Tautan-tautan Akses

AS

Hari Perempuan Internasional: Imbauan Cuti, Soroti Peran dalam Perekonomian


Situs WomensMarch.com menampilkan seruan untuk bergabung dalam aksi "A Day Without a Woman" atau “Sehari Tanpa Perempuan” pada hari Rabu, 8 Maret 2017, memperingati hari Perempuan Internasional.

Jutaan perempuan turun ke jalan-jalan di Amerika Serikat dan di berbagai negara lainnya untuk menyoroti kesenjangan upah dan gaji, diskriminasi dan berbagai tantangan sosial lainnya dalam demonstrasi besar-besaran bulan Januari lalu.

Banyak yang berharap isu-isu serupa kembali menjadi sorotan pada Hari Perempuan Internasional, Rabu (8/3). Kali ini, dengan tinggal di rumah sebagai bagian dari aksi “A Day Without a Woman” atau “Sehari Tanpa Perempuan”.

Tak banyak yang lupa akan foto-foto atau gambar peristiwa 21 Januari lalu, di mana puluhan ribu perempuan berkumpul di ibukota Amerika, sehari setelah pelantikan Presiden Donald Trump, untuk menuntut kesetaraan peluang.

Bagi Vanessa Cardenas, ibu dua anak, demonstrasi itu hanyalah permulaan dalam upaya menyoroti perjuangan bagi perempuan yang terus berlangsung.

"Menurut saya, perempuan di Amerika Serikat telah mencapai banyak hal, tetapi kita masih belum mendobrak penghalangan, baik menjadi presiden Amerika Serikat atau memiliki kesetaraan upah, atau misalnya, memastikan kitalah yang mengontrol tubuh kita sendiri, karena kita masih harus memperjuangkannya sekarang ini,” kata Vanessa Cardenas.

Perempuan di berbagai penjuru dunia didorong untuk mengambil cuti pada hari Rabu dari pekerjaan yang dibayar maupun tidak, untuk menunjukkan kekuatan ekonomi mereka.

Cardenas mengatakan ia akan berbelanja di toko-toko milik perempuan untuk menunjukkan dukungannya. Tetapi ia masih tetap akan bekerja di Emily’s List, untuk membantu lebih banyak lagi perempuan yang pro-choice atau mendukung hak-hak perempuan dari kalangan Demokrat yang terpilih sebagai pejabat publik.

"Jumlah kita lebih dari separuh penduduk negara ini, tetapi sekarang kita hanya diwakili kurang dari 20 persen di Kongres, ini belum cukup. Kita tidak akan memiliki kebijakan yang mendukung perempuan, yang mendukung keluarga, yang mendukung perekonomian kita dengan kemampuan terbaik mereka sebelum kita memiliki perempuan dan lelaki dalam jumlah sama banyak di pemerintahan,” jelas Rachel Thomas, dari Emily’s List.

Karin Agness, pendiri kelompok perempuan konservatif Network of Enlightened Women, setuju mengenai perlunya kesetaraan gender. Tetapi ia mengatakan aksi hari Rabu mengecualikan dirinya dan memberi pesan yang keliru.

"Perempuan telah mencapai kemajuan yang sangat besar dan sebagai perempuan muda saya frustrasi karena gerakan perempuan sekarang ini benar-benar masih melihat perempuan sebagai korban, dan sebagai kelompok korban yang perlu bantuan pemerintah untuk mengatasi masalahnya,” kata Karin Agness.

Tidak ada yang dapat memperkirakan seberapa besar massa perempuan yang akan berpartisipasi dalam demonstrasi Januari lalu.

Juga sukar untuk menyatakan berapa banyak yang akan menyampaikan pesan serupa dengan tidak masuk kerja pada hari Rabu ini. [uh/as]

XS
SM
MD
LG