Tautan-tautan Akses

Hari Difabel Internasional, Solo Luncurkan Bus Ramah Difabel

  • Yudha Satriawan

Warga difabel dibantu menaiki bus di Solo. (VOA/Yudha Satriawan)

Warga difabel dibantu menaiki bus di Solo. (VOA/Yudha Satriawan)

Pemerintah kota Solo meluncurkan dua bus yang dilengkapi fasilitas untuk penyandang disabilitas atau difabel.

Dua buah bus bergambar wayang orang dan bertuliskan BEGAWAN ABIYOSO terparkir di depan kantor Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC Solo), Jl. Slamet Riyadi Solo, Selasa sore (3/12).

Dua bus tersebut dilengkapi lempengan besi di pintu masuk bus dan deretan sabuk pengaman tanpa kursi untuk penumpang berkursi roda. Satu per satu, para siswa dari YPAC memasuki bus tersebut.

Salah seorang guru YPAC Solo, Sugian Noor, yang ikut dalam rombongan bus tersebut mengaku senang ada bus yang didesain khusus untuk penyandang difabel. Sugian berharap aksesibilitas bagi penyandang difabel di Solo ke ruang publik dan memakai transportasi umum ramah difabel di Solo semakin meningkat.

“Kami sangat senang ada bus khusus difabel ini. Busnya nyaman, ada pendingin udaranya, dan ruangannya luas dilengkapi ram untuk penumpang berkursi roda. Tapi ya pas saya mau masuk ke dalam bus ram-nya agak ketinggian. Perlu bantuan orang lain untuk mendorong. Padahal selama ini kan aksesibilitas fasilitas ramah difabel seharusnya fasilitas tersebut bisa diakses penyandang difabel dengan mudah, tanpa bantuan orang lain, secara mandiri,” ujarnya.

“Lha ini tadi pas masuk kursi roda saya harus didorong, ramnya masih terlalu tinggi. Kursi roda saya berhenti karea tidak kuat menanjak lagi. Ini kan berbahaya. Perlu direndahkan lagi ketinggian ram pintu masuk bus ini.”

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemkot Solo, Yosca Herman mengatakan, dua bus tersebut akan digunakan sebagai bus wisata. Menurut Yosca, Pemkot Surakarta secara bertahap akan melengkapi fasilitas di dalam bus yang ramah bagi penyandang difabel, terutama untuk penyandang tunanetra dan tuna rungu.

“Ini kan tergolong bus low deck. Bus ini tidak bisa melewati perlintasan kereta api. Ini memang tergolong bus ukuran besar, hanya bisa digunakan di jalur tertentu. Untuk manuver atau membelok saja butuh jalanan di tempat yang luas. Ya ini nantinya akan kita gunakan untuk bus wisata, baik wisata khusus untuk para penyandang difabel atau untuk umum, kan sudah dilengkapi perlengkapan untuk penyandang difabel,” ujarnya.

Masing-masing bus tersebut berkapasitas sekitar 40 penumpang. Di bagian depan ada deretan 10 kursi kemudian di bagian tengah ada 10 sabuk pengaman tanpa kursi, untuk penumpang berkursi roda dan bagian belakang deretan 10 kursi untuk penyandang tunanetra dant tunarungu.

Salah seorang penumpang penyandang tunanetra, Umi, mengaku senang dengan adanya bus tersebut. Namun Umi berharap bus ini dilengkapi huruf Braille untuk tulisan penunjuk kursi penumpang dan rekaman suara penunjuk lokasi pemberhentian atau halte.

“Ya saya senang sekali ada bus ini, sangat nyaman. Ada teman-teman saya di sini. Ya kalau bisa dilengkapi panel atau tombol petunjuk berhuruf Braille atau suara petujuk lokasi pemberhentian, jadi kita tahu lokasi sedang dimana dan berhenti di mana,” ujarnya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG