Tautan-tautan Akses

Harga Minyak Dunia Naik Tajam

  • Ron Corben
  • Wita Sholhead

Seorang pekerja menghitung uang di pompa bensin di Mumbai, India. Kenaikan harga minyak mengakibatkan inflasi di Asia.

Seorang pekerja menghitung uang di pompa bensin di Mumbai, India. Kenaikan harga minyak mengakibatkan inflasi di Asia.

Harga minyak dunia naik dengan cepat, didorong oleh naiknya tingkat permintaan global dan melemahnya dolar Amerika.

Di pasar Asia minggu ini, harga minyak memuncak mencapai 91 dolar per barel, dan diperkirakan akan naik sampai 100 dolar dalam beberapa minggu ke depan. Dalam bulan September, minyak diperdagangkan pada 75 dolar per barel.

Kenaikan cepat harga minyak ini terjadi walaupun beberapa negara besar, khususnya Uni Eropa, masih bergulat dengan perekonomian yang lemah.

Jason Feer, analis pada Argus Media, pialang sektor minyak dan energi, mengatakan beberapa faktor menyebabkan kenaikan itu, khususnya naiknya permintaan bahan bakar pemanas selama musim dingin di utara dan pemogokan baru-baru ini di Prancis yang mengakibatkan ditutupnya kilang-kilang minyak, dan turunnya pasokan minyak dari Atlantik Utara.

Perkiraan tingginya permintaan di Asia, di mana pertumbuhan ekonomi negara-negara tinggi, dan naiknya permintaan di Amerika menambah tekanan-tekanan harga.

Feer mengatakan, “Data-data ekonomi menunjukkan adanya konsensus umum bahwa kegiatan ekonomi Amerika tidak terpengaruh seburuk seperti yang terjadi sebelumnya, dan permintaan mungkin naik. Negara-negara Asia tentu saja dapat melalui resesi besar dengan baik. Jadi permintaan naik di Asia. Menurut saya kondisi ini mungkin lebih baik dari yang diperkirakan banyak orang. Jadi situasinya bersifat klasik, di mana ada permintaan di situ ada penawaran.”

Lemahnya mata uang dolar AS ikut memicu kenaikan harga minyak.

Lemahnya mata uang dolar AS ikut memicu kenaikan harga minyak.

Para analis pasar mengatakan lemahnya dolar Amerika juga mendorong kenaikan harga, karena minyak diperdagangkan dalam dolar. Diperkirakan dolar akan melemah lebih jauh dalam tahun 2011 akibat defisit perdagangan dan anggaran Amerika.

Industri penerbangan bersiap-siap menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi.

Albert Tjoeng, manajer korporasi bidang perhubungan di Asia untuk Asosiasi Transportasi Udara internasional, mengatakan harga bahan bakar yang lebih tinggi akan menaikkan biaya sebesar 156 miliar dolar bagi industri itu secara global dalam tahun 2011 dari 139 miliar dolar tahun lalu.

Inflasi akibat kenaikan harga minyak akan berdampak negatif pada kelompok miskin.

Inflasi akibat kenaikan harga minyak akan berdampak negatif pada kelompok miskin.

Harga bahan bakar yang tinggi yang diikuti dengan kenaikan harga komoditi lain, seperti biji-bijian, meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya inflasi di Asia.

Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP) mengatakan tingginya harga bahan bakar dan pangan khususnya akan berdampak negatif pada kelompok miskin di kawasan itu yang berjumlah 950 juta orang.

Namun, dalam laporan baru-baru ini, UNESCAP mengatakan keseluruhan inflasi tidak akan cukup untuk memperlamban pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia, yang diperkirakan akan tumbuh sekitar 7 persen tahun ini. Perkiraan itu lebih rendah dari pertumbuhan tahun 2010 yang mencapai 8,3 persen.

XS
SM
MD
LG