Tautan-tautan Akses

Hari Bebas Tembakau Sedunia Fokus pada Perdagangan Gelap Tembakau


Peserta kampanye anti-tembakau berpose sebum memulai acara mereka untuk memperingati "Hari Bebas Tembakau Sedunia" di Kalkuta, India, 31 Mei 2015. (REUTERS/Rupak De Chowdhuri)

Peserta kampanye anti-tembakau berpose sebum memulai acara mereka untuk memperingati "Hari Bebas Tembakau Sedunia" di Kalkuta, India, 31 Mei 2015. (REUTERS/Rupak De Chowdhuri)

Pada Hari Bebas Tembakau Sedunia tanggal 31 Mei, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memusatkan perhatian pada perdagangan gelap tembakau, yang mencakup pembelian atau pembuatan produk tembakau secara murah yang berarti penghematan bagi para konsumen.

Brian King berbicara di Milken School of Public Health di George Washington University. WHO mengatakan perdagangan gelap produk-produk tembakau merugikan negara sekitar 31 milyar dolar per tahun. Padahal uang itu bisa digunakan untuk layanan kesehatan umum, memberantas kejahatan dan membatasi sumber pendanaan penting bagi industri tembakau.

WHO melaporkan penyakit-penyakit terkait tembakau merupakan salah satu ancaman publik terbesar yang pernah dihadapi dunia. Hampir satu orang meninggal setiap enam detik akibat penyakit-penyakit terkait tembakau, atau sama dengan hampir enam milyar orang per tahun. Perkiraan ini akan meningkat menjadi lebih dari delapan milyar orang per tahun pada tahun 2030.

Berbagai studi menunjukkan sebagian besar kematian atau lebih dari 80% kematian terjadi di antara orang-orang yang hidup di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

“Seluruh aspek perdagangan gelap itu merusak upaya penting pengendalian tembakau yaitu menaikkan harga produk-produk tembakau. Kita tahu kenaikan harga produk tembakau merupakan satu-satunya cara yang paling efektif untuk mengurangi konsumsi. Dengan demikian jenis perdagangan gelap ini merusak kebijakan penting yang diketahui bisa mengurangi konsumsi tembakau,” ujar King.

Pemberantasan perdagangan gelap tembakau akan menghasilkan pajak tahunan sangat besar bagi pemerintah yaitu sekitar 31 milyar dolar, yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesehatan publik, membantu pemberantasan kejahatan dan membatasi sumber pendapatan penting bagi industri tembakau.

Hal-hal ini merupakan isu utama “Hari Tanpa Tembakau Sedunia” tanggal 31 Mei ketika WHO mendesak negara-negara anggotanya untuk menandatangani “Protokol Pemberantasan Perdagangan Gelap Produk-Produk Tembakau.”

Sejauh ini delapan negara telah meratifikasi protokol tersebut, jauh lebih sedikit dari target 40 negara yang dibutuhkan untuk meloloskannya menjadi UU internasional. Begitu terwujud, ketentuan-ketentuan protokol mengenai pengamanan rantai pasokan, peningkatan kerjasama internasional dan perlindungan-perlindungan lainnya juga akan diberlakukan.

Protokol itu merupakan perjanjian internasional yang dirundingkan sendiri oleh para utusan untuk Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau (WHO FCTC) yang telah diratifikasi oleh 180 negara. Pasal 15 protokol itu mengharuskan penandatanganan protokol itu untuk memberantas semua bentuk perdagangan gelap produk-produk tembakau.

Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau (WHO FCTC) mulai diberlakukan tahun 2005. Negara-negara yang telah menandatangani protokol itu lambat laun berkewajiban mengambil langkah-langkah mengurangi permintaan dan pasokan produk-produk tembakau, termasuk melindungi orang dari paparan asap tembakau, menangkal perdagangan gelap, melarang iklan, promosi dan sponsor. (EM)

XS
SM
MD
LG