa. "Saya pikir, pembelajaran akasara jawa di sekolah dengan durasi waktu 2 jam setiap minggu itu sangat kurang, mereka terus menerus menggali dan mengenal aksara Jawa kuno. Harapan kami ya hari ini ana-anak kita ajak secara gembira menulis dan membaca aksara Jawa,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang pengajar Aksara Jawa tingkat SD di Solo, Joko Prayitno mengungkapkan perlunya mengenalkan budaya tradisional daerah sejak usia dini.
“Jawa itu sendiri menjadi kekayaan budaya nasional yang besar. Memiliki aksara Jawa kuno, lambang peradaban sosial masyarakat masa lalu, dengan ditulis satu per satu, kemudian diperkenalkan seperti yang sekarang ada ini, sehingga anak-anak itu bisa mengenal lebih dekat,” kata Joko Prayitno.

Solo sejak beberapa tahun silam sudah mengeluarkan aturan pemasangan aksara jawa kuno pada setiap bangunan, jalan, ruang publik, dan sebagainya sesuai dengan nama atau identitasnya.

Namun belum semua instansi atau lembaga mematuhi aturan pemerintah kota Solo tersebut. Padahal pemkot Solo menyediakan tim konsultasi penulisan aksara Jawa kuno sesuai identitas instansi secara gratis untuk menghindari kesalahan penulisan.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG