Tautan-tautan Akses

Hampir 700 Meninggal Akibat Gelombang Panas di Pakistan


Warga menerima air minum dari sukarelawan di meja yang digelar di luar Jinnah Postgraduate Medical Center (JPMC) di tengah panas terik di Karachi, Pakistan (23/6). (Reuters/Akhtar Soomro)

Warga menerima air minum dari sukarelawan di meja yang digelar di luar Jinnah Postgraduate Medical Center (JPMC) di tengah panas terik di Karachi, Pakistan (23/6). (Reuters/Akhtar Soomro)

Sebagian besar yang meninggal dilaporkan di Karachi, kota terbesar negara itu dan pusat perniagaannya.

Hampir 700 orang telah meninggal dalam gelombang panas di provinsi Sindh, Pakistan selatan, sementara kamar-kamar mayat kebanjiran jenazah dan membuat rumah sakit kewalahan membantu orang-orang yang masih hidup.

Sebagian besar yang meninggal dilaporkan di Karachi, kota terbesar negara itu dan pusat perniagaannya.

Pemerintah provinsi Sindh mengeluarkan keadaan darurat medis setelah jaringan kabel transmisi listrik macet, yang mengakibatkan pemadaman luas sementara suhu naik ke atas 43 derajat Celsius.

Pernyataan yang dikeluarkan kantor Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif mengatakan Badan Pengelola Bencana Nasional telah diperintahkan memulai usaha pertolongan.

Sementara itu, para tokoh oposisi mengecam pemerintah dan menuduh jatuhnya korban jiwa disebabkan pemadaman bergilir akibat kekurangan listrik. Mereka menuntut peletakan jabatan Menteri Perairan dan Tenaga Listrik Khwaja Asif, serta wakilnya Abid Sher Ali.

Asif mengatakan aliran listrik di Karachi disediakan oleh perusahaan swasta, Karachi Electric, yang tidak dapat dikendalikan oleh pemerintah federal.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG