Tautan-tautan Akses

Harga Minyak Turun di Bawah $27, Terendah sejak 2003


Sebuah fasilitas penyulingan minyak di selatan Teheran, Iran (foto: dok). Dicabutnya sanksi internasional atas Iran akan semakin mendorong jatuhnya harga minyak akibat jumlah pasokan global minyak mentah yang berlebihan.

Sebuah fasilitas penyulingan minyak di selatan Teheran, Iran (foto: dok). Dicabutnya sanksi internasional atas Iran akan semakin mendorong jatuhnya harga minyak akibat jumlah pasokan global minyak mentah yang berlebihan.

Harga minyak berjangka AS jatuh di bawah $ 27 dolar per barel pada Rabu (20/1) untuk pertama kalinya sejak tahun 2003, mengikuti kemerosotan yang luas di seluruh pasar keuangan dunia.

Harga minyak kembali turun hari Kamis (21/1) sementara para analis mengatakan bahwa surplus minyak global akan terus menekan harga minyak di pasaran.

Harga minyak berjangka AS jatuh di bawah $ 27 dolar per barel ($26,55 per barel atau turun $1,91) pada Rabu (20/1) untuk pertama kalinya sejak tahun 2003, mengikuti kemerosotan yang luas di seluruh pasar keuangan dunia.

Para investor khawatir bahwa kelebihan dalam jumlah besar pasokan minyak mentah dunia bertepatan dengan perlambatan ekonomi, terutama di China.

Sentimen pasar tetap berpandangan bahwa harga minyak masih akan turun, sementara produsen di seluruh dunia memompa 1 juta - 2 juta barel minyak mentah setiap hari melebihi jumlah permintaan.

Harga minyak kembali turun setelah sempat beranjak naik pada sesi awal perdagangan hari Kamis.

Patokan internasional minyak Brent turun 9 sen menjadi $ 27,79/barel, setelah sempat turun pada tingkat terendah sejak tahun 2003 pada sesi perdagangan sebelumnya.

Selain kekhawatiran tentang kelebihan pasokan global, juga berkembang kekhawatiran bahwa perekonomian China bisa melambat lebih lanjut dan konsumen minyak terbesar kedua di dunia tersebut akan memangkas permintaan.

"Harga komoditas dan minyak yang lebih rendah mencerminkan melemahnya permintaan," menurut analis bank Inggris 'HSBC' hari Kamis.

Sementara bank Australia dan Selandia Baru (ANZ Bank) mengatakan harga minyak kemungkinan besar akan kembali mendapat tekanan, setelah rilis data resmi mengenai jumlah stok minyak AS oleh U.S. Energy Information Administration.

Sementara itu, Venezuela telah meminta OPEC agar menggelar pertemuan darurat guna membahas langkah-langkah untuk mendongkrak harga minyak, meskipun delegasi dari negara-negara anggota kartel minyak itu mengatakan bahwa pertemuan tersebut tidak akan mungkin dilakukan. [pp]

XS
SM
MD
LG